Linkungan   2026/03/27 18:21 WIB

Ratusan Hotspot Menggila di Riau, BNPB: Sudah Tembus 2.713 Hektare Lahan Terbakar

 Ratusan Hotspot Menggila di Riau, BNPB: Sudah Tembus 2.713 Hektare Lahan Terbakar

PEKANBARU – Titik panas atau hotspot di Pulau Sumatera masih terpantau tinggi hingga Kamis sore, 26 Maret 2026.

Data dari BMKG menunjukkan total 320 hotspot tersebar di berbagai provinsi, dengan Provinsi Riau menjadi wilayah paling dominan.

Prakirawan BMKG Pekanbaru, Mari Frystine, mengungkapkan bahwa Riau mencatat lonjakan signifikan dengan 207 titik panas.

Angka ini menjadikan Riau sebagai daerah dengan jumlah hotspot tertinggi di Sumatera saat ini.

Wilayah yang paling terdampak di Riau adalah Kabupaten Bengkalis dengan 118 titik panas.

Disusul Kabupaten Pelalawan sebanyak 38 titik dan Kota Dumai sebanyak 16 titik.

Sementara itu, beberapa daerah lain seperti Rokan Hilir, Siak, serta wilayah Indragiri juga turut menyumbang titik panas meski dalam jumlah lebih kecil.

Di luar Riau, hotspot juga terdeteksi di sejumlah provinsi lain seperti Kepulauan Riau sebanyak 53 titik, Sumatera Utara 21 titik, serta Aceh dan Jambi masing-masing 13 titik.

Selain itu, kondisi jarak pandang (visibility) di beberapa wilayah Riau masih relatif aman. Di Pekanbaru tercatat 9 kilometer, sementara di Rengat mencapai 7 kilometer. Wilayah Pelalawan juga berada di angka 9 kilometer, dan Tambang mencapai 10 kilometer.

BMKG mengimbau masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan yang dapat meningkat seiring tingginya jumlah hotspot di wilayah Sumatera, khususnya di Riau.

Sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat luas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau mencapai 2.713,26 hektare dalam periode 1 Januari hingga 24 Maret 2026.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa angka tersebut merupakan akumulasi data terbaru per 25 Maret 2026.

“Total luasan terbakar sejak awal tahun hingga 24 Maret 2026 mencapai 2.713,26 hektare,” ujarnya dalam keterangan resmi, Kamis (26/3).

Ia menjelaskan, tren kebakaran menunjukkan peningkatan di sejumlah wilayah.

Penambahan signifikan terjadi di beberapa kabupaten, seperti Siak, Pelalawan, Indragiri Hulu, dan Indragiri Hilir.

Menurutnya, kondisi tersebut menjadi perhatian serius karena titik-titik kebakaran terus bertambah dalam beberapa waktu terakhir.

Selain itu, Pemerintah Provinsi Riau telah menetapkan status siaga darurat karhutla sejak 13 Februari 2026 dan akan berlangsung hingga 30 November 2026.

“Upaya penanganan terus dilakukan, baik melalui pemadaman darat maupun udara, serta peningkatan patroli di wilayah rawan kebakaran,” jelasnya.

BNPB bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan berbagai unsur terkait terus mengintensifkan langkah penanganan.

Upaya tersebut meliputi pemadaman api, pendataan wilayah terdampak, hingga pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat.

Selain itu, langkah pemulihan juga mulai disiapkan guna meminimalkan dampak lanjutan akibat kebakaran hutan dan lahan di wilayah Riau. (*)

Tags : hotspot, titik hotspot, kebakaran lahan dan hutan, karhutla, karhutla menggila di riau, karhutla tembus 2.713 hektare ,