Headline Internasional   2020/09/02 02:52:00 PM WIB

Trump Kunjungi Kenosha yang 'Luluh-lantak' Ditengah Kerusuhan

Trump Kunjungi Kenosha yang 'Luluh-lantak' Ditengah Kerusuhan
Bendera Amerika Serikat di gedung Community Corrections Division, Konosha, dengan latar kebakaran akibat kerusuhan, Senin (24/08).

INTERNASIONAL - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump telah mengunjungi Kenosha, Wisconsin, untuk mendukung langkah penegakan hukum setelah polisi menembak seorang pria kulit hitam yang memicu konflik antar warga.

Presiden dari partai Republik itu menyalahkan "teror domestik" yang "menghancurkan" kota di kawasan Midwestern tersebut. Kenosha dilanda kekerasan selama berhari-hari setelah polisi menembak punggung Jacob Blake pada 23 Agustus lalu, yang membuatnya mengalami kelumpuhan. Sebuah Survei terbaru memperlihatkan bahwa Trump berhasil mempersempit jarak keunggulan dengan saingannya dari Partai Demokrat, Joe Biden, menjelang pemilu presiden pada November nanti.

Presiden Trump terus mendorong pesan agar hukum dan ketertiban ditegakkan, sementara Biden menudingnya telah memicu perpecahan rasial. "Api sedang berkobar dan kami memiliki seorang presiden yang terus mengipasi api ketimbang memadamkannya," kata eks wapres AS itu, Selasa waktu setempat.

Apa yang dikatakan Trump di Kenosha?

Presiden mengunjungi area yang luluh-lantak akibat kerusuhan, termasuk toko furnitur yang rusak parah akibat terbakar selama bentrokan. "Ini bukanlah aksi damai, tapi benar-benar teror domestik," katanya di hadapan para pemimpin bisnis lokal pada pertemuan di ruangan gim sebuah sekolah menengah dirilis BC News.

Trump membela tindakan polisi dan menuduh media hanya berfokus pada sejumlah insiden "buruk" yang melibatkan petugas. "Ada warga yang tercekik," ujarnya. "Mereka berada di bawah tekanan luar biasa. Dan mereka mungkin berada di sana selama 15 tahun dan memiliki rekor bersih, dan tiba-tiba mereka dihadapkan pada sebuah keputusan. "Mereka memiliki seperempat detik untuk membuat keputusan. Dan apabila mereka membuat keputusan yang salah, dengan satu atau lain cara, mereka sudah mati atau dalam masalah besar.

"Dan masyarakat harus memahami hal itu. Mereka kadang-kadang tercekik."

Presiden memang menunjukkan empati kepada warga yang terluka dalam konfrontasi dengan polisi, dengan mengatakan bahwa dirinya merasa "sangat sedih untuk siapa pun yang mengalaminya". Namun dia mengaku tidak yakin ada rasialisme sistemik dalam penegakan hukum. Trump mengatakan dia mengirim pasukan Garda Nasional ke Kenosha, meskipun mereka sudah dikerahkan oleh gubernur Wisconsin dan didukung 200 orang polisi federal yang dikerahkan atas keputusan presiden.

Dia juga mengatakan bahwa pemerintahannya akan menyediakan dana sekitar $ 4 juta untuk membangkitkan kehidupan bisnis Kenosha yang rusak akibat kerusuhan. Dia juga akan menggelontorkan dana $ 1 juta untuk proses penegakan hukum di kota itu. Para pengunjuk rasa menuduh kehadiran provokator dari luar yang menungguangi aksi protes mereka. Kepolisian Kenosha mengatakan pada akhir pekan bahwa 105 dari 175 tersangka yang ditangkap selama kerusuhan itu berasal dari luar kota.

Bagaimana reaksi politikus Partai Demokrat atas kunjungan Trump?

Kunjungan Trump ke Kenosha tetap berlangsung, walaupun walikota dan gubernur setempat, yang juga politikus Partai Demokrat agar, meminta hal itu diurungkan. Selama akhir pekan, Wali kota Kenosha John Antaramian mengatakan, saat ini bukan waktu yang tepat bagi Trump untuk berkunjung. "Secara realistis, dari sudut pandang kami, preferensi kami adalah dia tidak datang pada saat ini," katanya kepada National Public Radio.

Gubernur Wisconsin Tony Evers, yang juga politikus Partai Demokrat, juga memperingatkan bahwa kunjungan itu, disebutnya akan "menghalangi proses penyembuhan warga Kenosha". Anggota Kongres Mark Pocan, yang juga politikus Partai Demokrat dari Wisconsin dan tumbuh besar di Kenosha, mencuit di akun Twitternya bahwa kunjungannya itu "bakal menyebarkan kebencian".

Mengapa Trump menolak bertemu keluarga Jacob Blake?

Sebelumnya, ayah dari seorang pria kulit hitam yang ditembak oleh polisi menolak untuk "berpolitik" terkait kehidupan putranya ketika Presiden Donald Trump mengunjungi kota Kenosha pada Selasa (01/09).

Penembakan atas Jacob Blake telah memicu gelombang baru protes anti rasialisme di AS, yang mendorong seruan kepada Presiden Trump agar mengakui dia dan keluarganya. Presiden telah menemui para aparat kepolisian dalam kunjungan itu, tetapi tidak berencana bertemu keluarga Blake.

Dalam wawancara dengan CNN, ayah Blake, Jacob Blake Senior, mengatakan kehidupan putranya lebih penting ketimbang pertemuan dengan Presiden Trump. "Saya tidak sedang berpolitik. Ini semua tentang anak saya. Ini tidak ada hubungannya dengan a photo op (kesempatan foto dengan pejabat)," katanya.

Para pejabat lokal telah mendesak Trump agar tidak mengunjungi Kenosha, yang terletak di negara bagian Wisconsin. Alasannya, merela khawatir kehadirannya di kota itu dapat kembali memicu gelombang protes yang telah mereda dalam beberapa hari terakhir. Namun Trump telah menolak permintaan tersebut, dan menuduh sejumlah walikota dan gubernur yang berasal dari Partai Demokrat gagal mengatasi aksi kekerasan.

Dia kemudian mendorong penegakan hukum dan ketertiban yang kuat dalam upayanya untuk memenangkan masa jabatan kedua di Gedung Putih, meskipun para pengkritiknya menuduhnya telah memicu ketegangan. Menjelang kunjungannya ke Kenosha, Trump mengatakan dia tidak akan bertemu keluarga Blake karena mereka ingin menghadirkan pula pengacaranya. Trump juga membela seorang remaja pendukungnya yang dituduh menembak mati dua pria di tengah unjuk rasa memprotes penembakan Blake.

Dia menduga Kyle Rittenhouse, 17 tahun, melakukannya untuk membela diri. "Saya kira dia dalam masalah besar, dia kemungkinan akan dibunuh," kata Trump kepada wartawan.

Apa yang dikatakan ayah Blake?

"Ini bukan politik. Ini tentang kehidupan anak saya," kata Blake Senior, seraya menambahkan bahwa putranya masih mengalami kelumpuhan dari pinggang hingga bagian bawah. Jacob Blake, 29 tahun, ditembak beberapa kali di bagian punggungnya oleh seorang anggota polisi saat proses penangkapan, ketika Blake mencoba masuk ke dalam mobil.

Saat itu ketiga anaknya duduk di dalam mobil itu.

"Kami sedang membicarakan seseorang yang beberapa pekan lalu bersama anak-anaknya dan berbicara dengan saya di telepon dan tertawa, dengan seseorang yang tidak bisa menggerakkan kakinya," katanya.

Aparat polisi yang terlibat dalam penembakan Blake pada 23 Agustus lalu, bernama Rusten Sheskey, telah diberi sanksi administratif selama proses penyelidikan. Ayah Blake mengaku "menerima sejumlah ancaman" semenjak anaknya ditembak. Ditanya bagaimana keluarganya mengatasi hal itu, dia mengatakan dia harus membawa anaknya yang lain ke rumah sakit karena dia mengalami depresi. Anaknya itu berusia 20 tahun.

Dia tidak memberikan rincian lebih lanjut, tetapi menambahkan: "Sangat menyedihkan buat saya bagaimana masyarakat tidak memahami tekanan yang kami rasakan."
Apa yang terjadi di Portland? Portland di negara bagian Oregon, juga menjadi pusat unjuk rasa semenjak gelombang protes Black Lives Matter yang dipicu pembunuhan seorang warga AS berkulit hitam lainnya - George Floyd - pada Mei lalu. Floyd meninggal di Minneapolis setelah seorang petugas polisi berlutut di lehernya dalam rentang waktu yang lama selama proses penangkapan.

Pada Juli lalu, pemerintahan Trump mengerahkan pasukan federal ke Portland, seolah-olah untuk melindungi gedung pengadilan federal dan properti lainnya. Namun pasukan ini kemudian ditarik di tengah tuduhan bahwa aksi tindakan kekerasan mereka telah memicu adanya kerusuhan. Pada Sabtu malam, aktivis sayap kanan Aaron "Jay" Danielson, 39 tahun, ditembak mati di kota itu setelah dia terlihat akan melindungi kendaraan yang ditumpangi para pendukung Trump dari serangan pengunjuk rasa anti rasialis.

Diminta untuk mengutuk para pendukungnya yang menembakkan butiran peluru plastik berisi cat (paint pellets) saat bentrokan dengan demonstran anti-rasisme pada malam yang sama, Trump menggambarkan aksi protes itu "berjalan damai" dan mengatakan keberadaan cat itu merupakan "mekanisme pertahanan, dan cat bukanlah peluru". Dia berkata kepada seorang wartawan: "Pendukungmu, dan mereka memang pendukung Anda, menembak seorang pemuda ... dan membunuhnya, bukan dengan cat tetapi dengan peluru. Dan saya pikir itu memalukan."

Sejumlah media melaporkan bahwa seorang pria yang menyebut dirinya anti-fasis tengah diselidiki atas kematian Danielson. Sementara itu, aksi protes meletus di Los Angeles, California, pada Senin malam setelah terjadi insiden seorang polisi menembak mati seorang pria kulit hitam di kawasan selatan kota itu. Polisi mengatakan pria itu - yang disebutkan di media lokal sebagai Dijon Kizzee yang berusia 29 tahun - melarikan diri setelah petugas melihatnya mengendarai sepeda motor dan melakukan tindakan melawan hukum.

Menurut polisi, pria itu ditembak di akhir pengejaran, setelah diduga memukul seorang petugas dan menjatuhkan buntelan pakaian yang dibawanya. "Para petugas memperhatikan bahwa di dalam buntelan pakaian yang dia jatuhkan ada pistol semi-otomatis berwarna hitam," kata seorang perwira polisi setempat, Letnan Brandon Dean, kepada wartawan. (*)

Tags : Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump Trump, Kunjungi Kenosha, Kenosha Rusuhan,