Artikel   2026/03/21 23:52 WIB

Sebagai Anak, Jangan Lupakan Orang Tua

Sebagai Anak, Jangan Lupakan Orang Tua
Ilusrasi mudik

DALAM hadis riwayat Thabrani dari Jabir RA, ada seorang anak muda mengadu kepada Rasulullah SAW. Ia berkata, “Ya Rasulullah, sesungguhnya ayahku ingin mengambil hartaku.” Mendengar pengaduan anak muda itu, Rasul berkata, “Pergilah kamu dan bawa ayahmu ke sini."

Setelah anak muda itu berlalu, Malaikat Jibril turun menyampaikan salam dan pesan Allah kepada beliau. Jibril berkata, "Ya Muhammad, Allah 'Azza wa Jalla menyampaikan salam untukmu, dan berpesan, kalau orang tuanya datang, engkau harus menanyakan apa-apa yang dikatakan dalam hatinya dan tidak didengarkan oleh telinganya."

Tak lama, anak muda itu datang bersama ayahnya. Rasulullah kemudian bertanya kepada orang tua itu. “Mengapa anakmu mengadukanmu? Apakah benar engkau ingin mengambil uangnya?”

Sang ayah yang sudah tua itu menjawab, "Tanyakan saja kepadanya, ya Rasulullah. Bukankah saya menafkahkan uang itu untuk beberapa orang ammati (saudara ayahnya) atau khalati (saudara ibu)-nya, dan untuk keperluan saya sendiri?"

Rasulullah bersabda lagi, "Lupakanlah itu. Sekarang ceritakanlah kepadaku apa yang engkau katakan di dalam hatimu dan tak pernah didengar oleh telingamu."

Maka, wajah keriput lelaki tua itu pun menjadi cerah dan tampak bahagia. Dia berkata, "Demi Allah, ya Rasulullah, dengan ini Allah SWT berkenan menambah kuat keimananku dengan kerasulanmu. Memang saya pernah menangisi nasib malangku dan kedua telingaku tak pernah mendengarnya." Rasulullah mendesak, "Katakanlah, aku ingin mendengarnya."

Orang tua itu berkata dengan air mata yang berlinang. “Saya mengatakan kepadanya kata-kata ini, 'Aku mengasuhmu sejak bayi dan memeliharamu waktu muda. Semua hasil jerih payahku kau minum dan kau reguk puas. Bila kau sakit di malam hari, hatiku gundah dan gelisah. Lantaran sakit dan deritamu, aku tak bisa tidur dan resah, bagai akulah yang sakit, bukan kau yang menderita.”

“Lalu air mataku berlinang-linang dan mengucur deras. Hatiku takut engkau disambar maut, padahal aku tahu ajal pasti datang. Setelah engkau dewasa dan mencapai apa yang kau cita-citakan, kau balas aku dengan kekerasan, kekasaran, dan kekejaman, seolah kaulah pemberi kenikmatan dan keutamaan.”

“Sayang, kau tak mampu penuhi hak ayahmu, kau perlakukan aku seperti tetangga jauhmu. Engkau selalu menyalahkan dan membentakku, seolah-olah kebenaran selalu menempel di dirimu. Seakan-akan kesejukan bagi orang-orang yang benar sudah dipasrahkan.”

Selanjutnya Jabir berkata, “Pada saat itu Nabi langsung memegangi ujung baju pada leher anak itu, seraya berkata, 'Engkau dan hartamu milik ayahmu'."

Dari kisah ini, kita bisa mengambil pelajaran, ketika sudah besar, sebagai anak kadang kita lupa kepada orang tua yang telah berjuang mencari nafkah untuk kita. Ayah kita memberikan segala apa yang dimilikinya tanpa pernah meminta kembali.

Adapun kita, ketika akan memberikan sesuatu untuk ayah dan ibu, begitu banyak pertimbangan. Tak jarang, kita mencari dan membuat berbagai alasan agar kepunyaan yang dimiliki tidak berpindah kepada orang tua kita. Dalam kesempatan ini, marilah kita terus mencintai dan menyayangi keduanya, sebelum mereka pergi meninggalkan kita untuk selamanya. 

Lemah lembut

Islam memerintahkan umat manusia untuk menghormati orang tua, khususnya ibunda. Menyakiti hati keduanya bukanlah perkara yang ringan. Sebab, ridha dan murkanya Allah bergantung pada ridha dan murkanya orang tua. Hal itu telah ditegaskan dalam suatu hadits Rasulullah Muhammad SAW.

Allah SWT adalah Zat Yang Mahakuasa. Dia menunda azab kepada siapapun yang dikendaki-Nya. Dia pun dapat menimpakan azab kepada siapapun yang dimaui-Nya. Terkait itu, Nabi SAW berpesan kepada kaum Muslimin agar tidak durhaka kepada orang tua.

Dalam sebuah hadis riwayat al-Hakim disebutkan, "Rasulullah SAW bersabda, 'Ada dua pintu petaka yang disegerakan akibatnya di dunia ini, yaitu orang yang zalim dan durhaka kepada orang tua."

Bahkan, jihad di jalan Allah (fii sabilillah) tidak akan sempurna kecuali seorang yang beriman telah memeroleh restu dari orang tuanya. Dikisahkan, suatu kali seorang pria mendatangi Nabi SAW untuk meminta izin kepada beliau agar diberangkatkan jihad.

Rasulullah SAW pun bertanya kepadanya, "Apakah kedua orang tua engkau masih ada (hidup)?"

"Iya, wahai Rasulullah," jawab si pria.

"Berjihadlah dengan berbakti kepada keduanya," ujar Nabi SAW.

Setidak-tidaknya, lisan dan wajah selalu mendatangkan ketentraman ke dalam hati orang tua. Kadangkala, ada suatu keluarga yang di dalamnya si anak lebih saleh daripada orang tuanya. Dalam hal ini, tetap saja tidak dibenarkan untuk mencela mereka.

Ali bin Abi Thalib berwasiat mengenai hal itu, "Janganlah engkau menggunakan kefasihan bicaramu (mendebat) di hadapan ibumu yang dahulu telah mengajarimu berbicara." Maknanya, pengetahuan agama yang diperoleh sang anak hendaknya dikomunikasikan dengan cara-cara yang santun kepada orang tua yang masih tertutup hatinya.

Misalnya, dengan meyakinkan kepada mereka melalui perbuatan-perbuatan, tidak hanya lisan. Bahwa kehidupan si anak lebih tertata dan akhlaknya kian baik setelah mendalami ilmu-ilmu agama. Ditambah pula dengan berdoa kepada Zat Yang Maha-membolak-balikkan hati. Semoga hidayah-Nya menyinari hati kedua orang tua.

وَاعۡبُدُوا اللّٰهَ وَلَا تُشۡرِكُوۡا بِهٖ شَيۡــًٔـا‌ ؕ وَّبِالۡوَالِدَيۡنِ اِحۡسَانًا وَّبِذِى الۡقُرۡبٰى وَالۡيَتٰمٰى وَ الۡمَسٰكِيۡنِ وَالۡجَـارِ ذِى الۡقُرۡبٰى وَالۡجَـارِ الۡجُـنُبِ وَالصَّاحِبِ بِالۡجَـنۡۢبِ وَابۡنِ السَّبِيۡلِ ۙ وَمَا مَلَـكَتۡ اَيۡمَانُكُمۡ‌ ؕ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ مَنۡ كَانَ مُخۡتَالًا فَخُوۡرَا

"Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Dan berbuat-baiklah kepada kedua orang tua, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga dekat dan tetangga jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahaya yang kamu miliki. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang sombong dan membanggakan diri" (QS an-Nisa: 36). 

Tags : mudik, lebaran, pulang kampung, idul fitri, idul fitri 2026, ramadhan, ramadhan 2026, idul fitri 1447 h, mudik lebaran 2026, lebaran 2026, halal bihalal, syawalan, syawal, bulan syawal, anak berbakti, berbakti kepada orang tua,