KETIKA senja tiba di bulan suci, kota tak hanya berubah ritme, ia menjadi panggung di mana spiritualitas, ekonomi rakyat, dan kebersamaan bertemu dalam satu tarikan napas yang sama.
Ada sesuatu tentang senja di bulan Ramadhan yang membuat kota bergerak dengan cara yang berbeda. Mataram, seperti kota-kota lain di Indonesia, merasakan perubahan itu. Udara sore yang mulai sejuk membawa hiruk-pikuk baru.
Bukan hiruk-pikuk yang gaduh, tapi hiruk-pikuk yang hangat, penuh antisipasi terhadap adzan Maghrib yang akan segera berkumandang.
Di sudut-sudut jalan, warung takjil mulai membuka lapaknya. Kolak pisang yang manis, bubur sumsum yang lembut, es buah yang segar, semua itu bukan sekadar makanan pembuka puasa.
Mereka adalah 'magnet sosial.' Tarikan halus yang membuat orang berhenti, berinteraksi, berbagi cerita sambil memilih takjil untuk dibawa pulang.
Takjil adalah pintu. Pintu menuju perut yang lapar, tentu saja. Tapi juga pintu menuju percakapan singkat dengan penjual, tawa bersama teman yang kebetulan bertemu di pasar, atau sekadar momen kehadiran di tengah keramaian yang menenangkan.
Inilah karakter sosial ngabuburit, cara masyarakat mengisi waktu menunggu berbuka dengan produktivitas sosial dan ekonomi. Bukan sekadar menunggu. Tapi menunggu sambil hidup. Sambil terhubung.
Pesona Ramadhan – Ngantih Bebuke, di Giri Menang Park. Sebuah ruang di mana kuliner buka puasa, atraksi seni budaya, dan silaturahmi publik berpadu sepanjang bulan suci.
Ini bukan sekadar bazar makanan. Ini adalah ruang budaya bersama, tempat di mana masyarakat tidak hanya datang untuk membeli, tapi juga untuk hadir. Untuk melihat. Untuk merasakan bahwa mereka adalah bagian dari sesuatu yang lebih besar dari diri mereka sendiri.
Di sinilah takjil melampaui fungsinya sebagai makanan.
Ia menjadi alasan untuk berkumpul. Alasan untuk memperkuat sense of belonging komunitas.
Seorang ibu yang datang bersama anak-anaknya bukan hanya mencari kolak untuk berbuka. Ia juga ingin anak-anaknya merasakan keramaian yang khas Ramadhan.
Seorang remaja yang ngabuburit sambil bersosialisasi bukan hanya mengisi waktu. Ia sedang belajar tentang tradisi, tentang cara generasi sebelumnya menjalani bulan suci ini.
Ramadhan, dengan demikian, menjadi panggung budaya, di mana nilai-nilai ditransmisikan tanpa harus diucapkan dengan keras.
Tapi kegembiraan kolektif ini juga membawa tantangan.
Bagaimana menjaga ketertiban di tengah keramaian? Bagaimana memastikan kenyamanan tanpa mengorbankan kekhusyukan ibadah? Bagaimana menyeimbangkan kepentingan komersial pedagang dengan nilai spiritual yang ingin dijaga?
Pemerintah Kota Pekanbaru mengambil langkah yang menarik: meniadakan kegiatan Car Free Day (CFD) di Jalan Udayana selama Ramadhan.
Keputusan ini bukan sekadar administratif. Ia adalah bentuk penataan ruang publik yang berpijak pada nilai kekhusyukan ibadah.
CFD yang biasanya dipenuhi pedagang kecil dan penjual makanan setiap Minggu pagi kini ditutup sementara.
Alasannya sederhana: agar masyarakat bisa lebih fokus beribadah tanpa terganggu oleh aktivitas jual-beli yang padat.
Tentu, ini menimbulkan dilema. Pelaku usaha merasa kehilangan ruang ekonomi. Tapi di sisi lain, ruang itu bisa dialihkan, menjadi area kuliner sore yang mendukung takjil dan buka puasa bersama di tempat lain.
Kebijakan seperti ini menuntut pendekatan komunikasi publik yang inklusif. Perubahan tata ruang tidak bisa hanya diumumkan secara top-down.
Ia harus dipahami sebagai bagian dari pengakuan terhadap nilai budaya lokal. Sebagai bentuk hormat terhadap bulan suci yang dijalani bersama.
Penutupan sementara tempat hiburan malam di Mataram selama Ramadhan menunjukkan hal yang sama: kehormatan terhadap suasana bulan suci.
Bukan larangan yang kaku, tapi ruang yang diberikan agar ibadah bisa dijalani dengan lebih tenang.
Di balik kehangatan tradisi berburu takjil, ada persoalan yang lebih teknis tapi tak kalah penting: kualitas dan keamanan pangan.
Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) mengintensifkan pengawasan pangan olahan, termasuk takjil di pasar UMKM.
Dari ratusan sampel yang diuji, mayoritas memang bebas bahan berbahaya. Tapi beberapa masih mengandung boraks.
Ini pengingat bahwa kegembiraan Ramadhan harus disertai tanggung jawab. Pedagang takjil, sekecil apa pun usahanya, memegang amanah kesehatan masyarakat.
Pemerintah, melalui pengawasan dan edukasi, perlu memastikan bahwa takjil yang dijual tidak hanya enak, tapi juga aman.
Kampanye literasi pangan sehat menjelang dan selama Ramadhan perlu terus digalakkan. Tidak dengan nada menghakimi, tapi dengan pendampingan.
Membantu pedagang kecil memahami standar keamanan. Memudahkan mereka mengurus izin dan sertifikasi.
Karena pada akhirnya, takjil yang aman bukan hanya soal kesehatan fisik. Ia juga soal ketenangan hati, bagi yang menjual dan yang membeli.
Namun, takjil bukan hanya soal jual-beli. Di banyak lokasi di kota ni, tersebar kegiatan buka puasa bersama yang mengandung unsur amal sosial.
Paket takjil dibagikan kepada warga yang tidak mampu. Kepada pengguna jalan yang masih bekerja sampai sore. Kepada siapa saja yang membutuhkan.
Inilah yang membuat Ramadhan istimewa. Ia bukan hanya bulan puasa, tapi juga bulan berbagi Bulan di mana solidaritas bukan hanya kata, tapi praktik nyata yang terjadi setiap sore di sudut-sudut kota.
Seorang tukang ojek yang menerima paket takjil gratis dari komunitas masjid mungkin tidak tahu siapa yang menyiapkannya. Tapi ia tahu satu hal: di bulan ini, ada orang yang peduli. Ada tangan yang mengulur. Ada hati yang berbagi.
Dan bagi yang memberi, takjil yang dibagikan bukan hanya makanan. Ia adalah doa. Harapan agar rezeki yang dititipkan Allah bisa menjadi berkah bagi sesama.
Ketika adzan Maghrib berkumandang, kota sejenak berhenti.
Perut yang lapar terpuaskan. Tapi yang lebih penting, ruang sosial tercipta, di sekitar takjil, bazar kuliner, hingga buka puasa bersama. Ruang yang menjadi representasi harmoni antara religiusitas dan keseharian masyarakat.
Ramadhan di kota bertuah dan di kota-kota lain di Indonesia adalah cermin transit nilai masyarakat.
Ia menunjukkan bagaimana budaya, kebiasaan, dan kebijakan publik bertemu. Bagaimana pemerintah bisa responsif terhadap dinamika sosial yang begitu kental selama bulan suci. Bagaimana masyarakat, dengan caranya sendiri, menata kebersamaan.
Narasi Ramadhan di era modern ini harus dipahami sebagai keseimbangan antara kekhusyukan ibadah, dinamika sosial ekonomi, dan pelayanan publik.
Ketika takjil menjadi pintu pembuka buka puasa, ruang publik berubah menjadi arena kehidupan sosial, dan kegiatan ngabuburit menghubungkan generasi muda dengan nilai budaya, maka Ramadhan bukan sekadar bulan puasa.
Ia adalah jantung sosial sebuah komunitas.
Sebuah refleksi yang tak lekang oleh waktu. Demi menjaga kebersamaan. Demi memperkaya kualitas pelayanan publik. Demi memastikan bahwa spiritualitas dan kehidupan sehari-hari tidak pernah terpisah, tapi selalu berjalan beriringan, seperti senja yang datang setiap sore, membawa harapan akan berbuka yang penuh berkah.
Sore ini, di suatu sudut kota Pekanbaru, seorang pedagang kolak pisang merapikan dagangannya. Ia tersenyum kepada pelanggan yang datang ibu-ibu, remaja, anak-anak.
Mereka datang bukan hanya untuk membeli. Mereka datang karena di sinilah mereka merasa Ramadhan benar-benar hadir.
Dalam panci kolaknya, bukan hanya ada pisang dan santan. Ada kehangatan. Ada kebersamaan. Ada cerita tentang kota yang tahu bagaimana menghormati waktu suci sambil tetap hidup, tetap bergerak, tetap berbagi.
Itulah Ramadhan.
Bukan hanya di langit, tapi juga di bumi. Di pasar. Di jalan. Di hati setiap orang yang memilih untuk hadir, bersama.
Tags : Ramadhan, takjil, ngabuburit, buka puasa, senja spiritualitas kebersamaan, magnet sosial, kolak pisang, bubur sumsum, es buah, ruang publik, Pesona Ramadhan ,