Artikel   01-04-2025 10:16 WIB

Sebagian Umat Islam Melakukan Tradisi Berziarah Sebelum Ramadan dan Setelah Lebaran

Sebagian Umat Islam Melakukan Tradisi Berziarah Sebelum Ramadan dan Setelah Lebaran
Warga berziarah di makam keluarganya di Tempat Pemakaman Umum (TPU).

UMAT ISLAM sebagiannya melakukan tradisi berziarah ke makam orang tua atau kerabat dekat menjelang Ramadan atau setelah Idul Fitri. Beberapa orang merasa ini adalah kewajiban dan merasa tidak komplet sebelum mereka berziarah. Namun, mengapa ritual tahunan ini bisa terus bertahan?

Lina tidak pernah absen berziarah ke makam ayahnya menjelang Ramadan dan saat Lebaran.

"Biasanya jelang puasa atau pas hari raya Idul Fitri atau Idul Adha," katanya kepada wartawan Hilman Handoni yang melaporkan untuk BBC News Indonesia.

Namun, bagi dia, ziarah tak mesti dilakukan pada hari-hari keagamaan itu. "Kadang-kadang bulan Juli. Karena bapak lahir di bulan Juli."

Pada harinya, Lina dan keluarga biasanya jalan berombongan ke makam ayahnya selama 10 menit dari rumah. Di pusara ayahnya, mereka lalu mendoakan almarhum.

Meski demikian, menurut Lina, berdoa tak mesti dari kuburan.

"Bisa dari mana saja," ujarnya.

"Kalau sendirian ke makam bapak, saya suka sedih. Saya enggak mau air mata turun. Ketika berdoa lalu nangis, air mata jatuh ke makam. Saya enggak kuat," imbuhnya.

Makam ayahnya juga dia kunjungi manakala dia akan bepergian jauh atau ada peristiwa-peristiwa besar yang akan terjadi di dalam hidupnya. "Bukan untuk konsultasi sih. Untuk berdoa saja," cetusnya.

Lina tak hanya berziarah ke makam ayahnya. Dia merasa ada yang tidak 'komplet' dalam hidupnya jika tidak mengunjungi makam-makam leluhurnya di Cirebon, Jawa Barat.

Di kompleks permakaman itu, ada makam kakeknya. Selain itu ada kerabatnya dari pihak kakek, nenek, dan orang tuanya, yang tidak dia kenal langsung.

"Ada masa saya ke Cirebon, tapi kita enggak mampir [ke makam]. Kayaknya ada yang kurang," ungkapnya.

Lina menambahkan bahwa berziarah menjadi kesempatan berkunjung dan mengeratkan silaturahmi dengan keluarga besarnya di Cirebon.

Baginya, ziarah juga memberikan harapan dan ketenangan soal masa depan.

"Kadang saya berefleksi juga. Seandainya saya sudah meninggal, saya punya cucu cicit. Kalau mereka paham, mereka bisa mendoakan saya. Kayaknya senang saja, didoakan cucu cicit," paparnya.

Bagi sebagian orang, ziarah adalah momen untuk memutar kenangan.

Dadan, misalnya. Sebelum pindah ke Jakarta tiga tahun lalu, Dadan tinggal di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, sama dengan lokasi makam orang tuanya.

Kini tak tiap tahun dia mudik Lebaran dan berkunjung ke makam. Tapi saban pulang, niscaya dia berziarah.

"Pulang kampung itu berarti ziarah makam, ziarah kenangan masa kecil, menarik mundur kenangan-kenangan bersama bapak ibu, merasai kembali rasa-rasa yang tak kujumpai di ibu kota yang serbacepat dan seringnya kejam," tutur Dadan.

Jika ziarah dilakukan saat Idul Fitri, dia akan mendapatkan 'bonus' karena bisa bertemu teman-temannya.

"Lebaran gini biasanya silaturahmi dengan tetangga-tetangga, kawan lawas masa kecil yang sama-sama ziarah," sambungnya.

Rita lain lagi ceritanya. Dia adalah pedagang kembang di Taman Permakaman Umum Kemiri di Rawamangun.

Karena rumahnya dekat dengan makam, dan dia nyaris tiap hari jualan, maka nyaris tiap malam Jumat dia datang ke makam orang tuanya.

"(Ziarah itu) meluapkan emosi saya ke orang tua saya. 'Nih, saya begini keadaannya'. Saya mengadu. Habis itu rezekinya ada aja. Alhamdulilah. Sugestinya di situ," katanya.

Nurhadi Magetsari, arkeolog dari Universitas Indonesia, menyebut praktik ziarah ada kaitannya dengan keyakinan terhadap kehidupan setelah kematian.

Menurut Nurhadi, nenek moyang kita pada masa prasejarah telah mempraktikkan kepercayaan ini dalam bentuk 'bekal kubur' yang banyak ditemukan dalam penggalian-penggalian arkeologis di Nusantara.

Bekal kubur bisa berupa manik-manik, gerabah, perhiasan, atau benda-benda simbolik yang dibutuhkan mendiang untuk menjadi bekal di alam berikutnya.

"Bahkan ada yang dikubur bersama senjatanya," kata Nurhadi.

Selain itu, berziarah merupakan manifestasi dari penghormatan terhadap orang tua atau nenek moyang.

"Berziarah itu biasanya kan ke orang tua. Saya kira akarnya itu penghormatan terhadap nenek moyang terhadap leluhur. Ada upacara Sradha [upacara umat Hindu kuno untuk mengenang arwah, seperti di Bali. Lalu ketika kita memeluk agama Islam, ya ternyata (kepercayaan) itu terbawa," jelasnya.

Senada dengan Nurhadi, antropolog Geger Riyanto menyebut praktik ziarah terkait dengan konsep besar dalam antropologi yang disebut sebagai 'ancesterhood' yang dipraktikkan di hampir semua kebudayaan.

"Tidak cuma di Jawa. Di Asia Tenggara juga lazim dipraktikkan," ungkapnya.

Dalam kepercayaan ini, nenek moyang atau keluarga yang telah meninggal tak cuma dihormati dan dikenang tapi juga dipercaya memiliki kekuatan untuk mengintervensi kehidupan anak keturunannya.

"Sering dibayangkan bahwa yang menyebabkan keberuntungan, keberkahan dalam kehidupan sehari-hari, situasi sial, situasi nahas itu [disebabkan] ancestor [nenek moyang]," paparnya.

Geger mencontohkan banyak juga orang yang merasa 'durhaka' atau 'kualat' jika belum berziarah ke makam orang tua mereka.

"Ada perasaan enggak aman ketika belum memenuhi kewajiban sosial yang menurut mereka penting," ujarnya.

Praktik ziarah, kata dia, mungkin juga dikaitkan dengan fenomena ketidakpastian atau ketika manusia menghadapi fase-fase hidup yang baru.

"Ziarah itu mirip doa, dia muncul [ketika manusia menghadapi] ketidakpastian. Orang biasanya ziarah untuk memastikan situasi, misalnya, setahun ke depan lebih aman. Mereka [meminta] yang sudah meninggal lebih dahulu untuk memberkahi mereka ketika menghadapi tahun yang baru, bulan yang baru, waktu yang baru. Karena itu dia jadi ritual tahunan," kata Geger.

Intelektual Nahdlatul Ulama, Ahmad Suaedy, mengatakan peristiwa ziarah, terutama menjelang bulan Ramadan telah mengalami transformasi di dalam masyarakat muslim di Indonesia.

Ziarah yang awalnya peristiwa biasa bertransformasi menjadi sebuah peristiwa dengan bobot ritual keagamaan yang mengandung konsekuensi berupa rasa bersalah dan 'wajib' dilakukan secara sosial.

"Ada pergeseran dari sesuatu yang 'haram' menjadi wajib dalam arti sosial spiritual. Mereka merasa mendapat pahala kalau ke situ [berziarah]. Itu perilaku spiritual yang akan mendatangkan pahala. Dan orang tuanya mendapatkan syafaat dari doa anaknya. Itu sangat spiritual," jelasnya.

Menurut Ahmad, ada dua kutub pendapat dalam Islam mengenai ziarah.

Kutub pertama melarang praktik ini dengan alasan ziarah mendekati praktik menyekutukan Tuhan alias musyrik karena ziarah dikaitkan dengan meminta kekuatan dan keberkahan kepada ahli kubur.

Kutub kedua membolehkan. "Tapi tidak ada kata-kata atau dalil yang menganggap itu musyrik. Ziarah itu bagian dari penghormatan," kata Ahmad.

"Sebenarnya tidak ada secara doktrin [yang] melarang atau menyuruh [ziarah]. Ya Itu semacam tradisi saja," kata Ahmad.

"Orang Jawa itu cenderung menghormati event-event yang mengandung spiritual seperti kematian, kelahiran, dan lain-lain. Termasuk bulan-bulan," sambungnya.

Nurhadi Magetsari, arkeolog dari Universitas Indonesia, mengatakan kematian dan ritual ziarah yang mengikutinya juga membuka peluang ekonomi.

"Anda ke Tanah Kusir saja menjelang puasa. Ramai itu. Tukang kembang, tukang bersih-bersih makam," ujarnya.

Ziarah juga menjadi salah satu 'menu' yang diandalkan berbagai biro jasa perjalanan dalam menawarkan tur 'spiritual' ke Timur Tengah dan berbagai tempat lainnya.

"[Perusahaan] travel itu kan cari duit. Masa cari pahala?" kata Ahmad Suaedy lagi.

Berbagai operator tur wisata juga menawarkan paket ziarah ke makam-makam Wali Songo—sembilan wali yang dianggap berjasa memperkenalkan Islam di Pulau Jawa mulai abad ke-15.

Makam-makam ini, misalkan makam Sunan Kudus dan Makam Sunan Muria di Jawa Tengah serta makam Sunan Gunung Jati di Cirebon, Jawa Barat, nyaris tak pernah berhenti menerima kunjungan orang yang datang secara rombongan atau perseorangan.

Putaran uang di berbagai kompleks ini juga lumayan signifikan. Hitung saja para pedagang makanan, suvenir, jasa penginapan, dan lain-lain yang dijajakan di sekitar makam. Hitung juga putaran uang yang disedekahkan para ziarah ke beberapa titik 'kotak amal.'

Jelang bulan puasa para peziarah juga memadati berbagai Taman Permakaman Umum di Jakarta, termasuk di TPU Kemiri di Rawamangun, Jakarta Timur.

Para pedagang kembang tabur berjajar, hingga kurang lebih satu kilometer menjelang kompleks makam.

Mereka adalah bagian dari sekitar 50-an pedagang musiman yang datang menjelang puasa kemudian datang lagi beberapa hari menjelang Lebaran.

Rita pernah menjadi salah satu pedagang kembang musiman itu. Tapi sejak dua tahun terakhir dia membuka lapak kecilnya nyaris setiap hari. "Kalau hari biasa paling 4-5 orang," katanya.

Sebagai ilustrasi, Rita akan mendapatkan uang sekira Rp200.000-Rp300.000 setiap akhir pekan. Pendapatan ini melonjak hingga di atas Rp1 juta menjelang Ramadan dan ketika lebaran. Produk yang dia jual berupa aneka kembang tabur, mawar, sedap malam, air mawar, bisa dilepas dengan harga dua kali lipat.

Para pedagang tak mesti datang dari sekitar. Kata Rita, beberapa pedagang juga datang dari Bekasi dan Bogor. "Yang dagang ramai, yang ziarah juga ramai. Kebagian semua rezeki dari ujung ke ujung. Dari lampu merah situ sampe sini, alhamdulilah."

Selain penjual kembang, ziarah menjelang Ramadan dan saat Lebaran juga membuka peluang untuk orang-orang yang menawarkan jasa mendoakan mendiang, pedagang mainan, penjaja makanan dan minuman, serta perawat makam.

Nardi, kini telah beranak dua, telah mengais rezeki di TPU Kemiri sejak berusia 10 tahun.

Dia dulu juga tukang koret: mereka yang mendadak datang bermodal sapu dan ember untuk membersihkan rumput dan menyiram makam saat para peziarah membludak.

Biasanya mereka akan datang berombongan dan mengerubungi keluarga yang hendak ziarah.

Keluarga inilah yang akan memberikan uang 'seikhlasnya' untuk dibagi-bagi bersama tukang koret. "Sehari bisa dapat Rp150.000-Rp200.000," kata Nardi yang sekarang sudah jadi perawat makam.

Perawat makam seperti Nardi, jumlahnya kira-kira 100-an orang, tidak terkait dengan pengelola makam resmi.

Mereka langsung berhubungan dengan ahli waris kubur dan mendapatkan honor sekira Rp50.000 per bulan dari satu makam untuk membersihkan dan menyiram makam, merapikan rumput, dan mengganti rumput yang telah mengering. Nardi mengurus kira-kira 30 makam.

Saat Lebaran dia akan sibuk melayani keluarga-keluarga yang datang dan mendapatkan ekstra THR yang besarannya juga sama dengan honor bulanannya.

Nardi sudah hapal betul profesi-profesi apa yang bermunculan saat-saat ramai. Ada tukang mainan, tukang jajanan, tukang minta-minta, dan juga orang-orang yang disebutnya "ustad dadakan". Yang terakhir ini datang dengan perlente lengkap dengan atribut serban, sarung, dan kopiah, lalu menjajakan jasanya untuk memimpin doa buat para keluarga peziarah yang datang.

Kata Nardi, para pendoa tersebut bisa mendapatkan uang sukarela kira-kira Rp30.000-Rp50.000 dari satu keluarga.

Baik Rita maupun Nardi sepakat satu hal: pendapatan mereka menurun tahun ini.

"Mungkin ekonomi lagi sulit, ya?" tanya Rita. (*)

Tags : ziarah, ziarah ke makam, umat islam melakukan tradisi berziarah, ziarah sebelum ramadan dan setelah lebaran,