Sejarah   2026/02/28 14:11 WIB

Sultan Ahmet Bangun Masjid Biru dengan Tangan Sendiri Bak Buruh Kasar yang Bekerja Siang-Malam

Sultan Ahmet Bangun Masjid Biru dengan Tangan Sendiri Bak Buruh Kasar yang Bekerja Siang-Malam

Masjid Sultanahmet menjadi simbol penting dari identitas sejarah Istanbul.

SEJARAH - Masjid Sultanahmet di Istanbul, Turkiye dikenal dunia sebagai "Masjid Biru" karena interiornya dihiasi dengan ubin Iznik berwarna biru.

Masjid ini selalu dipenuhi keluarga yang berkunjung sepanjang malam Ramadhan.

Ada sebuah pepatah di kalangan penduduk Istanbul lama: "Istanbul tidur di malam hari selama 11 bulan dalam setahun, tetapi selama Ramadhan, kota ini tetap terjaga dari sholat Maghrib hingga Subuh."

Sebagai salah satu pencapaian paling terkemuka dalam arsitektur Turki Utsmani, Masjid Sultanahmet selama lebih dari empat abad terus berfungsi tidak hanya sebagai tempat ibadah tetapi juga sebagai simbol penting dari identitas sejarah dan budaya Istanbul.

Menukil Dailysabah, Rabu (25/2/2206), bangunan megah ini dibangun oleh Sultan Ahmed I dengan menugaskan seorang arsitek bernama Sedefkar Mehmed Agha.

Masjid yang pertama dalam arsitektur Ottoman dengan enam menaranya ini mulai dibangun pada 1609. Pembangunan masjid memakan waktu selama tujuh tahun lima bulan. 

Masjid Sultanahmet dianggap sebagai salah satu karya paling indah dari peradaban Turki-Islam, masjid ini secara resmi dibuka untuk peribadatan pada 9 Juni 1617.

Dengan halaman yang luas, kubah pusat, dan kubah setengah lingkaran, struktur ini menonjol baik dari segi estetika maupun teknik.

Posisinya yang berhadapan dengan Hagia Sophia menciptakan keseimbangan arsitektur yang khas dalam cakrawala Istanbul.

Kompleks yang terdiri dari masjid, madrasah, sekolah dasar, paviliun kerajaan, dan arasta (pasar), berdiri sebagai contoh penting dari pendekatan perencanaan kota yang berpusat pada masjid pada era Ottoman.

Melalui struktur külliye ini, kehidupan keagamaan, pendidikan, dan interaksi sosial diorganisir di sekitar satu pusat kemasyarakatan.

Saat ini, dengan jutaan pengunjung lokal dan internasional setiap tahunnya, Masjid Sultanahmet terus mempertahankan statusnya sebagai salah satu landmark bersejarah yang paling banyak dikunjungi di kota ini.

Akademisi dan sejarawan seni, Yasin Saygılı membahas latar belakang sejarah masjid, desain arsitektur, motif interior, suasana kota selama Ramadhan, dan aspek kehidupan sosial pada periode Ottoman.

Saygılı menjelaskan bahwa Sultan Ahmed I, yang naik tahta di usia muda, memerintahkan pembangunan masjid tersebut sebagai kompleks holistik yang mencakup masjid itu sendiri beserta külliye, madrasah, pemandian, dan pasar.

Ia mencatat, nama Sultan Ahmed I dikenal dalam sejarah Ottoman sebagai penguasa yang menghapus praktik pembunuhan saudara kandung dan memperkenalkan sistem suksesi "senioritas dan prestasi" setelah kematian ayahnya, Sultan Mehmed III.

Saygılı menekankan bahwa pembangunan masjid tersebut dimaksudkan untuk menunjukkan kekuatan dan prestise Kekaisaran Ottoman pada saat itu.

Menyoroti pilihan lokasi tersebut, Saygılı menyatakan bahwa sultan memilih area yang sekarang dikenal sebagai Lapangan Sultanahmet, yang pada saat itu merupakan tempat tinggal para pejabat tinggi Utsmani dan secara historis disebut sebagai "Hippodrome" atau "At Meydanı."

Karena alasan itulah Sultan Ahmed I berkonsultasi dengan sang arsitek, Sedefkar Mehmed Agha dan memerintahkan pembangunan masjid yang kemudian menjadi masjid terbesar yang dibangun hingga saat itu, yang dimaksudkan sebagai hiasan baru bagi Istanbul.

"Setelah keputusan ini, Masjid Sultanahmet menjadi masjid Utsmani pertama yang dibangun dengan enam menara," kata Saygılı. 

Saygılı mencatat dekorasi ubin yang luas di dalam masjid, menyatakan bahwa terdapat sekitar 20 ribu ubin dan hampir 50 motif tulip di seluruh interiornya.

Ia menambahkan, penggunaan ubin biru yang begitu banyak adalah alasan mengapa pengunjung asing umumnya menyebut bangunan itu sebagai "Masjid Biru".

Tidak seperti masjid Süleymaniye dan Şehzade, bangunan ini menandai transisi ke apa yang kita sebut periode pasca-klasik.

Bagian dalam Masjid Sultanahmet seluruhnya dilapisi dengan ornamen ubin.

Menurut Saygılı, interior masjid menampilkan beragam warna dan motif yang dihasilkan selama periode Ottoman, sementara kubahnya bertumpu pada empat pilar utama, sesuai dengan arsitektur masjid Utsmani klasik.

Ia juga mengungkap meskipun beberapa komponen külliye tidak bertahan hingga saat ini, pasar tetap utuh di belakang masjid.

Ia menjelaskan bahwa wakaf kekaisaran didirikan untuk mendanai pemeliharaan masjid, memastikan keberlanjutannya melalui pendapatan yang dihasilkan oleh yayasan-yayasan ini.

Lebih lanjut, dia mencatat bahwa Sultan Ahmed I secara pribadi mencurahkan upaya yang signifikan untuk pembangunan masjid tersebut.

Sumber-sumber sejarah menunjukkan, sultan datang ke sini setiap pagi setelah sholat Subuh dan bekerja di lokasi pembangunan seperti seorang buruh hingga azan Dzuhur, sambil memegang beliung di tangannya.

"Beliung itu masih dapat dilihat hingga hari ini di Perpustakaan Ahmed Ketiga yang terletak di Halaman Enderun Istana Topkapı,"kata dia.  

Seperti semua masjid kekaisaran besar, menurut Saygılı, Masjid Sultanahmet secara tradisional menarik perhatian publik yang tinggi selama bulan Ramadhan.

Halaman masjid merupakan bagian integral dari kehidupan sosial Ottoman selama Ramadhan, menjadi tempat pelaksanaan ibadah dan pertemuan komunitas.

“Orang-orang berkumpul tidak hanya untuk beribadah tetapi juga untuk berinteraksi sosial, mirip dengan bagaimana alun-alun publik berfungsi saat ini. Praktik-praktik seperti makan kastanye panggang atau jagung, berbincang-bincang, dan mengunjungi masjid-masjid besar sudah menjadi tradisi yang mapan pada waktu itu," jelas dia.

Saygılı menambahkan, ayunan juga dipasang di alun-alun yang berdekatan selama periode Ottoman.

Sama seperti ruang publik saat ini yang menampilkan suguhan musiman seperti kastanye dan boza, menurut Saygılı, keluarga-keluarga di era Ottoman juga berkumpul di sana untuk bersosialisasi, menghabiskan waktu bersama, mengamati lingkungan sekitar, dan memenuhi masjid. 

Masjid Sultanahmet, yang diterangi dengan lampu mahya dan lampu minyak, akan dipenuhi keluarga yang berkunjung sepanjang malam.

Catatan sejarah mengkonfirmasi keberadaan kios-kios kecil yang menjual permen kepada anak-anak, menjadikan masjid dan alun-alunnya sebagai pusat perhatian bagi keluarga yang datang dari seluruh penjuru kota.

Masjid Blue Mosque

"Turki memang memiliki sejuta pesona. Tak heran jutaan wisatawan terus berdatangan ke negeri dua benua ini. Ya, Turki memang di Eropa, tapi wilayahnya sangat dekat dengan Asia. Salah satu keindahan yang memukau di Turki adalah Masjid Sultan Ahmed. Orang-orang mengenalnya dengan Masjid biru atau Blue Mosque. Masjid yang gagah nan megah ini merupakan simbol kejayaan Islam melalui Kekaisaran Utsmaniyah Turki dimasa lampau.

Letaknya di kota Istanbul dekat tepian laut marmara. Kota terbesar di Turki dan merupakan ibukota Kesultanan Utsmaniyah (dari 1453 sampai 1923). Dikenal dengan nama Masjid Biru karena pada masa lalu interiornya memang berwarna biru. Akan tetapi cat biru tersebut bukan merupakan bagian dari dekor asli Masjid, maka cat tersebut pun dihilangkan. Warna kubahnya tidak tampak biru jika dari kejauhan, tetapi warna kebiru-biruan itu akan terlihat dari dekat. Keindahan laut marmara akan terlihat saat berada di masjid ini. Apalagi di saat langit mulai senja. Karena keindahannya, masjid ini pun menjadi maskot atau ciri khas dari kota Istanbul. Blue Mosque saat ini merupakan masjid yang terbesar di Turki.

Sejarah

Masjid Biru didirikan antara tahun 1609 dan 1616 atas perintah Sultan Ahmed I, yang kemudian menjadi nama masjid tersebut. Ia memberikan mandat kepada seorang arsitek bernama Sedefhar Mehmet Aga untuk membangun masjid ini. Sedefhar juga diminta Sultan untuk tidak perlu berhemat biaya dalam pembangunan tempat ibadah umat Islam yang besar dan indah ini.

Sedefhar Mehmet Aga sendiri merupakan murid dan asisten dari arsitektur terkenal Mimar Sinan. Menurut informasi, Sultan Ahmed I menginginkan untuk dibuat menara yang terbuat dari emas. Kata emas dalam bahasa Turki adalah ‘Altin’. Tapi sang arsitek memahaminya dengan ‘Alti’, yang dalam bahasa Turki berarti 6. Sehingga jadilah sebuah masjid yg memiliki 6 menara. Namun Sultan Ahmed pun terpukau dengan keenam menara masjid yang unik itu.

Pembangunan masjid ini memerlukan waktu 7 tahun atau selesai pada tahun 1616. Kabarnya, akibat jumlah menara yang sama dengan Masjidil Haram di Makkah saat itu, Sultan Ahmed I mendapat kritikan tajam sehingga akhirnya beliau menyumbangkan biaya pembuatan menara ketujuh untuk Masjidil Haram.

Sebuah rantai besi yang berat dipasang di atas pintu gerbang masjid sebelah barat. Di masa lalu, hanya Sultan Ahmed I yang boleh memasuki halaman masjid dengan mengendarai kuda. Rantai ini dipasang agar Sultan Ahmed I menundukkan kepalanya saat melintas masuk agar tidak terantuk rantai tersebut. Ini dimaksudkan sebagai simbol kerendahan hati penguasa di hadapan kekuasaan Ilahi.

Sultan Ahmed I wafat saat berumur 27 tahun, atau 1 tahun setelah selesainya pembangunan masjid ini. Kemudian dia dimakamkan di halaman masjid ini, begitu juga istri dan ketiga puteranya.

Masjid Biru ini dibangun Sultan Ahmed I untuk menandingi bangunan Hagia Sophia (Kebijaksanaan Suci) buatan kaisar Byzantine yaitu Constantinople. Dulunya bangunan ini adalah sebuah gereja Byzantine sebelum jatuh ke daulah Turki Ottoman pada tahun 1453 M. Sekarang diubah fungsinya menjadi museum. Hagia Sophia berada satu blok dari Masjid Biru."

Arsitektur

Struktur dasar bangunan ini hampir berbentuk kubus, berukuran 53 kali 51 meter. Seperti halnya di semua masjid, masjid ini diarahkan sedemikian rupa sehingga orang yang melakukan Salat menghadap ke Makkah, dengan mihrab berada di depan.

Masjid Biru memiliki 6 menara, diameter kubah 23,5 meter dan tinggi kubah 43 meter, kolom beton berdiameter 5 meter. Jaraknya cukup dekat dengan Istana Topkapı, tempat kediaman para Sultan Utsmaniyah sampai tahun 1853 dan tidak jauh dari pantai Bosporus. Dilihat dari laut, kubah dan menaranya mendominasi cakrawala kota Istanbul.

Interior masjid ini dihiasi 20.000 keramik dari Iznik berwarna biru, hijau, ungu, dan putih. Ornamen bunga-bungaan dan tanaman bersulur itu tampak sangat indah memendarkan warna biru saat ditimpa cahaya matahari yang masuk lewat jendela 260 kaca patri.

Terdapat pilar-pilar marmer dan lebih dari 200 jendela kaca patri dengan berbagai desain yang memancarkan cahaya dari luar dengan dibantu chandeliers. Dalam chandeliers diletakkan telur burung unta untuk mencegah laba-laba membuat sarang di situ. Dekorasi lainnya adalah kaligrafi ayat-ayat Al Qur’an yang sebagian besar dibuat oleh Seyyid Kasim Gubari, salah satu kaligrafer terbaik pada masa itu.

Elemen penting dalam masjid ini adalah mihrab yang terbuat dari marmer yang dipahat dengan hiasan stalaktit dan panel incritive dobel di atasnya. Tembok disekitarnya dipenuhi dengan keramik. Masjid ini didesain agar dalam kondisi yang paling penuh sekalipun, semua yang ada di masjid tetap dapat melihat dan mendengar Imam.

Aktivitas di dalam Masjid

Sampai saat ini, Masjid Biru tetap digunakan sebagai tempat ibadah. Setiap Jumat atau Idul Fitri dan Idul Adha, masjid ini bisa menampung hingga 10 ribu jemaah. Lalu, di sekitar masjid biru juga dibangun sekolah, istana peristirahatan bagi Sultan, tempat pemandian, air mancur, rumah sakit, serta kamar-kamar yang disewakan saat itu.

Masjid biru ini juga menjadi salah satu tujuan utama wisatawan berkunjung ke Istanbul. Selama waktu sholat, turis tidak diperbolehkan masuk, dan mereka hanya diperbolehkan masuk melalui pintu sebelah utara dari arah Hippodrome. Turis asing non muslim diarahkan untuk masuk dan keluar melalui pintu utara, sedangkan pintu utama atau pintu barat lebih diperuntukkan untuk orang Turki dan orang yang mau menunaikan sholat di masjid ini.

Untuk menghormati masjid, wisatawan harus berpakaian sopan saat memasuki ruang masjid. Wanita harus mengenakan kerudung. Penjaga selalu siap mengingatkan di depan pintu masuk. Begitu sampai di dalam, sejumlah tamu Muslim melakukan shalat sunah masjid. Sementara sebagian lain memandang masjid dari bagian shaf belakang. Sebab, bagian depan hanya diperkenankan bagi mereka yang hendak bershalat". (*)

Tags : masjid biru, blue mosque, masjid sultanahmet, sultan ahmet1, sultan ahmet 1, masjid di turki, turkiye,