Artikel   2026/02/13 17:54 WIB

Tradisi Masyarakat Asahan untuk Menyambut Bulan Ramadhan dengan Gelar Punggahan

Tradisi Masyarakat Asahan untuk Menyambut Bulan Ramadhan dengan Gelar Punggahan

MENYAMBUT datangnya Ramadan 1447 Hijriah, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Asahan menggelar tradisi punggahan yang sarat makna spiritual dan kebersamaan.

"Tradisi menyambut bulan Ramadhan."

“Ramadan adalah bulan penuh berkah, bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup. Mari kita manfaatkan kesempatan ini dengan memperbanyak ibadah dan memperdalam spiritualitas,” kata Wakil Bupati (Wabup) Asahan, Rianto mewakili Bupati Asahan yang berlangsung di halaman Kementerian Agama Kabupaten Asahan, Jumat (13/2).

Tradisi punggahan dihadiri ratusan peserta dari berbagai elemen masyarakat.

Wabup Rianto mengajak seluruh warga memperkuat keimanan, mempererat ukhuwah Islamiyah, keimanan dan ketaqwaan (imtaq), serta menjadikan Ramadan sebagai titik balik perubahan menuju kehidupan yang lebih baik.

Tradisi punggahan bukan sekedar seremoni tahunan. Kegiatan ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus refleksi diri sebelum memasuki bulan puasa.

Suasana kebersamaan terlihat jelas ketika para tokoh agama, pejabat daerah, dan warga duduk bersama mengikuti tausiyah serta doa bersama.

Wabup Rianto menegaskan, kegiatan keagamaan seperti punggahan dan dakwah memiliki peran penting dalam membangun kesadaran kolektif masyarakat untuk semakin taat menjalankan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari.

“Momentum ini bukan hanya tradisi, tetapi sarana memperkuat ketakwaan dan membentuk karakter religius masyarakat,” katanya.

Rianto juga mengingatkan Ramadan harus dijadikan momen introspeksi diri. Ia mengajak masyarakat memperbaiki kualitas ibadah, mempererat hubungan keluarga, serta memperkuat solidaritas sosial.

Menurutnya, perubahan kecil yang dimulai dari rumah tangga akan berdampak besar bagi kemajuan daerah.

“Mari ajak diri sendiri dan keluarga untuk berubah menjadi lebih baik. Tingkatkan iman, perbanyak amal saleh, dan jaga persaudaraan,” ucapnya.

Tradisi Punggahan

Punggahan adalah salah satu tradisi yang kerap dilakukan oleh masyarakat Indonesia, terutama di Pulau Jawa, dalam menyambut bulan suci Ramadhan.

Tradisi unik di bulan Ramadhan ini memiliki maksud yang baik, yaitu untuk mengingatkan umat Muslim bahwa bulan suci akan segera tiba.

Munggahan atau punggahan adalah tradisi yang dilakukan oleh umat Muslim di Indonesia untuk menyambut bulan suci Ramadhan dengan berdoa, silaturahmi, serta makan bersama keluarga, maupun kerabat dekat.

Munggahan sendiri berasal dari bahasa Jawa, yaitu munggah yang berarti naik. Artinya, datangnya bulan Ramadhan perlu disambut dengan meningkatkan iman dan takwa.

Selain itu, tujuan utama punggahan adalah untuk mengingatkan umat Muslim bahwa bulan suci Ramadhan akan segera tiba.

Tradisi ini juga bisa mengingatkan Muslim untuk senantiasa mengirimkan doa kepada orang-orang yang telah meninggal dunia.

Punggahan tidak bertentangan dengan syariat Islam. Tradisi ini justru dapat melengkapi syiar dan dakwah agama Islam dengan melakukan berbagai kegiatan positif.

Tradisi ini juga menjadi cara bagi umat Islam untuk bergembira dalam menyambut datangnya bulan suci Ramadhan.

Salah satu hadis yang termaktub dalam Durrotun Nasihin pun menjelaskan:

مَنْ فَرِحَ بِدُخُولِ رَمَضَانَ حَرَّمَ اللهُ جَسَدَهُ عَلىَ النِّيْرَانِ

Artinya: “Siapa yang bergembira dengan masuknya bulan Ramadhan, Allah akan mengharamkan jasadnya masuk ke neraka.”

Tradisi menyambut bulan Ramadhan ini pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga ketika menyebarkan agama Islam di wilayah Jawa, terutama kawasan Jawa Tengah.

Kala itu, Sunan Kalijaga menggunakan metode akulturasi atau percampuran kebudayaan untuk menyebarkan agama Islam di daerah Jawa sehingga lebih mudah diterima oleh masyarakat.

Punggahan kerap dilakukan di rumah, masjid, ataupun musala dengan mengundang tetangga sekitar dan sanak saudara, serta salah seorang kyai untuk memimpin doa dan tahlil.

Saat melakukan punggahan, menu yang sering kali disediakan adalah apem, pisang raja, pasung, dan ketan. Menu ini memiliki maknanya tersendiri dalam menyambut bulan Ramadhan.

Misalnya, ketan yang menggunakan beras ketan berwarna putih susu melambangkan kesucian yang diharapkan akan didapatkan masyarakat sebelum memasuki bulan Ramadhan.

Kemudian, kue apem berasal dari bahasa Arab “afwan” yang berarti maaf. Maknanya, sebelum memasuki bulan Ramadhan, umat Muslim harus memohon ampun kepada Allah SWT.

Pisang raja atau gedang rojo dalam bahasa Jawa berasal dari bahasa Arab “ghodhan rojaa”, yang memiliki makna bahwa setiap muslim berharap agar diberikan apa yang diminta kepada Allah SWT.

Lalu, kue pasung yang berbentuk seperti contong diambil dari bahasa Arab “fashoum” yang memiliki arti mengikat atau memasung diri kita dari hawa nafsu.

Munggahan biasanya dilakukan dengan berkumpul bersama sanak saudara dan tetangga sekitar untuk berdoa.

Di samping itu, tradisi menyambut bulan Ramadhan ini juga kerap dilakukan dengan aktivitas lain, seperti:

Bepergian ke tempat wisata.
Membersihkan seluruh anggota badan dengan keramas (sunah dari Rasulullah SAW).
Membersihkan makam keluarga.
Saling meminta maaf kepada orang tua, sahabat, teman, dan kerabat lain.
Umumnya, munggahan dilakukan pada akhir bulan Syaban, tepatnya satu atau dua hari sebelum memasuki bulan Ramadhan.

Dalam menjalankan tradisi punggahan, terdapat beberapa kebaikan dan kebajikan yang bisa diambil sebagai hikmah, di antaranya:

1. Sebagai Bentuk Syukur
Salah satu hikmah tradisi punggahan adalah sebagai salah satu bentuk syukur atas nikmat yang diberikan Allah SWT karena masih diberi umur untuk bertemu dengan bulan Ramadhan.

Harapannya, pertemuan dengan bulan Ramadhan ini membuat kita menjadi hamba Allah yang lebih baik karena diberi kesempatan untuk memperbanyak pahala.

2. Mempererat Tali Silaturahmi
Punggahan juga bisa dijadikan sebagai ajang mempererat tali silaturahmi dengan kerabat, baik sanak saudara maupun tetangga sekitar.

Dengan bersama-sama hadir di masjid untuk berdoa maupun menyantap makanan, kamu bisa bertegur sapa dengan kerabat yang memiliki kesibukan masing-masing di hari biasa.

3. Momen Saling Meminta Maaf
Terakhir, momen berkumpul sebelum bulan Ramadhan ini juga bisa dijadikan sebagai kesempatan untuk saling memaafkan satu sama lain.

Apalagi, sebelum menyambut bulan suci Ramadhan, setiap Muslim disarankan untuk memohon maaf kepada sesama guna membersihkan diri.

Bulan Ramadhan tentu bisa menjadi momen bagi umat Muslim untuk melakukan kebaikan, apalagi Allah SWT menjanjikan pahala yang berlipat ganda di bulan suci ini. (rp.tam/*)

Tags : ramadhan, tradisi sambut ramadhan, masyarakat asahan gelar punggahan, ramadhan 1447 hijriyah, ramadhan 2026,