ACEH -- Kehidupan perlahan mulai bergerak kembali di Aceh Tamiang.
Perlahan yang benar-benar perlahan. Itu terlihat dari baru dapat berjalannya pemerintahan Kabupaten Aceh Tamiang sekitar 15 persen pada hari ke-48 pascabencana banjir bandang.
“Lumpur tidak habis-habis. Dibersihkan, masuk lagi. Alat berat nambah 100 pun sudah sebulan ini tidak habis-habis. Itu di kota,” ucap Wakil Bupati Aceh Tamiang, Ismail, Rabu (15/1).
Meski begitu, Ismail memastikan, beberapa layanan vital, seperti rumah sakit, puskesmas, Dukcapil, dan seolah sudah mulai aktif meski masih jauh dari kondisi normal.
Di luar itu, sebagian besar kawasan masih sibuk bergulat dengan lumpur yang tak kunjung habis. Pasar-pasar mulai buka sebagian.
Namun sebagian besar masih lumpuh, dan roda ekonomi belum benar-benar berputar.
Dari sisi wilayah, skala terdampaknya luar biasa. Dari 216 desa di Aceh Tamiang, hanya belasan yang tidak terdampak.
Bersama Rumah Zakat, Republika menelusuri sejumlah jalan di Aceh Tamiang.
Lumpur masih menutupi banyak jalan, utamanya di area pedesaan, bahkan tak sedikit yang masih menutupi rumah warga.
Bekas-bekas lumpur di jalan pun menjadi persoalan baru. Kepulan asap debu dari pasir akibat lumpur memenuhi jalan ketika kendaraan-kendaraan melintas. Aceh Tamiang belum pulih. (*)
Tags : aceh, bencana alam, bencana banjir dan longsor, aceh belum pulih, debu jadi persoalan baru, News Daerah,