Stabilitas harga dan promosi agresif disiapkan untuk melindungi daya beli konsumen.
BISNIS - Menjelang Ramadhan, para peritel di Uni Emirat Arab (UEA) menyatakan akan berfokus pada stabilitas harga, diskon besar, serta strategi pengadaan yang lebih cerdas untuk melindungi konsumen dari tekanan biaya global. Langkah ini dilakukan guna memastikan kebutuhan pokok sehari-hari tetap terjangkau selama bulan suci.
Mulai dari pembekuan harga bahan pokok hingga promosi Ramadhan berskala besar dan pengiriman yang lebih cepat, jaringan supermarket utama serta platform daring memosisikan nilai, kenyamanan, dan pilihan sebagai inti strategi Ramadhan mereka. Hal itu dilakukan di tengah inflasi global dan risiko rantai pasokan yang masih membebani pasar pangan dunia.
Para peritel menyebut perencanaan dini, diversifikasi sumber pengadaan, serta kemitraan kuat dengan pemasok telah membantu mereka menyerap tekanan biaya tanpa harus membebankannya kepada konsumen. Berdasarkan keterangan Departemen Urusan Islam dan Kegiatan Amal Dubai (Islamic Affairs and Charitable Activities Department/IACAD), Ramadhan diperkirakan jatuh pada 19 Februari 2026.
Stabilitas Harga Diutamakan
Di seluruh sektor, peritel menegaskan komitmen untuk menahan kenaikan harga selama periode ketika pengeluaran rumah tangga cenderung meningkat. CEO Grandiose, Mussaab Aboud, mengatakan perusahaannya secara sengaja menghindari kenaikan harga selama Ramadhan meskipun terjadi lonjakan permintaan.
“Kami tahu selama Ramadhan orang-orang membeli lebih banyak, tetapi kami tidak menggunakan kesempatan ini untuk menaikkan harga. Kami justru memanfaatkannya untuk memberikan diskon agar pelanggan merasa nyaman membeli apa yang mereka butuhkan,” ujarnya, dilansir di Gulf News, Senin (2/2/2026).
Hal senada disampaikan LuLu Group yang menyebut telah menetapkan harga sejak awal serta bekerja sama erat dengan pemasok global guna memastikan harga yang adil dan stabil bagi kebutuhan pokok sepanjang bulan.
“Fokus kami adalah memberikan pengalaman belanja yang berorientasi pada nilai, didukung oleh perencanaan awal dan kemitraan pemasok yang kuat,” kata Direktur Operasi Global LuLu Group, Salim.
Inflasi Tetap Rendah
Para peritel juga menilai UEA masih menjadi salah satu pasar ritel paling stabil di dunia, meskipun harga pangan global berfluktuasi.
Berdasarkan Tinjauan Ekonomi Kuartalan Bank Sentral UEA, inflasi harga konsumen tercatat sekitar 2,17 persen pada akhir 2025 dan diperkirakan berada di kisaran 1,8 persen pada 2026. Pengendalian harga yang efektif, impor yang terdiversifikasi, serta biaya energi dan perumahan yang stabil turut menahan lonjakan harga pangan.
Menurut pelaku industri, tidak terdapat indikasi kekurangan pasokan besar atau guncangan harga yang signifikan selama Ramadhan.
“Ketegangan perdagangan global memang menambah sebagian biaya logistik, tetapi posisi UEA sebagai pusat perdagangan dengan infrastruktur yang kuat serta strategi adaptif mencegah gangguan serius. Kami melihat kinerja yang solid tanpa kekurangan luas atau lonjakan tajam harga konsumen,” kata Wakil CEO sekaligus Direktur Grup dan Mitra Al Maya Group, Kamal Vachani.
Tren Pangan Global
Secara global, harga pangan mengalami fluktuasi dalam setahun terakhir akibat gangguan iklim, ketegangan geopolitik, dan meningkatnya biaya logistik. Namun, peritel di Timur Tengah relatif lebih terlindungi berkat sumber pasokan yang terdiversifikasi dari Asia, Eropa, Afrika, dan Amerika Selatan.
Peritel di UEA menyatakan investasi pada peramalan permintaan, perencanaan persediaan, serta pengembangan produk merek sendiri berperan penting dalam meredam dampak gangguan global dan menjaga ketersediaan barang di rak. Selama Ramadhan, para peritel juga menyiapkan sejumlah promosi terbesar sepanjang tahun sebagai bagian dari upaya mempertahankan daya beli dan loyalitas konsumen. (*)
Tags : ramadhan, stabilitas harga, peritel uea, diskon besar, kebutuhan pokok, inflasi , rantai pasokan pengadaan cerdas, promosi ramadhan, pengalaman belanja, ramadhan 2026, uni emirat arab, ramadhan di uea,