DALAM suasana khidmat memperingati HUT ke-34 Ikatan Keluarga Nasution (IKANAS), Provinsi Riau, dohot anak boruna, saya ingin mengajak kita semua-dongan tubu, kahanggi, dohot anak boru, untuk sejenak menoleh ke belakang.
Kita tidak sedang membicarakan sebuah organisasi yang baru seumur jagung sejak didirikan pada tahun 1992. Lebih dalam daripada itu, kita sedang membuka lembaran naskah tarombo (silsilah kuno) yang menjadi saksi bisu bahwa titisan darah dan nafas Marga Nasution di bumi Melayu Lancang Kuning, khususnya di tanah Rokan Hulu, telah mengakar kuat sejak tahun 1450 Masehi.
Diharapkan dengan tulisan ini agar generasi muda kita memahami sebuah kebenaran historis yang mutlak: Bahwa marga Nasution di Rokan Hulu bukanlah orang asing, bukan pula pendatang baru, melainkan bagian inti dari urat nadi sejarah tanah melayu Riau.
Garis Silsilah Leluhur:
Dari negeri "Seribu Satu Malam," ke "Dolok Martimbang". Jika kita runut ke belakang, silsilah leluhur marga Nasution bermula dari negeri pengelanaan yang agung di Timur-Tengah.
Garis keturunan kita mengakar pada Sultan Harun Nur Rasyid yang berkuasa di Irak, Bagdad. Beliau memiliki putra bernama Sultan Mahmud Syah, yang kemudian melahirkan seorang Pangeran penjelajah bernama Sultan Iskandar.
Kisah besar ini berpindah ke Nusantara ketika Sultan Iskandar, atas izin dan restu dari ayahnya, memutuskan berlayar meninggalkan Bagdad. Beliau menumpang kapal saudagar Arab dan memasuki gerbang Pulau Sumatera melalui Aceh.
Langkah kakinya dibimbing oleh sebuah petunjuk gaib melalui mimpi untuk menemui seorang gadis suci bernama Suri Andung Jati (Sutan Perempuan). Suri Andung Jati adalah putri dari Sutan Sinomba Sinoru yang berasal dari Kerajaan Kayangan, Lumban Julu.
Pencarian Sultan Iskandar membuahkan hasil, mereka dipertemukan di Tapian Nauli, Dolok Martimbang, dekat Danau Toba, Sumatra Utara.
Pertemuan suci tersebut berlanjut ke jenjang pernikahan hingga melahirkan dua putra yang kelak mengguncang sejarah tatanan sosial di Sumatera:
Dari nama dan karomah Sibaroar inilah asal-usul sebutan marga Nasution dilahirkan, yaitu Na Sakti On, yang dalam bahasa leluhur berarti: "Yang Saktilah Ini." Titisan darah Na Sakti On itulah yang hari ini mengalir didalam tubuh kita masing-masing sebagai marga Nasution.
Pembagian Garis Keturunan:
Antara Tanah Asal dan Rokan Hulu, Dari Sang Leluhur Agung Sibaroar, lahirlah 7 (tujuh) orang anak yang menjadi tonggak penyebaran keturunan marga Nasution.
Berdasarkan catatan tarombo, takdir dan garis kehidupan ketujuh anak tersebut terbagi menjadi dua bagian besar. Empat anak tetap melanjutkan kehidupan, bertahan, dan berkembang di tanah asal (Tapanuli):
Sementara itu, tiga anak lainnya mengikuti garis takdir di Tanah Melayu sejak sekitar tahun 1450 Masehi:
Anak nomor 2: Suri Lindung Bulan,(satu-satunya perempuan), telah berada lebih awal di Rokan Hulu, dan dipersunting menjadi permaisuri Agung, dari Tuanku Syah Alam di Kerajaan Tambusai, Rokan Hulu.
Anak no 6: Raja Solut Sutan Tua, (di wilayah Batang Samo, Rokan Hulu).
Anak no 7: Raja Namora Gompar Sutan Sinomba Sinoru, (di Huta haiti), Rokan Hulu.
Fakta sejarah pembagian ini tidak terbantahkan. Tiga dari tujuh anak kandung Sibaroar telah menapakkan kakinya di Rokan Hulu, Riau, sejak abad ke-15. Mereka bukanlah entitas asing, melainkan saudara kandung se-tanah air yang ikut membidani lahirnya peradaban di bumi Melayu Lancang Kuning ini.
Eksodus Padang Garugur dan persinggahan di Pisang Kolot.
Migrasi besar anak nomor 6 dan nomor 7 ke tanah Melayu Riau dipicu oleh peristiwa kelam, yaitu pecahnya perang saudara di Padang Garugur.
Demi menyelamatkan kelangsungan generasi, sang ibu Agung, Suri Andung Jati (Boru Namora), mengungsikan kedua cucunya terkecilnya,(Raja Solut dan Raja Namora Gompar) menuju arah kerajaan Tambusai, tempat dimana kakak mereka, Suri Lindung Bulan, telah bertahta sebagai Permaisuri.
Misi penyelamatan pada tahun 1450. M ini, dikawal ketat oleh sepasukan setia berjumlah 147 orang yang terdiri dari 5 Marga pendamping, yaitu, Marga Hasibuan, Lubis, Siregar, Daulay, dan Najanginon. Langkah mereka sempat tertahan dan harus bermukim di daerah Pisang Kolot selama 32 tahun (1418 sd 1450), sebelum akhirnya berhasil masuk, berasimilasi dan menetap secara sah serta berdaulat di wilayah Luhak Rambah dan sekitarnya.
Garis Silsilah (Tarombo) Keturunan ke-13.
Hubungan historis yang panjang ini bukanlah cerita fiktif, melainkan fakta genetis yang mengalir langsung dalam darah saya.
Saya sendiri, Edy Afrizal, merupakan keturunan ke-13 dari garis anak ke-7 Sibaroar, yaitu Raja Namora Gompar. Berdasarkan naskah tarombo otentik yang saya peroleh secara turun temurun, silsilah garis lurus tersebut tergambar sebagai berikut:
➡️ Sibaroar Sutan Sinomba Sinoru (kerajaan Mandailing Padang Garugur).
➡️ Namora Gompar Sutan Sinomba Sinoru (Huta Haiti, Rokan Hulu).
➡️ Mangaraja Dewa (Bagas Godang Haiti).
➡️ Mangaraja Suang Kupon.
➡️ Jaronggar.
➡️ Mangarajo Kayo.
➡️ Jabatang Taris.
➡️ Japautan Sutan Tua.
➡️ Jamahodum (Sutan Laut Api).
➡️ Mangaraja Taras.
➡️ Tengku Mohammad Zaman. (Sutan Laut Api).
➡️ Jasin.
➡️ Achmad Natar.
➡️ Edy Afrizal (Sutan Mangaraja Gompar Parlindungan).
Inilah sekelumit fakta sejarah keberadaan Marga Nasution di Riau. Terhitung sejak kedatangan mula-mula pada tahun 1450, artinya sudah ± 476 tahun lamanya rahim Marga Nasution ikut membesarkan dan menjaga bumi Melayu Lancang Kuning ini.
Kisah lengkap dan detail heroisme serta nilai luhur ini, tertuang dengan sangat rapi di dalam buku Tarombo kami ini.
Melalui momentum HUT ke-34 IKANAS Riau, saya selaku ketua Dewan Penasehat mengingatkan kepada seluruh generasi penerus Nasution, Ketahuilah asal usulmu, jagalah marwah leluhurmu, tinggikan falsafah dimana bumi dipijak, disitu langit di junjung, dan teruslah berbakti demi kejayaan Provinsi Riau yang sama-sama kita cintai.
Tags : Sejarah dan Tarombo, Marga Nasution, Bumi Lancang Kuning, Edy Afrizal Natar Nasution,