Artikel   2026/06/19 18:26 WIB

Setiap Muslim Hendaknya Bersegera dalam Kebaikan

Setiap Muslim Hendaknya Bersegera dalam Kebaikan

MUSLIM hendaknya bersegera melakukan kebaikan, sekecil apa pun itu. Dalam kehidupan yang serba cepat ini, manusia sering kali lalai dalam menangkap peluang kebaikan yang ada.

Padahal, Islam mengajarkan umatnya untuk bersegera dalam melakukan kebaikan dan tidak menunda amal saleh. Allah SWT berfirman, “Berlomba-lombalah kalian dalam kebaikan” (QS al-Baqarah: 148).

Setiap orang memiliki kesempatan dan peluang yang sama untuk melakukan kebaikan, untuk diri sendiri maupun orang lain. Namun, pada hakikatnya balasan atas setiap kebaikan yang kita lakukan akan kembali kepada kita, di dunia maupun akhirat kelak (QS al-Isra: 7).

Rasulullah SAW bersabda, “Bersegeralah melakukan amalan saleh sebelum datang fitnah (musibah) seperti potongan malam yang gelap. Yaitu, seseorang pada waktu pagi dalam keadaan beriman dan pada sore hari dalam keadaan kafir. Ada pula yang sore hari dalam keadaan beriman dan pada pagi hari dalam keadaan kafir. Ia menjual agamanya karena sedikit dari keuntungan dunia” (HR Muslim).

Komitmen untuk melakukan kebaikan bisa dimulai dengan memperbaiki niat. Niat yang baik akan senantiasa mengantarkan seseorang berada dalam jalur kebaikan.

Seorang ulama bernama Ahmad bin Hanbal pernah mengatakan, “Berniatlah untuk melakukan kebaikan karena sesungguhnya engkau akan senantiasa berada dalam kebaikan selama meniatkan diri untuk melakukan kebaikan.”

Sebenarnya, kebaikan dapat dimaknai sebagai ibadah dalam makna yang luas, yakni segala sesuatu yang dicintai dan diridhai oleh Allah. Itu dapat berupa perkataan maupun perbuatan, yang tampak (zahir) maupun yang tidak terlihat (bathin).

Dengan demikian, peluang-peluang untuk melakukan kebaikan sangat terbuka lebar. Setidaknya, kebaikan tersebut dapat dikelompokkan menjadi beberapa bagian.

Pertama, dari segi bentuknya kebaikan ada yang berupa perkataan (qauli) dan perbuatan (fi’li). Contoh kebaikan dalam bentuk perkataan adalah berzikir kepada Allah, membaca Alquran, berkata yang baik, dan lain sebagainya. Adapun dalam bentuk perbuatan bisa berupa shalat, puasa, zakat, sedekah, menolong orang yang membutuhkan, dan lain sebagainya.

Kedua, dari segi sifatnya. Kebaikan ada yang bersifat tampak (zahir) dan ada pula yang tidak tampak (bathin).

Kebaikan yang zahir berarti segala bentuk kebajikan yang dapat dilihat oleh pancaindra, seperti sedekah dan lainnya. Adapun kebaikan yang bersifat bathin tidak bisa dilihat oleh pancaindra, tetapi bisa dirasakan oleh orang yang melakukannya. Misalnya, berzikir dalam hati, berniat melakukan kebaikan, perasaan malu untuk melakukan kemaksiatan, dan sebagainya.

Wilayah amalan keimanan mencakup segala sesuatu yang besar dan juga yang kecil. Cabangnya pun tidak sedikit.

Rasulullah SAW bersabda, “Iman itu ada 70 atau 60 cabang lebih. Yang paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, sedangkan yang paling rendahnya adalah menyingkirkan sesuatu yang mengganggu dari jalan. Dan, malu itu adalah salah satu cabang keimanan” (HR Bukhari dan Muslim).

Oleh karena itu, sebagai Muslim kita dituntut untuk bersegera melakukan kebaikan, sekecil apa pun. Karena dengan konsistensi (istiqamah) dalam mengamalkan kebaikan, itu akan memantik ampunan dan rahmat dari Allah SWT.

Allah telah memerintahkan para hamba-Nya agar senantiasa menjemput ampunan dan rahmat-Nya dengan memperbanyak amal kebaikan (QS Ali Imran: 133-134).

Semoga kita termasuk orang yang senantiasa disibukkan dengan kebaikan. Aamiin. 

Tags : hikmah, kebaikan, segera dalam kebaikan, berbuat baik,