Sorotan   2020/03/08 12:20 WIB

Sakai: Pelestarian Alam yang 'Mulai Tercemar'

Sakai: Pelestarian Alam yang 'Mulai Tercemar'

Masyarakat adat Suku Sakai dikenal dengan gaya hidup yang jauh dari kehidupan modern dan lebih mempertimbangkan kelestarian alam, tapi hutan yang aksesnya jauh dari perkotaan itu dengan keunikan ragam budaya serta pesona alamnya mulai terusik dan tercemar

class=wp-image-20807

asyarakat adat Suku Sakai Bengkalis, Riau dikenal dengan gaya hidup yang jauh dari kehidupan modern dan lebih mempertimbangkan kelestarian alam lingkungan tempat tinggal sekitarnya.

Mereka membangun permukiman di tengah wilayah hutan yang aksesnya jauh dari perkotaan. Keunikan budaya serta pesona alamnya menjadikan Sakai sebagai salah satu destinasi wisata di Provinsi Riau.

Sejak tahun 2000-an, wisatawan bahkan pelaku usaha mulai ramai berdatangan ke-alam penuh budaya adat asli Riau ini. Namun, kedatangan wisatawan dan para pengusaha, selain mendatangkan keuntungan finansial, juga membawa permasalahan lain.

Masyarakat tergabung pada persukuan Ninik Mamak, Batin So Lapan Desa Sibangar dan Desa Harapan Baru, Kecamatan Batin So Lapan, Bengkalis, Riau merasa dizalimi terkait pembangunan Jalan Tol Pekanbaru-Dumai pada seksi atau jalur III-IV Duri-Dumai. Terzalimi akibat pembangunan jalan tol melewati kampung dan lahan persukuan adat Suku Sakai, kata Datuk Puyan Batin So Lapan, salah seorang tetua ninik mamak Batin So Lapan dalam bincang-bincangnya melalui ponselnya.

Datuk Puyan Batin So Lapan yang bertubi-tubi menjelaskan bahwa pembangunan jalan tol persis di lahan persukuan memang belum dihuni rumah penduduk persukuan, hanya ditumbuhi sawit milik PT Murini Wod Indah Industri (MWII), sawit milik perusahaan itu menggunakan lahan kami tak ada memberi ganti rugi selama lebih dari 15 tahun, bahkan tak juga mengikutsertakan kami sebagai anggota pola KKPA/mitera, kata dia.

class=wp-image-20648

Lingkungan suku tertua di Riau ini selain hutannya secara perlahan berubah menjadi kebun sawit, juga tercemar akibat banyaknya kehadiran perusahaan-perusahaan dilingkungan yang biasanya menggunakan bahan alami sebagai kemasan, (ini sebagai contoh terjadi) secara perlahan mereka beralih menggunakan plastik karena dianggap lebih praktis. Di sisi lain, masyarakat Sakai yang tidak terbiasa dengan sampah plastik, akhirnya mengolahnya dengan cara membakar, yang bisa mengganggu kesehatan warga.

Orang Rimba yang mencoba bertahan di tengah hutan yang semakin habis. Hutan di Provinsi Riau, Sumatera itu adalah rumah Orang Rimba atau juga dikenal dengan Suku Anak Dalam ini memiliki kepercayaan mereka dan cara hidup mereka yang nomaden, sepertinya tidak diakui negara. Kini, ketika hutan mereka dihabisi untuk membuka perkebunan kelapa sawit, banyak di antara mereka yang terpaksa memeluk agama Islam demi bertahan hidup.

Krisis air bersih

Warga di sejumlah tempat dipermukiman Sakai juga sudah merasakan sulitnya mencari air bersih. Salah satu kawasan yang terancam kehabisan air pada 2040 bila sumber daya air yang ada tidak dikelola, (walaupun Indonesia menyimpan 6% potensi air dunia).

Datuk Puyan Batin So Lapan mengaku warga sudah merasakan dampaknya. Sebagian warga ada yang terpaksa berjalan kaki menuju sebuah tempat yang berjarak satu kilometer dari rumahnya untuk mendapatkan air. Sumur yang berada dekat lingkungan tempat tinggal pemukiman warga telah mengering sehingga air harus dicari kesumber lain yang bisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga secara gratis.

Dia juga mengaku banyak warga kini kian bergantung pada pedagang air keliling pada musim kemarau ini. Pompa air manual milik bersama semakin kepayahan menyedot air tanah dari sumur sedalam 14 meter, maklum sebagian besar warga disni belum menikmati fasilitas jaringan PDAM, ungkap Datuk Puyan.

Berdasar Water Environment Partnership in Asia (WEPA), Indonesia merupakan salah satu negara terkaya dalam sumber daya air karena menyimpan 6% potensi air dunia. Namun kajian resmi pemerintah tidak memprediksi daerah Minas, Duri dan Bengkalis ini yang terus kehilangan hampir seluruh sumber air bersih sejak 10 tahun terakhir. Seperti disebutkan Ir Ganda Mora MSi dari Dewan pimpinan Nasional Indenpenden Pembawa Suara Pemberantas Korupsi, Kolusi, Kriminal, Ekonomi (IPSPK3) RI menyebutkan, sejumlah faktor pemicu krisis air di sejumlah wilayah itu akibat salah satunya pertambahan penduduk hingga alih fungsi lahan.

Suku Sakai bergantung pada hutan

Suku Sakai merupakan salah satu suku asli Riau dikenal selalu dekat dan bergantung pada hutan. Suku Sakai sangat menghormati hutan adat mereka. Kawasan yang biasa mereka sebut sebagai ulayat tersebut memiliki peraturan tertentu yang tak boleh dilanggar, salah satunya adalah larangan penebangan pohon. Jika melanggar peraturan masyarakat Suku Sakai akan dikenakan denda uang yang jumlahnya setara dengan emas dalam ukuran tertentu, yang telah ditentukan dalam rapat adat. Denda itu biasanya disesuaikan dengan usia pohon yang ditebang, kata Datuk Puyan.

Menurutnya, suku Sakai sangat menghormati hutan adat. Kawasan yang biasa disebut sebagai ulayat tersebut memiliki peraturan tertentu yang tak boleh dilanggar, salah satunya adalah larangan penebangan pohon. Mereka yang melanggar peraturan bisa diusir dari kawasan hingga dibunuh, sebutnya.

Namun Datuk Puyan mengakui, beragam hal yang diproduksi dan dikenakan Suku Sakai sampai kini berkaitan erat dengan alam sekitarnya. Misalnya pakaian asli yang terbuat dari kulit pohon akibat dari kedekatan masyarakat dengan hutan.

class=wp-image-20649

Sementara mata pencaharaian masyarakat selama ini dengan membuat wadah yang sering dimanfaatkan untuk menampung madu hutan. Wadah yang sering disebut timo terbuat dari kulit kerbau yang dikeringkan. Wadah yang sudah terbentuk lingkaran kemudian diberi batas dari rotan dan kemudian diberi tali. Warga disini juga tetap melakukan aktivitas berkebun, terang Puyan.

Tapi Datuk Puyan mengaku, saat ini secara perlahan kawasan hutan semakin berkurang karena dimanfaatkan oleh perusahan dan pihak lain mendorong Suku Sakai untuk meninggalkan cara hidup warga yang lama. Ilmu mereka dalam mengolah alam sekitar pun semakin terbatas untuk digunakan. Pemandangan Suku Sakai dengan baju kulit kayu yang mungkin umum dilihat 30 tahun yang lalu sudah tak terlihat. Masyarakat Suku Sakai kini sudah banyak berbaur dengan warga Riau lain. Kebanyakan dari mereka pun berpindah kepercayaan dari animisme menjadi muslim.

Krisis kesehatan di Suku Sakai

Nama Sakai sendiri konon memiliki kepanjangan Sungai, Kampung, Anak, dan Ikan. Nama tersebut mengacu pada cara hidup Suku Sakai yang selalu berpindah ke berbagai tepian sungai atau sumber air. Suku Sakai masuk ke kawasan Tepian Sugai Gasib, Hulu Sungai Rokan yang berada di pedalaman Riau.

Suku Sakai yang diyakini memiliki darah keturunan minang dan Ras Weddoid. Campuran tersebut berasal dari leluhur mereka yang merupakan keturunan Pagaruyung, sebuah kerajaan melayu kuno yang berasal dari Sumatra Barat dan orang-orang yang berasal dari Hindia Selatan yang kini tersebar lokasinya seperti daerah Kandis, Balai Pungut, Kota Kapur, Minas, Duri, sekitar Sungai Siak hingga bagian hulu Sungai apit.

Datuk Puyan, pria berambut lurus itu, tampak terlihat letih. Matanya kemerahan karena dimungkinkan banyaknya persoalan yang kian menimpa lingkungan adat yang ia pimpin. Datuk Puyan berharap bisa segera terselesaikan berbagai persolana yang melilit lingkungan permukimannya salah satunya tanah adat yang diserobot PT Murini Wood Indah Industri yang kini masuk pada HGU perusahaan.

Ia sekali-kali melakukan perjalanan menyusuri sungai Gasib itu, bagi pria yang sehari-hari juga bertani umbi-umbian terkadang melihat sebagian besar orang tua yang anaknya terpapar gizi buruk tinggal jauh dari pusat kesehatan yang ideal. Krisis kesehatan gizi buruk kata dia juga melanda warga suku sakai tapi jarang menjadi sorotan media, kondisi geografis wilayahnyayang didominasi rawa berlumpur dan sungai-sungaidianggap sebagai salah satu pemicu utama kasus tersebut. Jangkauan ke pusat pengobatan sangat sulit terkadang masyarakat harus menggunakan jalur sungai, kata Puyan yang juga mengakui kondisi lingkungannya diperparah adanya harga bahan bakar minyak (BBM) yang relatif lebih mahal akibat suplai BBM yang tidak lancar di wilayah itu.

Menyinggung soal keberadaan sungai Gasib, Puyan; Tentu saja, persoalan di balik krisis kesehatan yang melanda warga kami tak melulu soal geografis, ungkapnya.

Banyak anak-anak disni mengonsumsi air sungai untuk kebutuhan makan dan minum sehari-hari. Airnya tidak dimasak, kami biasa minum langsung (dari sungai), kata Puyan walaupun banyak anak mengidap gizi buruk tapi dia mengaku keluarganya dalam kondisi sehat.

Biasa-biasa saja, keluarga sehat, katanya, enteng. Ditanya bagaimana mereka buang air kecil dan besar? Puyan mengaku tidak memiliki jamban yang layak. Kami buang air besar dan kecil di dekat rumah dan sungai.

Bagi warga kediamannya jauh dari sungai juga buang hajat di dekat rumah. Disini sebagian warganya juga tidak memiliki jamban keluarga. Kami tutupi saja dengan seng, tidak ada septic tank, katanya.

class=wp-image-20663
Citera Satelit lokasi Perkebunan Kelapa Sawit PT Murini Wod Indah Industri

Namun Ganda Mora yang juga dari Barisan Relawan Jalan Perubahan (BARAJP) yang mendapat kuasa penuh dalam peristiwa penyerobotan tanah ulayat warga Suku Sakai oleh PT Murini Wod Indah Industri itu, mengaku telah melakukan tinjuan kelokasi menerangkan; Di sinilah diperlukan kehadiran dan ketersediaan tenaga medis yang handal di wilayah yang terpencil dan jauh dari jangkauan kesehatan. Juga diperlukan sistem rujukan. Sangat penting untuk komunikasi perawat dan dokter dari distrik ke kabupaten, ke dinas atau ke rumah sakit, kata dia.

Menurutnya, sistem rujukan seperti ini dapat berguna ketika terjadi kedaruratan seperti yang terjadi pada gizi buruk di lingkungan suku sakai. Sebuah harapan yang juga disadari oleh banyak pihak, termasuk oleh pemerintah kita. Terlalu banyak hal dan membutuhkan penanganan jangka panjang, untuk membicarakan penanganan masalah ini, khususnya yang terjadi di persukuan Ninik Mamak, Batin So Lapan Desa Sibangar dan Desa Harapan Baru, Kecamatan Batin So Lapan, Bengkalis, Riau ini, katanya. (surya dharma)

Tags : -,