Seni Budaya   2026/03/24 21:35 WIB

Tradisi Ramadan untuk Memelihara Budaya dan Spiritualitas, 'yang Tak Lekang Oleh Zaman'

Tradisi Ramadan untuk Memelihara Budaya dan Spiritualitas, 'yang Tak Lekang Oleh Zaman'

SEPERTI budaya masyarakat Daik Lingga, Kepulauan Riau (Kepri), dalam menyambut Ramadhan kental dengan nuansa gotong royong yang juga dikenal dengan tradisi Melayu, seperti haul jamak untuk mendoakan leluhur, pembersihan tempat pemakaman umum (TPU), serta tradisi khas seperti lampu colok/7 likur dan meriam bambu.

Tradisi ini memperkuat spiritualitas dan silaturahmi. 

Haul Jamak merupakan kegiatan doa bersama untuk leluhur dan ahli kubur yang umum dilaksanakan masyarakat Lingga sebelum memasuki bulan puasa.

Warga juga bergotong royong membersihkan makam keluarga dan TPU (Tempat Pemakaman Umum) sebagai bentuk penghormatan dan persiapan ibadah.

Begitupun tradisi Lampu Colok / 7 Likur merupakan tradisi memasang lampu pelita (lampu colok) di depan rumah, gapura, dan jalan desa.

Meskipun puncaknya pada malam 27 Ramadhan (7 Likur), persiapan gerbang colok sudah dimulai menjelang puasa.

Warga juga melakukan pemasangan meriam bambu atau karbit yang khas, sering terdengar saat sore menjelang berbuka puasa. Sedangkan ziarah kubur dengan mengunjungi makam kerabat untuk mendoakan, merupakan tradisi rutin di Lingga sebelum Ramadhan. 

Budaya-budaya ini dipertahankan sebagai bagian dari warisan budaya takbenda di Kepulauan Riau.

Pemerintah Kabupaten Lingga sendiri dalam rangka melestarikan kegiatan Haul Jamak atau disebut juga dengan Kenduri Arwah,.salah satu Budaya Melayu yang sejak lama telah ada dilaksanakan setiap tahunnya, biasanya pelaksanaannya, dilaksanakan sepanjang, sebelum bulan Sya’ ban atau menjelang menyambut Bulan.Suci Ramadhan.

Dalam kesempatan ini Bupati Lingga mengatakan, bahwa kegiatan Haul jamak dalam 3 tahun terakhir, menurut pemantauanya, pelaksanaanya sudah mulai tertib dan menarik, terutama haul jamak yang dilaksanakan di Masjid dan surau yang berada di kelurahan Daik dan Desa- desa yang berdekatan dengan kelurahan Daek.

Dimana pada umumnya masyarakat dan tetamu yang hadir sudah memakai baju kurung yang merupakan ciri khas masyarakat Melayu.

Karena itu, katanya, kedepan pemakaiaan baju kurung pada acara adat dan budaya hendaknya dapat terus dilestarikan dan dapat juga di pakai lebih meluas di tempat – tempat lain, tidak saja di kelurahan Daik dan sekitarnya saja.

Seperti disebutkan Bahrummazi, Ketua RT03/RW05, Kampung Bukit Kuali, Kelurahan Daik Lingga, Kecamatan Lingga, Kepri, bahwa inti dari haul jamak adalah selain berdoa untuk para leluhur sekaligus dapat bersiraturahim dengan sesama.

"Bulan suci Ramadan bagi umat Islam masyarakat di Lingga yang mayoritas muslim menyambut momen spesial ini dengan penuh suka cita," sebutnya. 

Menurutnya, tradisi menyambut Ramadan dilakukan secara berbeda-beda dan sudah dilakukan turun-temurun dari zaman ke zaman, sebagai salah satu bentuk melestarikan budaya dan adat istiadat.

Ada beberapa tradisi yang hingga kini, masih tetap lestari khususnya bagi masyarakat di Kepulauan Riau yang merupakan bunda tanah melayu.

1. Kenduri Ruah

Tahlil Jamak atau Kenduri Ruah yang rutin dilakukan masyarakat Pulau Penyengat setiap menyambut bulan suci Ramadhan adalah tradisi turun temurun berisikan dzikir dan doa kepada Allah SWT. Kenduri Ruah dilakukan pada bulan Sya'ban jelang Ramadhan dengan keistimewaan berupa doa kebaikan yang diberikan anak kepada almarhum orangtuanya atau sesama muslim yang lebih dulu meninggalkan dunia.

2. Ziarah Kubur

Tradisi ziarah kubur masih terus dilestarikan hingga saat ini, bahkan saat menyambut Ramadan dan hari raya Idul Fitri. Setiap warga berziarah ke kuburan untuk mendoakan arwah keluarga yang telah meninggal dunia. Sebelum puasa di bulan Ramadhan, beberapa masyarakat tampak berziarah ke makam keluarga maupun sanak saudara. Tradisi ini bisa dijumpai di berbagai daerah di Indonesia.

3. Tarawih

Salat tarawih menjadi sesuatu yang wajib di bulan Ramadan. Di Kepulauan Riau, tradisi tarawih dilakukan dengan penuh khidmat, di mana anak-anak muda memadati masjid dan surau. Tradisi ini menjadi momen ibadah yang tidak pernah ditinggal di bulan Ramadan.

4. Ngabuburit atau Jalan-jalan Petang Menunggu Berbuka

Ngabuburit sudah menjadi tradisi masyarakat Indonesia saat bulan Ramadhan, termasuk di Kepulauan Riau. Kegiatan ini dilakukan dengan berbagai cara, seperti membaca Al Quran di masjid, berburu takjil, sekedar jalan-jalan sore, atau berkunjung ke tempat wisata. Istilah ngabuburit berasal dari bahasa Sunda yang bermakna bersantai sambil menunggu waktu buka puasa.

Tradisi-tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari kehidupan spiritual masyarakat Kepulauan Riau, tetapi juga memperkaya nilai-nilai kebersamaan dan kepedulian sosial. Semangat Ramadan membawa berkah dan kebaikan bagi seluruh umat muslim di Kepulauan Riau dan seluruh Indonesia. (*)

Tags : ziarah kubur, tradisi, kepulauan riau, ramadhan,