Internasional   2026/09/02 11:33 WIB

Rudal Iran Hantam Tiga Pangkalan Besar Musuh yang Sudah Menguras Kekuatan Militer AS

Rudal Iran Hantam Tiga Pangkalan Besar Musuh yang Sudah Menguras Kekuatan Militer AS

INTERNASIONAL - Juru bicara Markas Besar Pusat Khatam al-Anbiya Iran, Kolonel Ebrahim Zolfaghari, menyatakan pasukan Iran telah melancarkan serangan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke sejumlah pangkalan Amerika Serikat (AS) di kawasan tersebut.

Langkah ini diambil sebagai balasan atas serangan AS terhadap fasilitas militer dan sipil di Iran selatan.

Dalam pidatonya yang disiarkan lembaga penyiaran negara IRIB, Zolfaghari mengklaim serangan tersebut menimbulkan kerusakan berat pada infrastruktur, fasilitas, serta persenjataan dan peralatan musuh.

Ia juga mengklaim "sejumlah besar" komandan dan prajurit AS tewas atau terluka."Operasi ofensif terhadap AS ini akan terus berlanjut sampai mereka menyesali kejahatan mereka," ujar Zolfaghari seperti dilansir Al Jazeera, Rabu(2/9).

Ia memperingatkan bahwa serangan AS yang berlanjut akan dibalas dengan respons yang "lebih berat, lebih luas, dan lebih merusak."

Zolfaghari menambahkan, negara mana pun yang bekerja sama dengan militer AS harus bersiap menanggung konsekuensi berbahaya.

Eskalasi konflik ini kian meluas ke beberapa negara di kawasan. Di Kuwait, pihak militer menyatakan sedang merespons apa yang mereka sebut sebagai serangan drone musuh menyusul aksi terbaru Iran.

Pihak berwenang mengonfirmasi bahwa ledakan yang terdengar warga merupakan hasil dari sistem pertahanan udara yang mengintersepsi drone musuh, seraya mengimbau masyarakat untuk mematuhi arahan keselamatan dan keamanan.

Di Yordania, pihak militer mengonfirmasi sebanyak 13 rudal memasuki ruang udara kerajaan tersebut.

Sebanyak 10 rudal berhasil dihancurkan, sementara tiga rudal menerobos dan jatuh di wilayah terpencil yang jauh dari pemukiman penduduk.

Di Bahrain, warga diimbau untuk segera berlindung setelah Iran mengklaim melancarkan serangan drone skala besar ke Pangkalan Udara Sheikh Isa.

Serangan tersebut menargetkan instalasi radar dan area konsentrasi pasukan AS.

Sejauh ini, belum ada konfirmasi independen mengenai serangan-serangan tersebut maupun tingkat kerusakan yang ditimbulkannya.

Melihat dinamika yang terjadi, eskalasi besar-besaran tengah melanda kawasan Timur Tengah, memicu kekhawatiran global bahwa konflik ini akan meluas jauh melebihi batas wilayah Iran.

Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengklaim pasukannya telah melancarkan serangan gabungan rudal dan drone ke fasilitas AS di Provinsi Erbil, Irak utara.

Serangan ini disebut sebagai pembalasan atas serangan AS terhadap pesta pernikahan di kota pesisir selatan Sirik yang menewaskan empat orang, termasuk seorang anak-anak.

Dalam pernyataan resmi yang dirilis IRIB, IRGC mengklaim serangan itu menghancurkan pusat perbaikan, gudang peralatan teknis, serta sistem pemandu balon pengintai milik AS.

IRGC juga mengklaim tangki bahan bakar di pangkalan tersebut terbakar dan sejumlah personel AS tewas. Kendati demikian, belum ada konfirmasi independen terkait klaim korban jiwa maupun kerusakan tersebut.

Komando Pusat AS (CENTCOM) mengeluarkan pernyataan resmi lebih dari empat jam setelah gelombang serangan dimulai. CENTCOM menyatakan bahwa gelombang serangan terbaru terhadap target militer Iran telah selesai dilaksanakan.

Pihak AS menegaskan eskalasi ini dipicu oleh tindakan Iran yang tidak hanya mengancam kebebasan navigasi, pelayaran komersial, dan pemasangan ranjau, tetapi juga menargetkan personel militer AS di Yordania.

Seorang pejabat AS membantah tegas klaim IRGC mengenai jatuhnya korban jiwa di pihak AS.

Klaim tersebut dipastikan tidak benar, dan pernyataan resmi CENTCOM sama sekali tidak mencatat adanya korban dari pihak militer Amerika.

Eskalasi terbaru ini mempertegas bahwa AS kini terlibat dalam pertempuran untuk mengamankan Selat Hormuz demi menjaga kebebasan navigasi internasional, di tengah tuduhan bahwa Iran berusaha memblokir jalur strategis tersebut.

Di sisi lain, tekanan ekonomi terhadap Teheran terus berjalan. Operasi Economic Outcast dipastikan masih berlangsung.

Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, dijadwalkan bakal mengumumkan sanksi baru terhadap entitas Iran pada akhir pekan ini, yang diperkirakan akan terus berlanjut pada pekan-pekan berikutnya.

Menguras kekuatan militer as

Perang Amerika Serikat terhadap Iran yang semula diperkirakan berlangsung singkat dan menentukan kini berubah menjadi konflik berkepanjangan yang menguras sumber daya.

Situasi ini semakin menekan kemampuan militer Amerika sekaligus meningkatkan biaya politik dan ekonomi perang.

Di sisi lain, Teheran dinilai memperoleh keuntungan dari semakin panjangnya konflik dan mampu memanfaatkan sejumlah titik lemah Amerika Serikat.

Pakar pertahanan sekaligus koresponden perang Robert Fox, dalam sebuah artikel di situs Inggris iPaper, dikutip Aljazeera, Selasa (1/8/2026), mengatakan serangan Amerika Serikat terhadap Pulau Lark, Iran, menandai kembalinya pertempuran terbuka setelah situasi relatif tenang sejak Juli.

Fox menyebut perang yang semula diperkirakan tidak akan berlangsung lebih dari enam pekan kini telah memasuki bulan ketujuh tanpa adanya penyelesaian damai yang dapat diandalkan.

Serangan tersebut juga langsung berdampak pada pasar energi. Harga minyak naik sekitar 2 persen, setelah serangan kembali memunculkan kekhawatiran mengenai keamanan pelayaran di Selat Hormuz.

Menurut Fox, serangan Amerika terjadi hanya empat hari setelah Presiden Donald Trump menyatakan bahwa Selat Hormuz telah bebas dari ranjau dan jalur pelayaran kembali terbuka. Iran menyebut pernyataan tersebut sebagai kebohongan yang terang-terangan.

Fox menilai Teheran telah menyadari nilai strategis penguasaan Selat Hormuz. Jalur perairan tersebut menjadi salah satu titik paling penting dalam perdagangan energi dunia, dengan sekitar seperlima ekspor energi global melintasinya.

Iran kemudian menjadikan selat tersebut sebagai instrumen tekanan ekonomi dan politik terhadap Washington beserta sekutunya.

Fox juga menilai Iran tampaknya mampu memanfaatkan kebijakan Trump terhadap negara-negara sekutunya, mulai dari negara-negara Teluk hingga Inggris, Denmark, dan Kanada, ketika sumber daya diplomatik dan militer Amerika Serikat semakin terbatas.

Bahkan, muncul kekhawatiran bahwa Selat Hormuz dapat berubah menjadi semacam gerbang berbayar bagi rezim Iran.

Sejumlah laporan menyebut Korps Garda Revolusi Islam Iran mengenakan biaya hingga 2 juta dolar AS kepada kapal tanker minyak agar diizinkan melintas.

Fox menyebut Amerika Serikat telah membayar harga militer yang semakin mahal dalam perang tersebut.

Washington disebut telah mengirim sedikitnya 50 ribu tambahan personel militer, sedikitnya dua kelompok kapal induk, serta unit-unit Korps Marinir ke kawasan tersebut.

Perang juga menghabiskan persediaan rudal, amunisi, dan sistem pertahanan udara dalam jumlah besar.

Sekitar dua pertiga stok rudal Patriot disebut telah digunakan, sementara persediaan rudal Tomahawk dan senjata presisi juga terus menurun.

Tekanan tersebut tidak hanya dirasakan oleh pasukan yang berada di kawasan Timur Tengah. Fox menyoroti kondisi kapal induk USS Abraham Lincoln, yang disebut telah menghabiskan lebih dari 205 hari di laut selama operasi di kawasan Teluk.

Sejumlah awak kapal dilaporkan mengalami depresi, kecemasan, bahkan persoalan bunuh diri.

Menurut Fox, tekanan semacam ini bukan hanya mengancam kesiapan militer Amerika Serikat di Timur Tengah, tetapi juga dapat mengurangi kemampuan militer Amerika dalam menghadapi krisis lain di berbagai belahan dunia.

Persoalan lain yang disoroti adalah kondisi kepemimpinan militer Amerika Serikat.

Dalam sebuah artikel di The Washington Post, penulis Max Boot menyatakan bahwa dilema Iran kemungkinan tidak akan terjadi di bawah kepemimpinan sejumlah pejabat militer yang menduduki posisi mereka pada masa jabatan pertama Trump.

Boot menilai Menteri Perang Pete Hegseth lebih mengutamakan loyalitas politik daripada kepemimpinan profesional.

Menurutnya, pemecatan lebih dari 20 perwira senior serta terhambatnya promosi puluhan perwira lainnya telah menciptakan kekosongan kepemimpinan yang berpotensi mengancam keamanan nasional dan kesiapan militer Amerika.

Boot menempatkan tanggung jawab utama atas dimulainya perang pada Presiden Trump. Namun, ia menilai pimpinan Pentagon juga tidak dapat lepas dari tanggung jawab.

Ia mengutip laporan The Wall Street Journal yang menyebut bahwa badan-badan intelijen Amerika telah memperingatkan mengenai risiko perang tersebut.

Wakil Presiden JD Vance disebut menentangnya, sementara Hegseth dan Kepala Staf Gabungan Jenderal Dan Caine meyakinkan Trump bahwa militer mampu mengendalikan dampak yang ditimbulkan.

Boot juga menyebut militer Amerika telah kehilangan sejumlah besar perwira tinggi berpangkat jenderal bintang empat. Sejumlah posisi penting bahkan masih kosong.

Sementara itu, keputusan untuk memindahkan sejumlah unit lapis baja dan memusatkan perhatian pada komando wilayah Barat menimbulkan pertanyaan mengenai prioritas militer Amerika dalam menghadapi Rusia dan China.

Dalam artikel opini lainnya di The Washington Post, mantan perwira Korps Marinir Amerika Serikat Ben Kesling memperingatkan ketergantungan militer Amerika pada baterai portabel buatan China.

Perangkat tersebut digunakan untuk mengoperasikan drone, perangkat komunikasi, dan sistem penanggulangan drone.

Namun, menurut Kesling, perangkat-perangkat tersebut tidak selalu melalui pengujian militer dan keamanan yang memadai, meskipun telah digunakan secara luas oleh unit-unit di lapangan.

Kesling memperingatkan bahwa sebagian baterai tersebut terhubung ke internet atau menggunakan teknologi Bluetooth.

Kondisi ini berpotensi membuka celah bagi kegiatan mata-mata atau memungkinkan lokasi pasukan dan kapal Amerika terdeteksi.

Ia juga menilai baterai berkapasitas energi tinggi dalam kondisi tertentu dapat berubah menjadi sumber bahaya keamanan atau bahkan senjata.

Yang menjadi persoalan, militer Amerika Serikat masih membeli produk-produk buatan China meskipun kekhawatiran terhadap keamanan rantai pasokan semakin meningkat.

Ketiga artikel tersebut pada akhirnya menunjukkan bahwa perang Iran tidak hanya mengungkap persoalan di medan tempur, tetapi juga memperlihatkan masalah yang lebih luas dalam kemampuan militer Amerika Serikat.

Masalah tersebut mencakup terkurasnya persediaan amunisi, kelelahan pasukan, politisasi kepemimpinan militer, serta kerentanan rantai pasokan terhadap pesaing strategis.

Dengan perang yang terus berlanjut, tekanan terhadap militer Amerika pun semakin besar.

Konflik yang semula diproyeksikan berlangsung singkat justru berubah menjadi perang berkepanjangan yang menuntut pengerahan personel, persenjataan, dan sumber daya dalam jumlah besar.

Di sisi politik, biaya perang juga berpotensi menjadi beban bagi Trump menjelang pemilu paruh waktu Amerika Serikat.

Sementara Washington harus menghadapi konsekuensi militer dan politik dari perang yang berkepanjangan, Iran berupaya menjadikan Selat Hormuz sebagai kartu tawar-menawar jangka panjang.

Dengan demikian, perang Iran tidak hanya menjadi ujian bagi kekuatan militer Amerika Serikat di medan tempur, tetapi juga menguji ketahanan logistik, kepemimpinan, rantai pasokan, serta kemampuan Washington mempertahankan kekuatan globalnya dalam menghadapi konflik yang berlangsung lebih lama dari perkiraan. (*)

Tags : perang iran, perang as iran, korban perang iran, dampak perang iran as, tentara as, serangan as, as serang iran, perang as versus iran, perang amerika melawan iran, iran melawan amerika serikat,