Teknologi   24-03-2025 20:56 WIB

Teknologi AI Chatbot Hingga Mainan Pintar Berkembang Pesat Menuju 2030

Teknologi AI Chatbot Hingga Mainan Pintar Berkembang Pesat Menuju 2030

TEKNOLOGI - China sedang merangkul kecerdasan buatan dalam upaya menjadi negara adidaya teknologi pada 2030. Apa saja tantangan yang mereka hadapi?

Timmy menopang dagunya dan bergumam sendiri. Bocah delapan tahun berupaya mengalahkan robot yang ditenagai kecerdasan buatan dalam permainan catur.

Ini bukan adegan di ruang ekshibisi atau laboratorium AI.

Robot itu berada di atas meja kopi di sebuah apartemen di Beijing—tempat tinggal Timmy.

Pada malam pertama robot itu tiba, Timmy memeluk teman barunya sebelum tidur. Dia masih menimbang-nimbang nama yang tepat untuk robot itu.

"Dia seperti guru kecil atau teman kecil," ujar Timmy.

Timmy kemudian menunjukkan kepada ibunya langkah selanjutnya yang dia pilih di papan catur.

Beberapa saat kemudian, robot itu bersuara: "Selamat! Kamu menang."

Mata bulat si robot berkedip di layar dan ia mulai menyusun kembali bidak-bidak catur untuk permainan baru.

"Aku sudah melihat kemampuanmu, aku akan bermain lebih baik lain kali," kata si robot dalam bahasa Mandarin:

China sedang merangkul kecerdasan buatan dalam upaya menjadi negara adidaya teknologi pada tahun 2030.

DeepSeek, chatbot terobosan asal China yang menarik perhatian dunia pada bulan Januari, hanyalah permulaan dari ambisi tersebut.

Dana besar mengalir ke perusahaan-perusahaan AI yang mencari modal tambahan sehingga muncul persaingan domestik.

Ada lebih dari 4.500 perusahaan yang mengembangkan dan menjual AI.

Berbagai sekolah di ibu kota Beijing akan memperkenalkan mata pelajaran AI bagi siswa sekolah dasar dan menengah pada akhir tahun ini.

Banyak universitas bahkan menambah kuota mahasiswa untuk jurusan AI.

"Ini adalah tren yang tak terhindarkan. Kita akan hidup berdampingan dengan AI," ujar ibu Timmy yang bernama Yan Xue.

"Anak-anak harus mengenalnya sedini mungkin. Kita tidak boleh menolaknya."

Yan Xue ingin putranya mempelajari catur dan permainan papan strategi Go—dua hal yang bisa dilakukan robot itu.

Ini meyakinkannya untuk merogoh koceknya US$800 (Rp13 juta) yang bagi Yan Xue adalah investasi yang baik.

Para pembuat robot sudah berencana untuk menambahkan program bimbingan belajar bahasa.

Barangkali inilah yang diharapkan Partai Komunis ketika mendeklarasikan AI sebagai "kekuatan pendorong utama" kemajuan negara pada 2017.

Presiden Xi Jinping kini bertaruh besar pada hal tersebut.

Apalagi saat ini perekonomian China melambat dan mitra dagang terbesarnya, Amerika Serikat, menerapkan kebijakan tarif.

Beijing berencana untuk menginvestasikan CNY10 triliun yuan (US$1,4 triliun dolar atau Rp16 kuadriliun) dalam 15 tahun mendatang.

Langkah ini diambil seiring dengan persaingan Beijing dengan Washington untuk mendapatkan keunggulan dalam teknologi canggih.

Pendanaan AI kembali mendapat dorongan di pertemuan politik tahunan pemerintah yang sedang berlangsung.

Hal ini menyusul penggelontoran dana investasi AI sebesar 60 miliar yuan (Rp136 triliun) pada bulan Januari.

Kebijakan pendanaan itu diambil hanya beberapa hari setelah AS memperketat kontrol ekspor untuk chip canggih dan memasukkan lebih banyak perusahaan China ke dalam daftar hitam perdagangan.

Akan tetapi, DeepSeek telah menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan China dapat mengatasi hambatan-hambatan ini.

Hal ini mengejutkan Silicon Valley dan para ahli industri—mereka tidak menyangka China akan menyusul secepat ini.
Perlombaan para naga

Tommy Tang sudah terbiasa dengan reaksi seperti itu setelah enam bulan memasarkan robot catur perusahaannya di berbagai kompetisi.

Mesin milik Timmy berasal dari perusahaan Tang, SenseRobot, yang menawarkan berbagai kemampuan robot AI.

Media pemerintah China memuji versi canggih SenseRobot pada tahun 2022 yang berhasil mengalahkan seorang Grand Master catur.

"Orang tua biasanya bertanya soal harga, lalu bertanya dari mana saya berasal. Mereka mengira saya dari AS atau Eropa. Mereka tampak terkejut ketika saya mengatakan bahwa saya dari China," ujar Tang seraya tersenyum.

"Selalu ada satu atau dua detik keheningan ketika saya mengatakan saya dari China."

Perusahaan Tang telah menjual lebih dari 100.000 robot dan sekarang memiliki kontrak dengan jaringan supermarket besar AS, Costco.

Salah satu rahasia kesuksesan China adalah generasi mudanya.

Pada tahun 2020, lebih dari 3,5 juta mahasiswa di negara itu lulus dengan gelar di bidang sains, teknologi, rekayasa, dan matematika atau yang lebih dikenal sebagai STEM.

Jumlah itu lebih banyak daripada negara lain di dunia—dan Beijing sangat ingin memanfaatkannya.

"Membangun kekuatan dalam pendidikan, sains, dan bakat adalah tanggung jawab bersama," ujar Presiden Xi kepada para pemimpin partai pekan lalu.

Sejak China membuka ekonominya ke dunia pada akhir tahun 1970-an, negara ini "telah melalui proses akumulasi bakat dan teknologi," kata Abbott Lyu, wakil presiden Whalesbot.

Whalesbot yang berbasis di Shanghai adalah sebuah perusahaan yang membuat mainan AI.

"Di era AI ini, kita memiliki banyak sekali insinyur, dan mereka pekerja keras."

Di belakangnya, seekor dinosaurus yang terbuat dari balok-balok berwarna-warni meraung hidup.

Dinosaurus itu dikendalikan melalui kode yang disusun di ponsel pintar oleh seorang anak berusia tujuh tahun.

Perusahaan ini sedang mengembangkan mainan untuk membantu anak-anak usia tiga tahun belajar kode.

Setiap paket balok dilengkapi dengan buku kode.

Anak-anak kemudian dapat memilih apa yang ingin mereka bangun dan mempelajari cara melakukannya.

Mainan termurah dijual sekitar US$40 (sekitar Rp657 ribu).

"Negara lain juga memiliki robot pendidikan AI, tetapi dalam hal daya saing dan perangkat keras pintar, China lebih unggul," tegas Lyu.

Kesuksesan DeepSeek menjadikan CEO-nya, Liang Wenfeng, pahlawan nasional dan, menurut Lyu, semakin mempromosikan industri AI China.

"Seperti memasang iklan seharga 10 miliar yuan [Rp22,7 triliun] untuk industri AI [China]," tambahnya.

"Publik menjadi tahu bahwa AI bukan hanya konsep, melainkan dapat mengubah kehidupan masyarakat. Ini menginspirasi rasa ingin tahu publik."

Enam perusahaan AI dalam negeri, termasuk DeepSeek, kini dijuluki "Enam Naga Kecil China" oleh internet.

Selain DeepSeek, nama lainnya adalah Unitree Robotics, Deep Robotics, BrainCo, Game Science, dan Manycore Tech.

Beberapa perwakilan perusahaan-perusahaan itu hadir di pameran AI di Shanghai baru-baru ini.

Pameran itu merupakan ajang bagi perusahaan-perusahaan terbesar China di bidang ini memamerkan kemajuan mereka, mulai dari robot pencarian dan penyelamatan, hingga robot mirip anjing yang bisa melakukan salto ke belakang.

Robot-robot AI berkeliaran di aula di antara para pengunjung.

Di salah satu ruang pameran yang ramai, dua tim robot humanoid bertanding dalam permainan sepak bola, lengkap dengan seragam merah dan biru.

Mesin-mesin itu terjatuh saat berbenturan—dan salah satunya bahkan ditandu keluar lapangan oleh pemandu manusianya sebagai bentuk gurauan.

Sulit untuk tidak merasakan suasana kegembiraan di antara para pengembang setelah kesuksesan DeepSeek.

"DeepSeek membuat dunia tahu bahwa kami ada," ujar Yu Jingji, seorang insinyur berusia 26 tahun.
'Mode susulan'

Dunia mulai mengetahui potensi AI di China.

Namun, muncul pula kekhawatiran tentang seberapa banyak AI memperbolehkan pemerintah China untuk tahu tentang penggunanya.

AI sangat haus data—makin banyak data yang didapat didapat suatu AI, maka dia akan makin pintar.

Dengan sekitar satu miliar pengguna ponsel di Beijing saja—jauh lebih banyak dibandingkan 400 juta di seluruh AS—ibu kota China itu punya keuntungan nyata.

Negara-negara Barat, sekutu mereka, dan banyak ahli di negara-negara tersebut percaya bahwa data yang dikumpulkan oleh aplikasi China seperti DeepSeek, RedNote, atau TikTok dapat diakses Partai Komunis.

Beberapa orang menyebut Undang-Undang Intelijen Nasional negara itu membuktikan hal ini.

Perusahaan-perusahaan China, termasuk ByteDance—pemilik TikTok—mengatakan bahwa undang-undang tersebut memungkinkan perlindungan perusahaan swasta dan data pribadi.

Meskipun demikian, kecurigaan bahwa data pengguna AS di TikTok dapat berakhir di tangan pemerintah China mendorong Washington untuk melarang aplikasi yang sangat populer tersebut.

Ketakutan yang sama—yang muncul saat kekhawatiran privasi bertemu dengan tantangan keamanan nasional—menghantam DeepSeek.

Korea Selatan melarang unduhan baru DeepSeek, sementara Taiwan dan Australia melarang aplikasi tersebut digunakan dalam perangkat yang dikeluarkan pemerintah.

Perusahaan-perusahaan China menyadari sensitivitas itu.

Tang lekas-lekas memberi tahu perusahaannya punya batasan keras soal privasi.

Beijing juga menyadari bahwa ini akan menjadi tantangan dalam upayanya untuk menjadi pemimpin global dalam AI.

"Kebangkitan pesat DeepSeek telah memicu reaksi permusuhan dari beberapa pihak di Barat," catat sebuah komentar di Beijing Daily yang dikelola negara.

Komentar yang sama menambahkan bahwa "lingkungan pengembangan model AI China tetap sangat tidak pasti".

Namun, perusahaan-perusahaan AI Tiongkok tidak gentar.

Sebaliknya, mereka percaya bahwa inovasi hemat akan memberi mereka keuntungan yang tak terbantahkan.

Ini tidak lepas dari klaim DeepSeek bahwa mereka dapat menyaingi ChatGPT dengan biaya jauh lebih—sesuatu yang mengejutkan industri AI.

Tantangan industri rekayasa pun menjadi bagaimana membuat lebih banyak dengan biaya lebih sedikit.

"Ini adalah misi mustahil kami," ujar Tang.

Perusahaannya menemukan bahwa lengan robotik yang digunakan untuk memindahkan bidak catur sangat mahal untuk diproduksi dan bisa mendorong harga hingga sekitar US$40 ribu (Rp657 juta)

Oleh karena itu, mereka mencoba menggunakan AI untuk membantu melakukan pekerjaan insinyur dan meningkatkan proses manufaktur.

Tang mengeklaim bahwa hal itu telah menurunkan biaya sampai US$1.000 (Rp16,4 juta).

"Ini adalah inovasi," katanya. "Rekayasa buatan sekarang terintegrasi ke dalam proses manufaktur."

Hal ini dapat memiliki implikasi yang sangat besar karena China menerapkan AI dalam skala besar.

Media pemerintah sudah menunjukkan pabrik-pabrik yang penuh dengan robot humanoid.

Pada bulan Januari, pemerintah mengatakan bahwa mengembangkan robot humanoid bertenaga AI untuk membantu merawat populasi lansia yang jumlahnya terus bertambah.

Xi Jinping telah berulang kali menyatakan "kemandirian teknologi" sebagai tujuan utama negaranya.

Ini berarti China ingin menciptakan chip canggihnya sendiri agar mereka tidak tergantung dengan AS yang membatasi ekspor.

Pemimpin China itu tahu bahwa dia sedang menghadapi perlombaan panjang.

Beijing Daily baru-baru ini memperingatkan bahwa kesuksesan DeepSeek belum menjadi momen kedigdayaan AI China.

Negara itu justru masih dalam "mode menyusul".

Presiden Xi berinvestasi besar-besaran dalam kecerdasan buatan, robot, dan teknologi canggih.

Baginya, ini ibarat mempersiapkan negaranya untuk sebuah pertandingan maraton.

Dalam jangka panjang, dia berharap China yang jadi juaranya. (*)

Tags : Teknologi, Kecerdasan buatan, Sains,