AGAMA - Makkah Al-Mukarramah merupakan tempat yang paling indah dan paling suci di bumi, negeri terbaik dan paling mulia.
Kota ini menjadi sumber kehidupan bagi hati dan tempat bernaungnya iman.
Di sinilah Nabi Muhammad SAW dilahirkan, dan dari tanahnya memancar cahaya wahyu yang menerangi kegelapan.
Makkah disebut sebagai bagian bumi yang pertama kali diciptakan.
Di kota ini pula berdiri rumah ibadah pertama yang dibangun untuk manusia, yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.
Hati manusia berbondong-bondong menuju Ka'bah karena kerinduan kepada Allah, sementara jiwa-jiwa berlari kecil di antara Bukit Safa dan Marwah dengan penuh penghayatan dalam beribadah.
Di tanah suci ini, pepohonannya tidak boleh ditebang, hewan buruannya tidak boleh dibunuh atau diusik, dan siapa pun yang berniat menyerangnya tidak akan dibiarkan begitu saja.
Inilah Makkah Al-Mukarramah, yang juga dikenal dengan nama Bakkah, Al-Muqaddasah (kota suci), Al-Hathimah (yang menghancurkan musuh), Baitul Atiq (Rumah Tua yang dimuliakan), Al-Balad Al-Amin (negeri yang aman), dan Ummul Qura (induk segala negeri).
Allah SWT telah memilih Tanah Haram Makkah sebagai tempat bagi Nabi-Nya yang mulia, Muhammad SAW.
Di dalamnya terdapat berbagai tanda nyata yang menunjukkan kebesaran dan keagungan ciptaan Allah. Salah satunya disebutkan dalam firman-Nya:
فِيهِ آيَاتٌ بَيِّنَاتٌ مَّقَامُ إِبْرَاهِيمَ ...
“Di dalamnya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim.” (QS Ali Imran [3]: 97, bagian ayat).
Ayat tersebut menegaskan keistimewaan Baitullah, sebagaimana firman Allah SWT:
إِنَّ أَوَّلَ بَيْتٍ وُضِعَ لِلنَّاسِ لَلَّذِي بِبَكَّةَ مُبَارَكًا وَهُدًى لِّلْعَالَمِينَ
“Sesungguhnya rumah (ibadah) pertama yang dibangun untuk manusia adalah (Baitullah) yang (berada) di Bakkah (Makkah) yang diberkahi dan menjadi petunjuk bagi seluruh alam.”(QS Ali Imran [3]: 96).
Ka'bah bukanlah bangunan yang pertama kali didirikan manusia di bumi, melainkan telah diletakkan oleh para malaikat sebagai persiapan menyambut kedatangan nenek moyang manusia, Nabi Adam AS.
Karena itu, Ka'bah disebut Baitul Atiq, yakni Rumah Tua yang dimuliakan.
Ini juga menegaskan sabda Rasulullah SAW bahwa kawasan Makkah dan Tanah Haramnya merupakan bagian daratan tertua di bumi, serta menjadi tempat dari mana daratan lainnya dibentangkan (dahw al-ardh).
Berikut sejumlah tanda yang menurut penulis menunjukkan kebesaran Allah di Tanah Haram Makkah, sebagaimana dijelaskan Syekh Muhammad Ash-Shalabi dalam laman resminya:
1. Makkah sebagai pusat daratan bumi
Menurut penulis, bumi merupakan pusat dari tujuh lapis langit. Pendapat ini dikaitkan dengan firman Allah SWT:
يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَن تَنفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ فَانفُذُوا لَا تَنفُذُونَ إِلَّا بِسُلْطَانٍ
“Wahai golongan jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, tembuslah. Kamu tidak akan mampu menembusnya, kecuali dengan kekuatan (dari Allah).”(QS Ar-Rahman [55]: 33).
Penulis menghubungkan ayat tersebut dengan konsep pusat dalam geometri. Menurutnya, garis diameter suatu bentuk geometris merupakan garis yang menghubungkan dua titik berseberangan melalui pusatnya.
Ia kemudian berpendapat bahwa diameter langit, meskipun ukurannya sangat besar, berkaitan dengan diameter bumi yang relatif kecil sebagaimana dipahaminya dari ayat tersebut. Dari penalaran itu, penulis menyimpulkan bahwa bumi merupakan pusat alam semesta.
Penulis juga mengemukakan bahwa Alquran menyebut langit, bumi, dan segala yang ada di antara keduanya dalam sekitar dua puluh ayat secara eksplisit, serta menyandingkan langit dan bumi dalam puluhan ayat lainnya.
Selain itu, penulis mengutip keterangan tentang Al-Baitul Ma'mur, yang berada di langit ketujuh tepat di atas Ka'bah. Dalam riwayat yang disebutkannya, apabila Al-Baitul Ma'mur jatuh, tempat jatuhnya akan tepat di atas Ka'bah.
Menurut penulis, keterangan-keterangan tersebut menegaskan posisi bumi terhadap tujuh lapis langit.
Ia kemudian menyimpulkan bahwa Tanah Haram Makkah berada di pusat hubungan antara tujuh lapis langit dan tujuh lapis bumi, sebagaimana dipahaminya dari sejumlah riwayat Nabi Muhammad SAW.
2. Tidak adanya penyimpangan magnetik pada garis bujur Makkah
Menurut naskah ini, tempat-tempat yang berada pada garis bujur yang sama dengan Makkah memiliki kesesuaian antara arah utara magnetis, yang ditunjukkan oleh jarum kompas, dan arah utara geografis, yang ditentukan berdasarkan Bintang Kutub.
Dengan kata lain, penulis berpendapat bahwa pada garis bujur Makkah tidak terdapat penyimpangan magnetik, sedangkan penyimpangan tersebut terdapat pada garis-garis bujur lainnya.
3. Ketepatan arah keempat sudut Ka'bah
Menurut penulis, Ka'bah dibangun dengan keempat sudutnya menghadap empat arah mata angin utama secara tepat.
Sudut Syami menghadap ke utara geografis, sedangkan sudut Yamani menghadap ke selatan geografis. Sudut Hajar Aswad menghadap ke timur geografis, sementara sudut yang dikenal sebagai sudut Mesir menghadap ke barat geografis.
Penulis menilai bahwa penentuan arah mata angin dengan ketepatan seperti itu, pada masa pembangunan Ka'bah yang telah berlangsung sejak zaman kuno, merupakan hal yang luar biasa dan tidak mungkin semata-mata merupakan hasil kemampuan manusia.
4. Hajar Aswad Berasal dari Batu Langit
Ubay bin Ka'ab meriwayatkan dari Nabi Muhammad SAW bahwa beliau bersabda:
الحجر الأسود نزل به ملك من السماء
“Hajar Aswad dibawa turun oleh seorang malaikat dari langit.”
Imam Ahmad meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Ibnu Abbas RA bahwa Rasulullah SAW bersabda:
نزل الحجر الأسود من الجنة، وهو أشد بياضاً من اللبن، فسودته خطايا بني آدم
Artinya: “Hajar Aswad turun dari surga dalam keadaan lebih putih daripada susu, lalu dosa-dosa anak Adam membuatnya menjadi hitam.”
At-Tirmidzi, Ahmad, Al-Hakim, dan Ibnu Hibban juga meriwayatkan sabda Rasulullah SAW:
إن الركن والمقام ياقوتتان من ياقوت الجنة
Artinya: “Sesungguhnya Hajar Aswad dan Maqam Ibrahim adalah dua batu yakut dari yakut surga.”
Ketika membaca hadis-hadis tersebut, sejumlah orientalis beranggapan bahwa Hajar Aswad hanyalah sebongkah batu basal yang terbawa banjir dari kawasan berbatu vulkanik di sekitar Makkah, kemudian terdampar di dataran rendah kota tersebut.
Untuk membuktikan anggapan itu, menurut naskah ini, Royal Geographical Society Inggris mempekerjakan seorang perwira Inggris bernama Richard Francis Burton.
Pada pertengahan abad ke-19 Masehi, tepatnya pada 1269 H/1853 M, ia datang ke Hijaz dengan menyamar sebagai jamaah haji asal Afganistan. Tujuannya adalah mengambil sebagian kecil Hajar Aswad dan membawanya ke Inggris.
Upaya tersebut berhasil dilakukan. Setelah sampel yang diambil diteliti, penulis mengklaim bahwa batu itu berasal dari luar bumi karena memiliki kemiripan dengan batu meteorit, meskipun mempunyai komposisi kimia dan mineral yang khas. Penemuan tersebut, menjadi salah satu sebab Burton memeluk Islam.
Kisah perjalanannya kemudian dicatat dalam sebuah buku dua jilid berjudul A Pilgrimage to Mecca. Naskah sumber mencantumkan tahun wafat Burton sebagai 1980 M/1308 H; keterangan tahun tersebut tampaknya keliru.
5. Maqam Ibrahim dan jejak telapak kaki Nabi Ibrahim AS
Kata maqam, baik dibaca dengan huruf mim berharakat fathah maupun dammah, memiliki beberapa makna.
Kata itu dapat berarti tempat menetap atau tempat tinggal, yang berasal dari kata kerja aqama–yuqimu (menetap atau mendirikan). Karena itu, ungkapan Alquran Maqam Ibrahim juga pernah dipahami secara luas sebagai kawasan Tanah Haram Makkah.
Namun, kata maqam juga dapat berarti tempat berdiri, dari kata qama–yaqumu. Berdasarkan pengertian ini, Maqam Ibrahim dipahami sebagai batu tempat Nabi Ibrahim AS berdiri ketika membangun fondasi Ka'bah.
Menurut penjelasan dalam naskah ini, batu tersebut memiliki tanda yang nyata: meskipun keras, permukaannya memperlihatkan lekukan yang diyakini sebagai bekas telapak kaki Nabi Ibrahim AS, bapak para nabi.
Penulis menilai bahwa kemampuan batu yang sangat keras untuk memperlihatkan cetakan telapak kaki merupakan mukjizat yang sulit dijelaskan dengan ukuran ilmiah biasa.
Menurutnya, mukjizat merupakan peristiwa yang melampaui kebiasaan dan hukum alam sehingga tidak dapat sepenuhnya dijelaskan melalui ilmu pengetahuan yang diperoleh manusia.
Karena itu, Maqam Ibrahim dipandang sebagai tanda nyata bagi orang-orang yang mau memperhatikan dan mengambil pelajaran.
6. Sumur Zamzam, salah satu tanda kebesaran di Tanah Haram Makkah
Air Sumur Zamzam telah mengalir selama lebih dari tiga ribu tahun dari kawasan yang terdiri atas batuan beku atau batuan metamorf yang mengalami kristalisasi kuat.
Keberlangsungan aliran air tersebut dipandang sebagai hal yang menarik, terlebih sumur itu telah beberapa kali tertimbun dan digali kembali.
Menurut naskah ini, sumber aliran air Zamzam baru mulai dipahami setelah pembangunan terowongan di sekitar Makkah.
Para pekerja yang menggali terowongan mendapati bahwa air mengalir melalui rekahan-rekahan batuan yang sangat halus dan memanjang hingga jauh ke luar batas kota, ke berbagai arah.
Pengamatan tersebut dikaitkan dengan sabda Nabi Muhammad SAW mengenai asal-usul sumur yang diberkahi ini:
هي هزمة جبريل وسقيا الله لإسماعيل
Artinya: “Itulah hentakan Jibril dan pemberian minum dari Allah untuk Ismail.”
Kata hazmah dalam bahasa Arab dapat merujuk pada hentakan atau pukulan yang kuat. Hadis tersebut menggambarkan peristiwa yang berkaitan dengan munculnya air Zamzam untuk Nabi Ismail AS.
Sumur Zamzam merupakan salah satu tanda nyata yang dikaitkan dengan kemuliaan Makkah. Rasulullah SAW bersabda tentang airnya:
خير ماء على وجه الأرض ماء زمزم، فيه طعام طعم وشفاء سقم
Artinya: “Sebaik-baik air di muka bumi adalah air Zamzam. Di dalamnya terdapat makanan yang mengenyangkan dan obat bagi penyakit.”
Beliau juga bersabda:
ماء زمزم لما شرب له
Artinya: “Air Zamzam sesuai dengan tujuan orang yang meminumnya.”
Hadis-hadis tersebut sering dijadikan landasan bagi umat Islam untuk meyakini keutamaan air Zamzam dan meminumnya dengan niat yang baik serta harapan akan pertolongan Allah SWT.
7. Siapa yang memasukinya akan aman
Ibnu Katsir menjelaskan dalam kitab tafsirnya mengenai firman Allah SWT, “Siapa yang memasukinya akan aman.” Maksudnya adalah Tanah Haram Makkah. Siapa pun yang memasuki kawasan itu dalam keadaan takut akan memperoleh perlindungan dari berbagai bahaya.
Ketentuan tersebut, menurut Ibnu Katsir, juga telah dikenal pada masa jahiliah. Sebagaimana diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri dan sejumlah ulama lainnya, seseorang yang telah membunuh orang lain dapat memasuki Tanah Haram dengan mengenakan seutas benang wol di lehernya.
Ketika bertemu dengan keluarga orang yang dibunuhnya, mereka tidak mengganggunya selama ia masih berada di dalam kawasan suci tersebut. Namun, setelah ia keluar, barulah mereka dapat menuntut pertanggungjawabannya.
Ibnu Abbas RA juga menyatakan bahwa siapa pun yang berlindung di Baitullah akan mendapatkan perlindungan dari Baitullah.
Akan tetapi, menurut riwayat tersebut, ia tidak diberi tempat tinggal, makanan, ataupun minuman. Apabila ia telah keluar dari kawasan suci, barulah ia dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya.
Allah SWT berfirman:
أَوَلَمْ يَرَوْا أَنَّا جَعَلْنَا حَرَمًا آمِنًا وَيُتَخَطَّفُ النَّاسُ
“Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Kami telah menjadikan (negeri mereka) tanah suci yang aman, sedangkan manusia di sekitarnya saling menculik?” (QS Al-Ankabut [29]: 67).
Allah SWT juga berfirman:
فَلْيَعْبُدُوا رَبَّ هَذَا الْبَيْتِ ٣ الَّذِي أَطْعَمَهُمْ مِنْ جُوعٍ وَآمَنَهُمْ مِنْ خَوْفٍ ٤
“Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka'bah), yang telah memberi mereka makanan untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa takut.” (QS Quraisy [106]: 3–4).
Salah satu bentuk penghormatan terhadap Tanah Haram adalah larangan memburu hewan, mengusik hewan yang berada di sarangnya, menebang pepohonan, dan mencabut tumbuh-tumbuhan di kawasan tersebut. Berbagai hadis dan riwayat menjelaskan ketentuan ini.
Dalam Sahih Muslim, dengan redaksi yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas RA, disebutkan bahwa Rasulullah SAW bersabda pada hari pembebasan Makkah:
لا هجرة ولكن جهاد ونية وإذا استنفرتم فانفروا
Artinya: “Tidak ada lagi hijrah (dari Makkah setelah pembebasannya), tetapi yang ada adalah jihad dan niat. Apabila kalian diperintahkan untuk berangkat, berangkatlah.”
Hadis ini berkaitan dengan pembahasan hijrah dan jihad, sedangkan ketentuan khusus mengenai perlindungan Tanah Haram dijelaskan dalam riwayat-riwayat lainnya.
Naskah ini menegaskan bahwa berbagai tanda yang menunjukkan kebesaran Allah dan rahasia keagungan ciptaan-Nya menjadi bukti bagi penulis tentang kebenaran Alquran sebagai firman Allah yang diturunkan kepada nabi dan rasul terakhir, Muhammad SAW.
8. Kehormatan Tanah Haram dan larangan berbuat kerusakan
Rasulullah SAW bersabda:
إن هذا البلد حرمه الله يوم خلق السماوات والأرض، فهو حرام بحرمة الله يوم القيامة، وأنه لم يحل القتال فيه لأحد قبلي ولم يحل لي إلا في ساعة من نهار، فهو حرام يحرمه الله إلى يوم القيامة لا يعضد شوكه، ولا ينفر صيده، ولا تلتقط لقطته إلا من عرفها، ولا يختلى خلاه
فقال العباسي: يا رسول الله إلا الأذخر فإنه لقينهم ولبيوتهم، فقال: «إلا الأذخر».
“Sesungguhnya negeri ini telah Allah jadikan suci sejak Dia menciptakan langit dan bumi. Karena itu, negeri ini tetap suci dengan ketetapan Allah hingga hari kiamat. Tidak seorang pun sebelumku dihalalkan berperang di dalamnya, dan aku pun hanya diizinkan berperang di dalamnya selama sesaat pada siang hari. Oleh karena itu, negeri ini tetap suci berdasarkan ketetapan Allah hingga hari kiamat. Duri pepohonannya tidak boleh dipotong, hewan buruannya tidak boleh diusik, barang temuannya tidak boleh diambil kecuali oleh orang yang hendak mengumumkannya, dan tumbuh-tumbuhan liarnya tidak boleh dicabut.”
Al-Abbas kemudian berkata, “Wahai Rasulullah, kecuali tumbuhan idzkhir, karena tumbuhan itu diperlukan untuk keperluan pandai besi dan rumah-rumah mereka.”
Beliau menjawab, “Kecuali tumbuhan idzkhir.”
Jabir RA juga meriwayatkan bahwa ia mendengar Rasulullah SAW bersabda:
لا يحل لأحد أن يحمل السلاح بمكة
“Tidak halal bagi siapa pun membawa senjata di Makkah.”
Sementara itu, Abdullah bin Al-Hamra’ Az-Zuhri meriwayatkan bahwa ia mendengar Rasulullah SAW berdiri di Al-Harurah, di pasar Makkah, lalu bersabda:
والله إنك لخير أرض الله وأحب أرض الله إلى الله، ولولا أني أُخرجت منك ما خرجت
“Demi Allah, engkau adalah bumi Allah yang terbaik dan bagian bumi yang paling dicintai Allah. Seandainya aku tidak diusir darimu, niscaya aku tidak akan meninggalkanmu.”
Hadis-hadis tersebut menunjukkan kedudukan Makkah sebagai tanah suci yang memiliki kehormatan khusus.
Di dalamnya terdapat ketentuan yang harus dijaga oleh umat Islam, termasuk larangan merusak lingkungan, mengganggu hewan buruan, dan melakukan tindakan yang bertentangan dengan kehormatan Tanah Haram.
9. Perlindungan Allah terhadap Tanah Haram Makkah
Hasil pengamatan menyatakan bahwa hewan-hewan yang biasanya saling menyerang di luar kawasan Tanah Haram tampak tidak saling mengganggu di dalamnya.
Bahkan, ada klaim bahwa sejumlah hewan dapat hidup berdampingan dengan hewan yang biasanya menjadi mangsanya di luar kawasan tersebut.
Burung-burung biasanya tidak terbang tepat di atas Ka'bah, melainkan berbelok ketika mendekatinya, seolah-olah turut mengelilingi bangunan suci itu.
Selain itu, sejarah Islam mencatat kisah sejumlah penguasa yang hendak menyerang Tanah Haram, tetapi gagal melaksanakan niatnya. Salah satu peristiwa yang terkenal adalah kisah pasukan bergajah yang dipimpin Abrahah.
Allah SWT juga menegaskan ancaman bagi siapa pun yang berniat melakukan kezaliman di Tanah Haram. Firman-Nya:
وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍۢ بِظُلْمٍ نُّذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيْمٍ
“Siapa yang bermaksud melakukan kejahatan secara zalim di dalamnya, niscaya akan Kami rasakan kepadanya siksa yang pedih.” (QS Al-Hajj [22]: 25, bagian ayat).
Ayat tersebut sebagai penegasan bahwa Tanah Haram memiliki kehormatan yang harus dijaga. Ia juga mengutip hadis mengenai Dajjal yang tidak dapat memasuki Makkah dan Madinah:
الدجال يطوي الأرض كلها إلا مكة والمدينة
“Dajjal menjelajahi seluruh bumi, kecuali Makkah dan Madinah.”
Hadis ini menggambarkan keistimewaan kedua kota suci tersebut dalam riwayat-riwayat mengenai kemunculan Dajjal.
10. Batas-batas Tanah Haram Makkah
Luas kawasan Tanah Haram Makkah diperkirakan sekitar 600 kilometer persegi. Kawasan tersebut terdiri atas rangkaian lembah dan dataran rendah yang membentang dari Makkah hingga kawasan Arafah di sebelah timur, melewati Wadi Mina dan Wadi Muzdalifah.
Batas-batas Tanah Haram telah ditetapkan sejak masa Nabi Adam AS. Malaikat Jibril kemudian menyampaikan batas-batas tersebut kepada Nabi Ibrahim AS, bapak para nabi.
Batas-batas itu ditandai dengan sejumlah penanda batu yang ditempatkan di berbagai arah, terutama di jalur-jalur utama menuju kawasan Tanah Haram. Penanda tersebut menjadi petunjuk bagi orang yang memasuki atau keluar dari wilayah suci Makkah.
Tags : makkah, keutamaan makkah, Keistimewaan makkah,