Linkungan   2026/02/26 16:13 WIB

Sebaran Hotspot Terdeteksi, TNI AU dan BNPB Intensifkan Modifikasi Cuaca di Riau

Sebaran Hotspot Terdeteksi, TNI AU dan BNPB Intensifkan Modifikasi Cuaca di Riau

PEKANBARU – Strategi pencegahan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau kini semakin difokuskan pada intervensi cuaca.

Memasuki hari ke-9 sejak penetapan status Siaga Karhutla pada 13 Februari 2026, Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang digelar TNI Angkatan Udara bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana terus diintensifkan.

Langkah ini dinilai krusial untuk mengantisipasi potensi kebakaran sejak dini, terutama di wilayah rawan seperti Dumai dan Pulau Rupat.

Pada misi Rabu (25/2/2026), pesawat Cessna C208B/PK-AKR diterbangkan untuk melakukan penyemaian awan di area blocking dengan radial 350 derajat hingga 30 derajat, dalam radius 60–90 nautical mile (NM). Operasi udara tersebut menyasar awan-awan potensial hasil analisis meteorologi.

Wilayah target ditetapkan berdasarkan rekomendasi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika yang secara aktif memantau dinamika atmosfer dan pertumbuhan awan konvektif di pesisir Riau.

Sebanyak 1.000 kilogram Natrium Klorida (NaCl) ditebar pada ketinggian 8.000–10.000 kaki untuk merangsang terjadinya hujan di wilayah sasaran.

Secara kumulatif, hingga hari kesembilan, telah dilakukan 14 sorti penerbangan dengan total 14.000 kilogram bahan semai disebarkan ke atmosfer Riau.

Kepala Dinas Operasi Lanud Roesmin Nurjadin, Kolonel Pnb Andri Setyawan, menegaskan bahwa setiap penerbangan OMC berbasis pada kajian meteorologi yang terukur.

“Operasi Modifikasi Cuaca ini diharapkan dapat membantu upaya pencegahan dan penanggulangan karhutla di wilayah Riau secara efektif,” ujar Andri.

Ia menambahkan, seluruh personel diminta mengedepankan standar keselamatan terbang dan prosedur operasional guna memastikan misi berjalan aman serta tepat sasaran.

Sementara itu, Komandan Lanud Roesmin Nurjadin, Marsekal Pertama TNI Abdul Haris, menegaskan dukungan penuh terhadap pelaksanaan OMC sebagai bagian dari komitmen pertahanan negara dalam membantu pemerintah daerah.

“Lanud Roesmin Nurjadin akan terus bersinergi dengan BNPB, BPBD dan Damkar Riau, BMKG, serta seluruh instansi terkait dalam pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca. Dukungan ini merupakan wujud nyata kesiapsiagaan TNI AU dalam menjaga keselamatan masyarakat serta melindungi lingkungan dari dampak kebakaran hutan dan lahan,” tegasnya.

Sinergi lintas lembaga, termasuk BPBD dan Damkar Riau, menjadi fondasi penting dalam mitigasi bencana berbasis teknologi atmosfer ini.

Pelaksanaan OMC tidak sekadar respons darurat, tetapi bagian dari strategi preventif berbasis data cuaca dan potensi hotspot.

Dengan intervensi lebih awal, pemerintah berharap kelembapan tanah tetap terjaga sehingga risiko kebakaran meluas dapat ditekan sebelum memasuki puncak musim kemarau.

Upaya ini juga menjadi sinyal bahwa pendekatan penanggulangan karhutla di Riau semakin adaptif, menggabungkan kekuatan militer, analisis ilmiah, dan koordinasi kebencanaan dalam satu kerangka operasi terpadu.

Sementara sebaran hotspot di Riau mulai terdeteksi. Sebanyak 32 titik panas terpantau di wilayah Sumatera pada Rabu, 25 Februari 2026.

Data ini menunjukkan peningkatan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan di sejumlah provinsi, terutama di wilayah pesisir timur Sumatera.

Berdasarkan pemantauan, sebaran titik panas tercatat di beberapa daerah. Aceh ditemukan 5 titik, Sumatera Barat 6 titik, dan Riau menjadi wilayah dengan jumlah terbanyak yakni 8 titik panas.

Sumatera Selatan dan Sumatera Utara masing-masing mencatat 4 titik. Di Jambi dan Bengkulu terdeteksi masing-masing 2 titik, serta 1 titik di Kepulauan Bangka Belitung.

Khusus di Riau, sebaran titik panas terpantau di sejumlah kabupaten dan kota. Kabupaten Bengkalis tercatat 2 titik, Kota Dumai 1 titik, Kabupaten Pelalawan 4 titik, serta Kabupaten Rokan Hilir 1 titik.

Kondisi ini membuat sejumlah wilayah meningkatkan kesiapsiagaan guna mencegah meluasnya kebakaran lahan.

Sementara itu, pembaruan jarak pandang hingga pukul 16.00 WIB menunjukkan kondisi yang relatif aman.

Di Pekanbaru, jarak pandang mencapai 9 kilometer, Rengat 8 kilometer, Pelalawan 10 kilometer, dan Tambang 10 kilometer.

Prakirawan BMKG Pekanbaru, Yudhistira M., menyampaikan bahwa pihaknya terus memantau perkembangan cuaca dan potensi kemunculan titik panas, terutama di wilayah rawan kebakaran.

Masyarakat diimbau untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar serta segera melaporkan jika menemukan indikasi kebakaran hutan dan lahan. (*)

Tags : titik hotspot, sebaran hotspot, riau, titik hotspot terdeteksi, modifikasi cuaca, lingkungan, alam,