AYAT ALQURAN banyak menyebut berbagai watak kaum Yahudi. Sebagian orang mengeklaim, sudah semestinya umat Islam membenci Yahudi. Bahkan, klaim ini dikaitkan dengan Alquran, semisal surah Ali Imran ayat ke-100.
Artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Jika kamu mengikuti sebagian dari orang yang diberi Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir setelah beriman.”
Berbagai kitab tafsir menerangkan makna dari “sebagian dari orang yang diberi Kitab” atau “sebagian Ahli Kitab” itu adalah kaum Yahudi. Ayat itu seolah-olah hendak mengingatkan, bila kaum Muslimin mengikuti orang Yahudi, niscaya mereka akan terjerumus kembali ke dalam permusuhan dan kekafiran.
Bagaimana sebenarnya hukum membenci Yahudi? Bolehkah orang Islam membenci kaum Yahudi?
Pakar tafsir Alquran yang juga pengasuh Pondok Pesantren Bayt Alquran-Pusat Studi Alquran (PSQ) Jakarta, Ustaz Syahrullah Iskandar, menjelaskan, dalam Alquran terdapat surah al-Isra atau yang disebut juga surah Bani Israil.
Dinamakan demikian karena sembilan ayat pada awal surah itu berisi keterangan tentang anugerah Allah SWT kepada Bani Israil.
Siapakah Bani Israil itu? Menurut Ustaz Syahrullah, dilansir dari Pusat Data Republika, sebutan Bani Israil dinisbahkan kepada keturunan Nabi Yakub AS. Sebab, sang utusan Allah digelari Israil.
Hal itu tampak, misalnya, dalam Alquran surah Maryam ayat ke-58 jelas-jelas menyebut Nabi Yakub sebagai Israil.
Ada banyak nabi yang merupakan keturunan Nabi Yakub AS. Mereka adalah Nabi Yusuf, Nabi Musa, Nabi Harun, Nabi Daud, Nabi Sulaiman, Nabi Ayyub, Nabi Zakariya, Nabi Yahya, hingga Nabi Isa bin Maryam.
Secara kebahasaan, israil berasal dari kata berbahasa Ibrani, isra yang berarti ‘hamba’ dan il atau iyl yang merujuk pada Tuhan (Allah). Dalam bahasa Arab, israil sepadan dengan sebutan 'abdullah. Keduanya sama-sama bermakna ‘hamba Allah.’
Muhammad Sayyid Thanthawi dalam bukunya, Banu Isra’il fi al-Qur’an menerangkan bahwa Bani Israil dalam sejarahnya mengalami hidup secara berpindah-pindah, yakni dari satu wilayah ke wilayah lain. Itu dilakukan mereka demi mencari penghidupan.
Karena itu, mereka dinamakan pula sebagai orang Ibrani alias Ibariniyyun. Nama ini berakar dari kata abara. Artinya, ‘yang melintasi wilayah-wilayah.’
Dalam konteks sekarang, apakah Israel—entitas penjajah Palestina—dapat disamakan dengan Bani Israil yang disebutkan dalam Alquran? Menurut Ustaz Syahrullah, penilaian yang ada mesti bersandar pada objektivitas.
"Tentu kita harus objektif melihat persoalan ini bahwa Israel yang berkonflik dengan Palestina sekarang adalah sebuah entitas bentukan beberapa puluh tahun belakangan. Adapun Bani Israil yang dibicarakan dalam Alquran itu sudah hadir jauh sebelum kenabian Rasulullah Muhammad SAW," ujar Ustaz Syahrullah, seperti dinukil dari Pusat Data Republika.
Bani Israil disebut pula sebagai Yahudi, yang namanya secara kebahasaan berarti ‘tobat’ atau ‘kembali.’ Pertobatan orang-orang keturunan Yakub AS ini diceritakan dalam Alquran, yakni surah al-A’raf ayat 156.
Ada pula yang berpendapat, terminologi yahudi diambil dari nama salah seorang putra Nabi Yakub, yakni Yahudza. Dengan demikian, kaum Yahudi adalah ‘anak keturunan Yahudza.’
Secara garis besar, Alquran menggambarkan Bani Israil dalam tiga konteks, yaitu mereka yang memperoleh karunia, mereka yang membangkang perintah Allah, dan balasan yang ditimpakan kepadanya.
Alquran juga menggambarkan sifat buruk dari kaum Yahudi. Misalnya adalah kerap melanggar perjanjian, membunuh nabi-nabi yang Allah utus di antara mereka.
Alquran surah al-Maidah ayat ke-82 menyebutkan. Artinya, “Pasti akan kamu dapati orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman, yaitu orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik.”
Menurut Ustaz Syahrullah, penafsiran atas ayat itu beragam di antara para ulama. Ada yang berpendapat, itu mencakup semua Yahudi. Ada pula yang mengatakan bahwa tidak semua Yahudi bersikap memusuhi kaum Muslimin.
"Bukankah tercatat dalam Piagam Madinah betapa penganut agama lain juga hidup berdampingan dengan kaum Muslimin? Kita ingat bagaimana Rasulullah SAW memperlakukan secara adil Zaid bin al-Samin, seorang Yahudi, ketika berperkara dengan Thu’mah ibn Ubairiq, seorang Muslim. Peristiwa ini juga terkait dengan sebab turunnya surah an-Nisa ayat ke-105," papar Ustaz Syahrullah.
Dalam konteks Israel-Palestina, menurut dia, semua orang dapat melihatnya dalam lingkup isu kemanusiaan dan komitmen anti-penjajahan.
"Ibarat tindak terorisme yang kebetulan (misalnya) pelakunya seorang Muslim, itu bukan berarti agama Islam adalah agama yang mendukung terorisme. Kekerasan atas nama agama adalah musuh bersama umat manusia. Demikian halnya dengan kezaliman dan kebiadaban—itu tidak boleh dibela," tutur dia.
Tags : yahudi, kaum yahudi, alquran, sifat kaum yahudi, bani israil, israel,