Seni Budaya   2026/03/29 17:50 WIB

Tradisi Ketupat Memiliki Aroma yang Menyatukan Hati dan Harapan

Tradisi Ketupat Memiliki Aroma yang Menyatukan Hati dan Harapan

SENI BUDAYA - Setelah hiruk-pikuk Idulfitri mereda, aroma ketupat yang masih hangat kembali memenuhi udara di berbagai penjuru Nusantara.

Bukan sekadar makanan, ketupat kali ini menjadi simbol perjalanan batin: mengakui kesalahan, membersihkan hati, dan mempererat ikatan antarmanusia.

Di tengah semilir angin pasca-Lebaran, tradisi Gerebeg Ketupat dan Lebaran Ketupat kembali dihelat, mengingatkan kita bahwa budaya bukan hanya warisan masa lalu, melainkan tali yang terus mengikat masa kini dan mendatang.

Di Kabupaten Magelang, Bupati Grengseng Pamuji memandang Gerebeg Ketupat sebagai lebih dari sekadar ritual tahunan.

Tradisi ini, baginya, adalah wujud nyata hubungan yang menyatu antara pemerintah daerah dan masyarakat dalam mewujudkan mimpi bersama.

“Ketupat melambangkan ‘ngaku lepat’ atau mengakui kesalahan,” ujarnya.

Dari makna filosofis itu lahir harapan: bahwa setiap tahun, baik pemerintah maupun warga diajak untuk introspeksi dan terus memperbaiki diri demi pembangunan yang lebih baik.

Namun, di balik keindahan makna tersebut, antusiasme masyarakat yang begitu tinggi dalam berebut ketupat menjadi catatan penting.

Pemerintah daerah menyadari perlu ada evaluasi mendalam terhadap tata kelola agar kegiatan tetap aman dan tertib.

Bukan jumlah ketupat yang menjadi ukuran, melainkan makna simbolis di balik gunungan ketupat yang berjumlah tujuh, melambangkan “pitulungan” (pertolongan) dan “pitutur” (nasihat), agar daerah senantiasa mendapat limpahan rahmat.

Tak jauh dari Magelang, di Kecamatan Durenan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, ribuan warga memadati jalanan sejak pagi.

Pawai tumpeng ketupat yang dihias indah dengan aneka lauk dan hasil bumi berjalan perlahan menuju lapangan, disusul prosesi “purak”, perebutan tumpeng yang penuh tawa dan sorak sorai.

Tradisi yang telah berusia lebih dari dua abad ini bermula dari kebiasaan seorang kiai di Ponpes Babul Ulum yang menggelar silaturahmi pada hari ketujuh Syawal dengan menyajikan ketupat dan sayur lodeh.

Kini, tradisi itu telah melebar ke seluruh desa di kecamatan tersebut, bahkan menjadi daya tarik wisata yang menggerakkan roda ekonomi masyarakat.

Sementara itu, di Gorontalo, semangat Lebaran Ketupat tetap menyala meski tahun ini tanpa pacuan kuda dan karapan sapi Yosonegoro.

Kepala Dinas Pariwisata, Ekonomi Kreatif, Pemuda dan Olahraga Provinsi Gorontalo, Sultan Kalupe, menegaskan bahwa pemerintah daerah tetap berkomitmen menjaga tradisi ini sebagai bagian dari pelestarian budaya lokal.

Meski dalam suasana efisiensi anggaran, berbagai kegiatan alternatif seperti kuliner ketupat, pertunjukan seni tradisional, dan lomba rakyat tetap digelar untuk menjaga kebersamaan.

“Lebaran ketupat bukan hanya soal satu atau dua agenda, melainkan tentang kebersamaan,” ujar Sultan Kalupe.

Ia mengajak seluruh warga untuk berpartisipasi aktif, karena tradisi ini adalah warisan turun-temurun yang harus terus dirawat bersama.

Di balik semua perayaan itu, ada benang merah yang samar namun kuat: ketupat bukan sekadar makanan, melainkan pengingat bahwa manusia adalah makhluk yang tak luput dari kesalahan.

Melalui tradisi ini, masyarakat diajak untuk saling memaafkan, saling menguatkan, dan bersama-sama melangkah ke depan.

Baik di Magelang, Trenggalek, maupun Gorontalo, Lebaran Ketupat menjadi ruang di mana budaya, spiritualitas, dan harapan manusia bertemu dalam satu irama sederhana namun penuh makna.

Di tengah zaman yang semakin cepat berubah, tradisi seperti ini mengingatkan kita bahwa kebersamaan dan muhasabah tetap menjadi mata air kebijaksanaan yang paling kokoh bagi sebuah bangsa. 

Tags : Ketupat Lebaran, Ketupat, tradisi ketupat, Lebaran, Lebaran Ketupat, tradisi pasca Idulfitri, silaturahmi ketupat, budaya Nusantara, pelestarian tradisi ketupat,