UTSMAN BIN AFAN dikenal luas dalam sejarah Islam bukan hanya sebagai sahabat dekat Nabi Muhammad, tetapi juga teladan kedermawanan yang berdampak langsung bagi keberlangsungan umat.
Kekayaan yang dimilikinya tidak pernah menjauhkan dirinya dari nilai pengorbanan, justru menjadi instrumen utama dalam memperkuat dakwah Islam pada masa-masa krusial.
Utsman bin Affan termasuk golongan Assabiqunal Awwalun, yakni orang-orang pertama yang memeluk Islam.
Mengutip buku Biografi Utsman bin Affan karya Ali Muhammad Ash-Shallabi terbitan Pustaka Al-Kautsar, Utsman memiliki nasab yang bertemu dengan Rasulullah pada Abdi Manaf.
Nama lengkapnya adalah Utsman bin Affan bin Abu Al-Ash bin Umayyah bin Abdi Syams bin Abdi Manaf bin Qushay bin Kilab.
Ia lahir pada 12 Dzulhijjah, 35 tahun sebelum Hijriah. Ayahnya bernama Affan bin Abi Al-Ash, sementara ibunya Arwa binti Kuraiz.
Sejak muda, Utsman dikenal sebagai pedagang sukses, berakhlak lembut, dan memiliki kepekaan sosial yang tinggi.
Nilai kedermawanan Utsman bin Affan paling menonjol ketika umat Islam menghadapi kesulitan besar menjelang Perang Tabuk.
Saat itu, kondisi ekonomi kaum muslimin sangat berat akibat paceklik. Rasulullah kemudian menyeru para sahabat untuk membantu pembiayaan pasukan.
Seruan itu disambut Utsman dengan tindakan nyata. Ia menyumbangkan 300 ekor unta lengkap dengan perlengkapannya, 50 ekor kuda, serta 1.000 dinar emas.
Sumbangan tersebut menjadi tulang punggung logistik pasukan Islam.
Melihat pengorbanan itu, Rasulullah bersabda,
“Setelah hari ini, apa yang dilakukan Utsman tidak akan membuatnya menjadi melarat,” (HR Tirmidzi dan Ahmad).
Kedermawanan Utsman bin Affan juga tercatat kuat dalam peristiwa hijrah ke Madinah. Saat itu, umat Islam mengalami krisis air bersih.
Satu-satunya sumur yang layak digunakan dimiliki seorang Yahudi dan airnya dijual dengan harga tinggi.
Rasulullah kemudian bersabda, siapa yang bersedia membeli dan mewakafkan sumur tersebut akan mendapat balasan minuman di surga.
Utsman pun membeli sumur itu secara bertahap dengan total biaya 20.000 dirham hingga akhirnya menjadi pemilik penuh.
Tanpa ragu, Utsman mewakafkan sumur tersebut untuk kepentingan umum kaum muslimin. Sumur itu dikenal sebagai Sumur Raumah dan menjadi simbol wakaf produktif pertama dalam sejarah Islam.
Kisah Utsman bin Affan menegaskan bahwa kekayaan dalam Islam bukan untuk ditumpuk, melainkan sarana kemaslahatan umat.
Pengorbanannya tidak hanya menjawab kebutuhan sesaat, tetapi meninggalkan jejak peradaban yang terus dikenang hingga kini.
Utsman bin Affan bukan sekadar sahabat Nabi atau khalifah ketiga, melainkan figur visioner yang memaknai harta sebagai amanah dan ladang pahala.
Tags : Utsman bin Affan, Pengusaha Dermawan, Utsman bin Affan Sahabat Rasulullah, Utsman bin Affan Sebagai Teladan ,