Sorotan   2020/03/30 05:12 WIB

Bagaimana Kehidupan Para Tunawisma Seiring Penyebaran Virus Corona?

Bagaimana Kehidupan Para Tunawisma Seiring Penyebaran Virus Corona?

Sudah dua pekan terakhir penyebaran Virus Corona yang juga terimbas di Kota Pekanbaru, Riau tak satupun restoran dijalanan membuka pintu bagi para tunawisma dan orang-orang yang hidupnya rentan

class=wp-image-21179

isepanjang jalan Jenderal Sudirman berbagai tempat restoran dan hotel di sela-sela kolom menjulang dari lantai ke langit-langit, memiliki sebuah dapur profesional di belakang. Namun hari ini, tempat itu kosong. Yang ada di sana adalah sekelompok pekerja yang menyajikan sup hangat, roti lapis, kue dan roti dari meja-meja ruang vip untuk tamu dan konsumen.

Malam hari, restoran dan hotel ada makanan hangat ini adalah fakta baru yang berkembang seiring penyebaran virus corona di Kota bertuah, yaitu upaya untuk tetap menyediakan makanan bagi mereka yang paling membutuhkan sembari mengurangi risiko penyebaran, tetapi bukan untuk para tunawisma.

Sebelumnya, banyak dapur umum penyedia sup -- yang biasanya dikelola hotel dan restoran tetapi sudah banyak yang tutup. Tetapi sekarang diperkirakan mereka telah kehilangan pekerja dan mereka yang berusia di atas 70 tahun dengan berat hati dipaksa tinggal di rumah.

Bagi seorang perempuan, Weni, yang biasanya tidur sembarangan di jembatan gantung menggambarkan bahwa restoran dan hotel biasanya memberikan layanan memberikan sedikit makanan adalah penyambung hidupnya setiap hari. Saya benar-benar takut setelah adanya Virus Corona ini, katanya.

Tak banyak penginapan yang mau menampung orang karena virus ini. Dan saya tak ada tempat untuk tidur malam ini. Saya tak punya keluarga untuk saya andalkan, katanya sambil meneteskan air mata rasa sedihnya.

Saya rela ditempatkan di mana pun, bahkan di reruntuhan gedung.

Kalau hotel dan restoran pun tutup, saya tak tahu bisa apa saya, sebutnya menambahkan keluhannya.

Risiko lebih besar terkena virus

class=wp-image-21623

Weni mengaku tak seorangpun memberikan tisu untuk tetap menjaga kebersihan di siang hari. Terkadang bisa juga mandi, sekalipun layanan ini terbatas. Tapi wabah ini diakuinya memberi pukulan keras terhadap kesehatan mentalnya.

Suasana hati saya lesu, dan ini terus memburuk. Saya tak bisa tidur belakangan ini, ungkapnya.

Para tunawisma memiliki risiko lebih terpapar virus, dan banyak dari mereka punya penyakit sebelumnya, kata H Darmawi Aris SE dari Lembaga Melayu Riau (LMR) menyikapi masih adanya tunawisma di jalanan.

Kesehatan masyarakat dan melindungi orang yang paling rentan dari virus corona adalah prioritas utama pemerintahan, katanya.

Namun tetap ada seruan agar pemerintah bertindak lebih jauh. LMR juga menyinggung soal rumah singgah bagi tuna wisma menyatakan bahwa akomodasi seperti itu bisa digunakan. Rumah singgah harus lebih banyak tes untuk mereka yang tinggal di sana, terutama karena mereka menggunakan kamar mandi dan dapur yang sama.

Pemasukan mereka tentu sudah turun sejak wabah karena pengumpulan dana mereka juga menurun. Saya sangat khawatir akan dampak semua ini pada rumah singgah yang dikelola pemerintah, ungkapnya.

Dampak penyebaran virus Corona atau Covid-19 di Kota Pekanbaru, Riau memang mulai dirasakan masyarakat di beberapa daerah. Sejumlah ruas jalanan protokol di Kota Pekanbaru terlihat sepi dari biasanya sejak sepekan terakhir. Beberapa warung dan kafe di sepanjang jalanan Jenderal Sudirman, Pekanbaru, terlihat sudah tutup. Kesadaran masyarakat dan pengusaha untuk menghindari keramaian mulai terlihat untuk mencegah menyebarnya virus Covid-19.

Pemandangan serupa juga terlihat di kawasan Jalan Jenderal Sudirman, Pekanbaru. Sementara pemerintah melalui instansi terkait lainnya gencar melakukan imbauan dengan pengeras suara dengan berkonvoi menggunakan kendaraan. Mereka menyampaikan pesan kepada warga untuk tetap beraktivitas di rumah, menjaga kesehatan dan menghindari keluar rumah dan kerumunan jika tidak sesuatu hal yang penting dan mendesak seperti berbelanja sembako dan kebutuhan.

Sementara itu malam harinya, aparat kepolisian juga mengintensifkan patroli untuk memantau tempat-tempat keramaian. Sedangkan Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan pemerintah Provinsi Riau sudah bekerja dari rumah sesuai dengan surat edaran Gubernur Riau, Syamsuar, beberapa hari lalu. Begitu pula dengan tempat-tempat ibadah juga mendapat imbauan agar tidak melaksanakan kegiatan keramaian dan perkumpulan untuk sementara waktu sesuai anjuran pemerintah.

Namun seiring penyebaran vvirus mematikan itu, Dinas Sosial (Dinsos) Kota Pekanbaru telah menjaring 19 gelandangan dan pengemis (Gepeng) di sejumlah titik. Mirisnya, 11 di antaranya masih anak-anak. Kami langsung bawa ke shelter Dinas Sosial. Banyak dari anak jalanan di Kota Pekanbaru itu masih anak-anak, kata Kepala Dinsos Kota Pekanbaru Chairani Sabtu kemarin.

Chairani tidak menampik ada dugaan keterlibatan orang tua dalam kasus ini. Anak-anak ini diduga disuruh orang tua untuk mencari uang di jalanan. Chairani menyebutkan, ada beberapa titik ditemukan gepeng anak-anak ini. Seperti di traffic light depan kantor gubernur Riau dan persimpangan rumah dinas gubernur Riau, serta jalan Diponegoro. Ada juga di traffic light depan Polda Riau dan pertigaan jalan Jenderal Sudirman - jalan Tuanku Tambusai.

Menurutnya, setelah didata oleh petugas Dinsos, memang ditemukan anak-anak ini ditemani orang tua saat berjualan di jalan. Ia menegaskan kepada orang tua bahwa anak-anak itu tidak boleh berjualan di jalan. Mereka bisa saja jadi korban aksi kriminal atau pelecehan seksual. Kemudian saat ini sedang menyebar covid-19, kata dia.

Pemerintah Riau telah mengumumkan dana darurat untuk membantu pemerintah daerah menyediakan akomodasi dan layanan kepada tuna wisma yang perlu melakukan isolasi mandiri. Langkah ini disambut baik oleh Pemerintahan Daerah dan dewan.

Memakai hotel-hotel yang kosong

class=wp-image-21624

Namun menurut Darmawi mengakui tidak ada salahnya dilakukan uji coba penawaran kamar-kamar hotel-hotel di Kota Pekanbaru diberikan pada pengurus tuna wisma, dengan tujuan melindungi tunawisma dari penyebaran virus.

Menurut Darmawi, tanpa langkah seperti ini mustahil bagi tuna wisma untuk melakukan isolasi mandiri. Ia yakin dengan akomodasi yang ada juga bisa dipakai untuk menampung tuna wisma, karena banyak kamar yang punya fasilitas MCK dan bisa dipakai untuk mengurung diri.

Yang ideal, adalah dengan memindahkan tuna wisma ke apartemen yang ada perabotannya. Ini tidak hanya memungkinkan tuna wisma untuk isolasi mandiri jika dibutuhkan, tapi juga secara potensial bisa menyelesaikan masalah mereka sebagai tunawisma, sebutnya.

Banyak tunawisma orang-orang yang rentan yang sudah tak bisa lagi ke bank makanan karena sudah tutup. Ada juga tunawisma berceloteh, seandainya layanan tak ada, ia tak akan makan karena tak bisa beli apa-apa. Tapi wabah ini diperkirakan akan berlangsung berbulan-bulan, dan sulit membayangkan hotel dan restoran akan kembali beroperasi dari dapur mereka. (rp.sdp/*)

Tags : -,