RAMADHAN menjadi kesempatan untuk kembali hangatkan suasana di rumah. Dalam pandangan Islam, keluarga bukan hanya tempat berkumpulnya suami, istri, dan anak. Lebih dari itu, inilah satuan kekerabatan yang begitu penting dalam menentukan arah peradaban.
Bahkan, visi agama ini tentang keluarga tidak cuma berkaitan aspek duniawi, melainkan juga ukhrawi. "Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu" (QS at-Tahrim: 6).
Ramadhan menjadi kesempatan untuk lebih menghadirkan kehangatan di dalam rumah. Keluarga Muslim seyogianya memanfaatkan bulan suci untuk semakin rutin beribadah bersama. Itu pun bisa dilakukan sembari memakmurkan masjid bersama masyarakat.
Betapa menentukannya peran kepala keluarga dan istri dalam merawat keharmonisan di dalam rumah. Apabila keduanya telah memiliki anak, maka fungsinya lebih penting lagi, yakni sebagai ayah dan ibu. Mereka adalah pembimbing utama buah hati.
Selama Ramadhan, orang tua dapat lebih berperan, antara lain, untuk memperkenalkan ibadah-ibadah khas bulan ini kepada anak-anak. Apabila putra atau putri belum menapaki usia akil baligh, maka bimbingan itu dapat bersifat latihan. Misalnya, ajak mereka untuk berpuasa walau tidak menjadi sebuah kewajiban.
Sebaliknya, apabila anak-anak sudah sampai taraf remaja atau dewasa, mereka dapat dipersilakan untuk lebih tampil. Misalnya, menjadi imam shalat tarawih berjamaah di rumah atau memimpin tadarus Alquran.
Ramadhan menjadi saat-saat untuk kembali menautkan hati ke masjid. Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW memuji generasi muda yang mencintai tempat ibadah Islam tersebut. Maka, ayah maupun bunda dapat lebih mengarahkan putra-putrinya untuk lebih sering beribadah jamaah di sana.
Tentunya, tidak sekadar kata-kata nasihat. Untuk lebih menghangatkan hubungan antara orang tua dan buah hati, rutinkanlah berangkat bersama-sama ke masjid, lalu habiskan lebih banyak waktu di sana. Beberapa momen, semisal shalat Tarawih, iktikaf, atau malam Nuzulul Qur'an, dapat menjadi kesempatan untuk semakin meningkatkan rasa keterikatan keluarga pada rumah Allah.
Rasulullah SAW bersabda, yang artinya, ”Apabila kamu melihat seseorang biasa pergi ke masjid, maka saksikanlah ia benar-benar beriman.Sebab, sesungguhnya Allah Ta'ala berfirman (yang artinya) 'Sesungguhnya hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir.'"
Oleh karena itu, kesadaran akan pentingnya memakmurkan masjid ini harus dimulai sejak dini, terutama para anak-anak dan remaja. Di sinilah, sekali lagi, pentingnya peran orang tua.
Keluarga merupakan madrasah pertama dan utama bagi anak-anak yang dilahirkan. Orang tua merupakan guru, pendidik, dan teladan (role model) yang pertama dan utama.
Segala perilaku anak selama di dunia adalah tanggung jawab orang tuanya. Termasuk mendidik, dan mengasihi seorang anak itu adalah tanggung jawab orang tuanya. Dengan demikian, maka memberikan pengetahuan agama terhadap anak, merawat dan memberikan kasih sayang juga merupakan kewajiban orang tua terhadap anak.
Rasulullah SAW bersabda, "Kamu sekalian adalah pemimpin dan kamu akan ditanya tentang kepemimpinanmu. Suami adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Istri adalah pemimin dalam rumah tangga suaminya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya" (HR Bukhari).
Setidaknya ada delapan kewajiban orang tua terhadap anak dalam Islam. Pertama, memberi nama yang baik. Sesuai hadis Nabi yang artinya: "Sesungguhnya kamu sekalian akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama-nama kamu sekalian, maka perbaguslah nama kalian" (HR Abu Dawud).
Kedua, memberi anak ASI (air susu ibu). Hal ini pun sudah tertulis dalam Alquran surah al-Baqarah ayat 233 yang artinya: "Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, Tidak diragukan lagi kalau ASI adalah makanan pertama bayi yang besar manfaatnya."
Ketiga, mendidik anak dengan baik. Pendidikan untuk anak inilah hal yang paling penting dan utama harus diberikan pada anak. Termasuk pendidikan mengenai agama dan akhlak-akhlak yang baik dan benar sesuai dengan tuntunan agama Islam. "Tiada satu pemberian yang lebih utama yang diberikan ayah kepada anaknya selain pengajaran yang baik.” (HR Baihaqi).
Keempat, mengajarkan Alquran. Mengajarkan anak meneladan Alquran adalah kewajiban orang tua. Sesuai hadis Rasul yang diriwayatkan sahabat Ali RA yang artinya: "Ajarkanlah tiga hal kepada anak-anak kalian, yakni mencintai nabi kalian, mencintai keluarganya, dan membaca Alquran…”
Kelima, bersikap adil kepada anak-anaknya. Jangan ada yang dibeda-bedakan. Rasulullah SAW pun bersabda (sampai berwasiat dan mengulangnya hingga tiga kali) yang artinya: "Adillah kepada anakmu, adillah kepada anakmu, adillah kepada anakmu!” (HR Abu Dawud dan Nasa’i).
Keenam, memberi nafkah dan makanan yang halal. Seperti sabda Rasulullah SAW kepada Sa'ad Bin Abi Waqhas yang artinya: “Baguskanlah makananmu, niscaya doamu akan dikabulkan.”
Ketujuh, menikahkan dengan calon suami/istri yang baik (QS an-Nur: 32).
Terakhir, mendidik dengan kasih sayang tanpa memarahinya (QS at-Taghabun: 14-15). Semoga, kedelapan kewajiban ini menjadi perhatian utama para orang tua di Indonesia. Termasuk dalam hal ini, bagi mereka yang akan menjadi orang tua setelah menikah tentunya.
Dalam hadis yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang sedang berpuasa, tetapi tetap mengucapkan dan mengerjakan perbuatan yang kotor, keji, dan dusta, maka tidak ada alasan bagi Allah untuk memberikan pahala kepadanya lantaran ia meninggalkan makan dan minumnya."
Hadis di atas mengisyaratkan keutamaan pengendalian diri selama berpuasa Ramadhan. Memang, perkara-perkara yang membatalkan puasa ialah makan, minum (secara sengaja), dan hubungan intim (jimak) suami-istri. Akan tetapi, nilai atau esensi dari berpuasa melampaui ketiga perkara itu.
Pengendalian diri secara total dan menyeluruh itulah yang akan menghasilkan ketakwaan. Allah SWT menegaskan takwa sebagai tujuan seorang Mukmin berpuasa (QS al-Baqarah ayat 183). Implikasinya, pengendalian diri hendaknya termanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari, terutama dalam bulan suci Ramadhan.
Pengendalian diri dapat dilakukan dalam dua keadaan. Pertama, ketika menyukai serta membenci sesuatu, seseorang atau sekelompok orang. Orang yang dapat mengendalikan dirinya akan lebih proporsional dan objektif. Ia tidak apriori menerima ataupun menolak. Ia tidak ta'asshub dan picik pada golongannya sendiri sehingga menolak kelompok atau golongan lain.
Dalam kaitan ini, Rasulullah SAW bersabda, "Cintailah orang yang Anda cintai sederhana saja, sebab siapa tahu kelak ia menjadi orang yang Anda benci. Dan bencilah orang yang Anda benci sederhana saja, sebab siapa tahu kelak ia menjadi orang yang Anda cintai."
Kedua, pengendalian diri dalam kondisi ketika amarah menyala dalam dada. Orang yang dapat mengendalikan dirinya tidak akan sampai merusak dan menghancurkan sesuatu.
Dalam Alquran dikemukakan, salah satu ciri orang bertakwa adalah mampu menahan amarahnya. Oleh karena itu, Rasulullah SAW memberikan nasihat, "Jika Anda sedang marah, segeralah berwudu. Karena amarah yang tidak terkendali berasal dari setan. Setan terbuat dari api dan api akan padam oleh air."
Ramadhan sering disebut sebagai bulan latihan dan ujian. Riadat yang dilakukan, minimal, ialah menahan diri dari makan, minum dan segala hal yang membatalkan puasa dari fajar hingga waktu maghrib.
Puasa melatih seorang Mukmin dalam mengelola kehendak. Dengan berpuasa, Muslimin melatih pengendalian ego diri agar berbuat sesuai dengan perintah Allah.
Dalam perspektif sufi, hal itu menunjuk pada ketiadaan kehendak. Yang ada hanyalah kehendak Allah semata. Kita hanyalah pelaksana kehendak-kehendak-Nya.
Konkretnya, dalam keadaan lapar dan haus pada siang hari di bulan Ramadhan. Bukankah yang paling enak kita melakukan makan dan minum?
Namun, hal itu tidak dilakukan. Sebab, kita menyadari, makan dan minum pada siang hari Ramadhan menyalahi kehendak Allah. Dia mengharuskan kita agar menahan diri dari makan dan minum.
Puasa juga melatih kita dalam persoalan ketaatan, kesabaran, dan kesungguhan kepada Allah. Bukankah karena ketaatan kita tidak berlaku curang dalam melaksanakan puasa? Kita, misalnya, tak makan atau minum secara sembunyi-sembunyi?
Dengan kesabaran dan kesungguhan, kita bersedia melalui sebulan penuh Ramadhan dengan lapar, haus, dan menjaga diri dari hal-hal yang membatalkan puasa pada siang hari. Melalui malam-malamnya dengan mengurangi jam tidur agar dapat lebih banyak beribadah kepada Allah.
Buah dari latihan dan ujian itulah yang ditegaskan Allah SWT dalam Alquran surah al-Baqarah ayat ke-183, yaitu ketakwaan.
يٰٓـاَيُّهَا الَّذِيۡنَ اٰمَنُوۡا كُتِبَ عَلَيۡکُمُ الصِّيَامُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيۡنَ مِنۡ قَبۡلِکُمۡ لَعَلَّكُمۡ تَتَّقُوۡنَۙ
"Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa."
Jagalah diri tidak hanya dari pembatal puasa, melainkan juga penggerus pahala puasa.
Tindakan dan perilaku yang dapat mengikis atau bahkan menghapuskan sama sekali pahala puasa, antara lain, berbohong, menipu, mengadu domba, ghibah (membicarakan kejelekan orang lain), ataupun menyaksikan sesuatu dengan pandangan yang penuh syahwat.
Walaupun secara hukum ibadah puasanya benar, namun jika perilaku-perilaku tersebut di atas dilakukan, maka bisa jadi pahala puasanya batal. Nabi SAW bersabda, "Barang siapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan amalan kebohongan, maka tidak ada bagi Allah hajat (untuk menerima) dalam hal ia meninggalkan makan dan minumnya.''
Marilah kita jaga dan pelihara pahala ibadah shaum dan puasa dari hal-hal yang membatalkannya. Jangan sampai seperti yang disabdakan Rasulullah SAW, kita tidak mendapatkan apa-apa dari amal ibadah puasa kita kecuali rasa lapar dan haus.
Tags : ramadhan, ramadhan 2026, recharge iman, ramadhan 1447 h, hikmah ramadhan, puasa ramadhan,