Sorotan   2026/06/27 14:19 WIB

El Niño Mulai Memengaruhi Kondisi Kehidupan Manusia dari Kebakaran Hutan, 'Juga Bisa Terjadi Perubahan Cuaca, Ekonomi, Kekeringan Sampai Kesehatan'

El Niño Mulai Memengaruhi Kondisi Kehidupan Manusia dari Kebakaran Hutan, 'Juga Bisa Terjadi Perubahan Cuaca, Ekonomi, Kekeringan Sampai Kesehatan'

"El Niño mulai memengaruhi kondisi kehidupan dan kesehatan manusia"

ara ilmuwan asal Amerika Serikat menyatakan bahwa fenomena alam El Niño telah dimulai. Akibatnya, risiko kekeringan dan kebakaran hutan meningkat di sebagian besar Indonesia, Australia, dan Amerika Selatan bagian utara.

Badan Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (NOAA) mengumumkan bahwa kondisi El Niño saat ini sedang berlangsung di kawasan Pasifik tropis, seiring dengan lonjakan tajam suhu permukaan laut dalam beberapa bulan terakhir.

Banyak prakiraan cuaca mengindikasikan bahwa fenomena kali ini berpotensi menjadi "super" El Niño, bahkan bisa menjadi salah satu yang terkuat dalam sejarah yang pernah tercatat.

Berpadu dengan dampak pemanasan global akibat aktivitas manusia selama berdekade-dekade, fenomena ini diprediksi akan memicu kemungkinan rekor tahun terpanas selanjutnya pada 2027.

Dampaknya pun diperkirakan bakal mengacaukan cuaca, pasokan pangan, serta perekonomian hingga jauh ke tahun tersebut.

Di Indonesia, kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terpantau telah mulai terjadi di Aceh Barat.

Yayasan Hutan, Alam dan Lingkungan (HAkA) melaporkan peningkatan signifikan luas area terbakar di Kecamatan Bubon, Kabupaten Aceh Barat.

Berdasarkan analisis citra satelit terbaru, area yang terdampak kebakaran diperkirakan telah mencapai sekitar 280 hektare.

Kebakaran pertama terdeteksi pada 28 Mei 2026 dan citra satelit tersebut diambil pada 8 Juni, menandakan kebakaran telah terjadi lebih dari sepekan.

Titik api teridentifikasi di sejumlah desa di Kecamatan Bubon, yakni Desa Kuta Padang, Beurawang, dan Pange.

'Kebakaran berpotensi meluas'

HAkA memperingatkan bahwa kebakaran berpotensi meluas tanpa penanganan cepat di lapangan.

Deputi Bidang Klimatologi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Ardhasena Sopaheluwakan, sebelumnya memang memprediksi peluang berkembangnya fenomena El Nino pada semester kedua tahun ini.

"Meskipun intensitas pastinya masih berkembang, musim kemarau 2026 diprediksi akan lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibandingkan rata-rata normalnya," katanya.

Pengumuman dari NOAA ini sebenarnya bukanlah hal yang mengejutkan. Para prakirawan cuaca memang telah memprediksi fase pemanasan ini sejak "kembaran" El Niño yang membawa suhu lebih dingin, yaitu La Niña, berakhir pada pengujung tahun lalu.

Saat ini, suhu permukaan laut di kawasan Pasifik tengah dan tropis telah melewati ambang batas 0.5°C di atas rata-rata. Angka ini adalah indikator yang digunakan oleh para ilmuwan AS untuk menetapkan dimulainya fenomena El Niño.

"Kondisi El Niño telah berkembang selama sebulan terakhir, yang ditunjukkan oleh suhu permukaan laut (SST) di atas rata-rata di sepanjang Samudra Pasifik ekuator bagian tengah hingga timur," ungkap lembaga tersebut.

Selain itu, NOAA juga mengamati bahwa pergerakan angin di atas Pasifik ekuator mulai berubah. Ini menjadi tanda bahwa atmosfer kini mulai merespons kehangatan samudra, bukan sekadar fenomena pemanasan laut yang terjadi sendirian.

Hal yang justru mengejutkan para peneliti adalah betapa kuatnya tingkat keyakinan yang ditunjukkan oleh model komputer saat ini mengenai kekuatan El Niño.

Intensitas El Niño sendiri diukur dari seberapa jauh suhu permukaan laut melonjak di atas rata-rata pada zona kunci di Samudra Pasifik.

Sebuah fenomena dikategorikan "kuat" jika suhunya mencapai lebih dari 1.5°C di atas rata-rata, dan dikategorikan "sangat kuat" jika melampaui 2°C.

Menurut tinjauan NOAA bulan Juni, "terdapat peluang sebesar 63% terjadinya El Niño yang sangat kuat selama periode November hingga Januari, yang akan menempatkannya sebagai salah satu peristiwa El Niño terbesar dalam catatan sejarah sejak tahun 1950," ungkap lembaga tersebut.

Sebagai catatan, tiga peristiwa El Niño terkuat sejak tahun tersebut terjadi pada periode 1982/1983, 1997/1998, dan 2015/2016.

Beberapa model prakiraan cuaca terbaru dari AS dan Eropa (ECMWF) bahkan memperkirakan lebih jauh.

Model-model tersebut menunjukkan bahwa suhu di kawasan Pasifik tropis berpotensi melonjak hingga lebih dari 3°C di atas rata-rata pada akhir tahun ini.

Kendati demikian, lembaga asal AS tersebut mengimbau untuk tetap berhati-hati dalam menyikapi prediksi kekuatan ini.

"Bahkan peristiwa El Niño yang sangat kuat sekalipun tidak selalu menimbulkan dampak yang sama di setiap wilayah. Namun, fenomena yang lebih kuat dapat memperbesar peluang terjadinya dampak yang telah diprediksi sebelumnya," katanya.

Kekhawatiran juga meningkat sebab semua ini terjadi saat bumi kita sendiri sudah jauh lebih panas.

"Kita benar-benar harus mencemaskan dampaknya," ujar Prof. Adam Scaife, kepala prediksi bulanan hingga dekadal di UK Met Office.

"El Niño saat ini terjadi di atas gelombang pemanasan global yang sudah sangat masif. Artinya, suhu aktual di wilayah-wilayah yang terdampak bisa saja mencapai tingkat yang belum pernah terjadi sebelumnya, karena pemanasan dari El Niño ini kian diperparah oleh perubahan iklim," tambahnya.

Biasanya, El Niño yang sangat kuat akan mendongkrak suhu udara global sekitar 0,2°C karena lautan melepaskan panas yang tersimpan ke atmosfer. Sengatan panas tambahan tersebut kini menghantam dunia yang suhunya memang sudah terus-menerus mencetak rekor.

Tahun 2024—yang menjadi tahun terpanas dalam catatan sejarah—bahkan didorong oleh El Niño yang sebenarnya tidak terlalu kuat.

Sementara itu, meskipun sempat diredam oleh efek pendinginan dari fenomena La Niña, tahun 2025 tetap berakhir sebagai tahun terpanas ketiga dalam catatan sejarah, bahkan lebih panas daripada tahun 2016 yang dilanda super El Niño.

"Di akhir tahun ini dan memasuki tahun 2027, kita kemungkinan besar akan melihat suhu global yang sangat tinggi," ujar Prof. Scaife.

"Pada tahun 2027, kita kemungkinan akan menghadapi panas berlebih di atas pemanasan global yang sudah ada saat ini, dan hal itu bisa dengan mudah memicu tahun berikutnya yang melampaui batas 1,5 derajat [pemanasan di atas tingkat akhir abad ke-19]."

Tidak ada dua El Niño yang benar-benar sama, namun gangguannya paling dirasakan secara langsung di wilayah tropis.

Banjir sering terjadi di Peru bagian utara dan Ekuador bagian selatan, dan dampaknya dapat mencapai sebagian wilayah Afrika Timur, Asia Tengah, serta Amerika Serikat bagian selatan.

El Niño juga cenderung meredam badai Atlantik, dan para peramal cuaca memperkirakan musim badai kali ini akan lebih tenang dari rata-rata.

"Meskipun kedengarannya seperti hal yang baik, bagi Amerika Tengah hal itu menyebabkan curah hujan yang jauh lebih sedikit dan berpotensi menimbulkan kondisi kekeringan," kata Liz Stephens, profesor risiko iklim dan ketahanan di University of Reading.

Bahkan UK pun merasakannya, meski samar-samar. El Niño dapat menggeser peluang menuju awal musim dingin yang sejuk dan akhir musim dingin yang dingin, meskipun hubungannya tidak terlalu kuat.

Bagi banyak orang, prakiraan cuaca ini bukanlah sekadar teori abstrak.

"Deklarasi El Niño bukan sekadar prakiraan cuaca biasa — bagi jutaan orang, ini adalah sirene mematikan yang patut ditakuti," kata Mohamed Adow, direktur kelompok kampanye Power Shift Africa.

"Ini berarti kegagalan panen karena kurangnya hujan, tanaman yang mati, lonjakan harga pangan, dan keluarga-keluarga yang kembali terdesak ke titik nadir. Di Afrika Timur khususnya, dampak ini akan menimpa masyarakat yang sudah babak belur akibat kekeringan dan banjir dalam beberapa tahun terakhir."

Badan Meteorologi Jepang (JMA) memiliki pandangan yang serupa dengan NOAA, yang menilai bahwa kondisi El Niño saat ini memang sedang terjadi. JMA menambahkan bahwa kondisi ini hampir pasti akan bertahan hingga musim gugur.

Namun, tidak semua lembaga siap untuk menyatakannya. Biro Meteorologi Australia (BoM) menggunakan kriteria yang lebih ketat, yang mensyaratkan suhu permukaan laut melebihi 0,8°C di atas rata-rata.

Lembaga tersebut menyatakan bahwa wilayah Pasifik tropis "sedang mendekati kondisi El Niño", dengan suhu di Pasifik tengah yang sudah melewati ambang batasnya, namun mereka belum secara resmi mendeklarasikan bahwa fenomena tersebut telah dimulai.

Mereka memperkirakan El Niño akan berkembang akhir tahun ini, dan menyatakan bahwa kekuatannya bisa jadi cukup besar.

El Niño terjadi setiap dua hingga tujuh tahun sekali dan biasanya berlangsung selama sekitar satu tahun.

Belum ada bukti konklusif bahwa perubahan iklim membuat fenomena ini menjadi lebih kuat atau lebih sering terjadi — namun dunia yang kian memanas dapat melipatgandakan dampak buruknya.

Bagaimana El Niño memengaruhi kondisi kehidupan manusia?

Para ilmuwan memperkirakan tahun 2023 dapat menjadi awal dari pola iklim El Niño yang kuat. Apa dampaknya bagi kehidupan kita?

Selama beberapa bulan mendatang, air hangat dalam jumlah besar akan mengalir perlahan melintasi Samudra Pasifik ke arah Amerika Selatan.

Hal itu akan memicu dimulainya fenomena iklim yang akan membawa perubahan pola cuaca yang dramatis di seluruh dunia.

Para ilmuwan di bidang iklim memperingatkan saat ini ada kemungkinan 90% dari pola cuaca El Niño yang bertahan hingga akhir tahun ini dan bulan-bulan pertama 2024.

Dan mereka memperingatkan El Niño bisa menguat. Jika itu yang terjadi, maka dampaknya bisa signifikan. 

Para ilmuwan memperingatkan bahwa dengan meningkatnya emisi dan El Niño yang kuat, ada kemungkinan 66% dunia akan menembus batas kenaikan suhu global 1,5 derajat Celsius, setidaknya dalam periode satu tahun dari sekarang sampai 2027.

Kondisi itu juga bisa membawa cuaca ekstrem yang merusak, seperti hujan deras dan banjir di AS dan di wilayah lainnya pada musim dingin ini.

"Kami memproyeksikan kemungkinan di atas 90% bahwa akan ada kondisi El Niño selama musim dingin," kata David DeWitt, direktur Pusat Prediksi Iklim Administrasi Kelautan dan Atmosfer Nasional AS. 

"Ada kemungkinan 80% bahwa kita akan mengalami El Niño pada bulan Juli."

Efek dari hal ini juga berlanjut sampai beberapa waktu mendatang.

Sebuah studi baru-baru ini, yang dilakukan oleh para peneliti di Dartmouth College, Hanover, New Hampshire, memperkirakan bahwa El Niño yang dimulai pada 2023 dapat merugikan ekonomi global sebanyak $3,4tn (senilai Rp50.876 triliun) selama lima tahun berikutnya.

Mereka mengatakan bahwa setelah dua peristiwa El Niño yang sangat kuat sebelumnya, pada tahun 1982-1983 dan 1997-1998, produk domestik bruto (PDB) AS 3% lebih rendah setengah dekade kemudian daripada yang seharusnya.

Jika peristiwa sebesar itu terjadi hari ini, mereka menghitung ekonomi AS akan terdampak sebesar $699 miliar (senilai Rp10.459 triliun).

Perlu dicatat bahwa negara tropis pesisir, seperti Peru dan Indonesia, bagaimanapun, mengalami penurunan PDB sebesar 10% setelah peristiwa El Niño yang sama, kata para peneliti.

Mereka memproyeksikan kerugian ekonomi global akan mencapai $84 triliun (senilai Rp1.256 kuadriliun) abad ini karena perubahan iklim meningkatkan frekuensi dan kekuatan peristiwa El Niño.

"El Niño bukan sekadar kejutan dari kondisi ekonomi yang baru saja pulih. Studi kami menunjukkan bahwa produktivitas ekonomi tertekan untuk waktu yang lebih lama setelah El Niño dibandingkan setahun setelah peristiwa tersebut," kata Justin Mankin, rekan penulis studi dan asisten profesor geografi di Dartmouth College.

"Ketika kita berbicara tentang El Niño di sini, di Amerika Serikat, itu berarti jenis dampak yang akan kita lihat, banjir dan tanah longsor, biasanya tidak diasuransikan oleh sebagian besar rumah tangga dan bisnis," kata Mankin.

Di California, misalnya, 98% pemilik rumah tidak memiliki asuransi banjir.

Dampak ekonomi lainnya di AS dapat mencakup kerusakan infrastruktur akibat banjir, yang akan menyebabkan gangguan rantai pasokan, dan panen yang buruk akibat banjir atau kekeringan, kata Mankin.

Namun, apakah orang-orang di AS harus bersiap menghadapi musim dingin yang sangat menyedihkan tahun ini jika El Niño datang? Belum tentu.

Meski El Niño bisa membawa periode cuaca ekstrem yang intens ke Amerika Utara, hal itu tidak selalu terjadi.

Selama El Niño berlangsung, angin yang biasanya mendorong air yang lebih hangat di Samudra Pasifik ke arah barat melemah, memungkinkan air yang lebih hangat mengalir kembali ke timur dan menyebar ke wilayah lautan yang lebih luas.

Hal ini menyebabkan lebih banyak udara yang kaya kelembapan di atas lautan yang lebih hangat, yang mengubah sirkulasi udara di atmosfer di seluruh dunia.

Di Amerika Utara, ini biasanya menyebabkan Kanada dan AS bagian utara mengalami musim dingin yang lebih hangat dan kering dari biasanya.

Sementara negara bagian selatan dan pesisir teluk cenderung mendapatkan kondisi yang lebih basah, kata DeWitt.

"El Niño cenderung meningkatkan kemungkinan curah hujan di atas normal untuk sepertiga bagian selatan AS," kata DeWitt.

El Niño juga biasanya mengurangi jumlah badai di Samudra Atlantik, tetapi dapat menyebabkan lebih banyak badai di pesisir Pasifik AS.

Tetapi, semua efek ini sangat bergantung pada kekuatan El Niño yang mendorongnya.

Negara bagian selatan di AS adalah yang paling mungkin mengalami dampak parah, termasuk hujan deras dan potensi banjir bandang, kata DeWitt memperingatkan.

Ini akan terjadi setelah beberapa tahun kekeringan yang disebabkan tiga musim La Niña berturut-turut.

"Seringkali yang terjadi [selama El Niño] adalah ketika hujan datang, datangnya sangat cepat. Itu dapat menyebabkan tanah longsor di California dan di tempat lain, yang biasanya terjadi kebakaran hutan, bisa sangat merusak," kata DeWitt.

Ini karena bumi yang kepanasan hanya mampu menahan lebih sedikit air, yang dapat menyebabkan longsor yang berbahaya.

Peristiwa El Niño yang kuat pada 1997-1998 dan 2015-2016, misalnya, menyebabkan banjir dan tanah longsor ke California.

Peristiwa 1997-1998 juga dikaitkan dengan peristiwa ekstrem lain yang tidak biasa di tempat lain di AS, seperti badai es yang parah di New England dan tornado mematikan di Florida.

Tidak sampai di situ saja, perubahan pola cuaca yang dibawa oleh El Niño juga membawa masalah lain.

Penyakit menular dapat menjadi lebih umum di daerah yang kondisinya mendukung serangga dan hama menyebarkannya.

Satu studi tentang peristiwa El Niño 2015-2016 menemukan wabah penyakit menjadi 2,5%-28% lebih intens.

Terjadi peningkatan kasus virus West Nile, yang disebarkan oleh nyamuk, di California. Sementara New Mexico, Arizona, Colorado, Utah, dan Texas juga mengalami peningkatan wabah sindrom paru hantavirus, yang sebagian besar disebarkan oleh hewan pengerat.

Bahkan ada peningkatan jumlah kasus wabah pada manusia – walaupun hanya segelintir kasus – di negara bagian barat dan barat daya AS.

Selama El Niño banyak panas dan uap air diangkut dari daerah tropis menuju kutub.

"Saat kelembapan di garis lintang yang lebih tinggi meningkat, ia akan memerangkap lebih banyak radiasi infra merah termal yang menyebabkan pemanasan. Inilah yang kami sebut efek rumah kaca," kata DeWitt.

Bahkan pelanggaran sementara ambang batas 1,5 derajat Celsius karena meningkatnya emisi dan El Niño tahun ini, seperti yang diprediksi oleh Organisasi Meteorologi Dunia, dapat menyebabkan penderitaan manusia yang meluas di seluruh dunia.

Menurut sebuah studi baru-baru ini oleh University of Exeter di Inggris, membatasi pemanasan global jangka panjang hingga 1,5 derajat Celsius dapat menyelamatkan miliaran orang dari paparan panas berbahaya (suhu rata-rata 29 derajat Celsius atau lebih tinggi).

Kebijakan saat ini diproyeksikan menyebabkan peningkatan suhu 2,7 derajat Celsius secara global pada akhir abad ini, yang dapat membuat dua miliar orang terkena tingkat panas yang berbahaya di seluruh dunia, kata para peneliti.

Membatasi pemanasan hingga 1,5 derajat Celsius, berarti akan ada lima kali lebih sedikit orang yang hidup dalam panas yang berbahaya dan akan membantu mencegah migrasi terkait iklim dan kesehatan yang merugikan, termasuk keguguran dan gangguan fungsi otak, kata Tim Lenton, salah satu penulis studi dan direktur Institut Sistem Global di Universitas Exeter.

Ada kekhawatiran bahwa karena emisi karbon terus meningkat, peristiwa El Niño di masa depan mungkin akan semakin sering membuat suhu global di atas ambang batas 1,5 derajat Celsius.

"Setiap peningkatan 0,1 derajat Celsius sangat penting," kata Lenton. "Setiap pemanasan 0,1 derajat Celsius yang dapat kita hindari, dengan perhitungan kami, menyelamatkan 140 juta orang dari paparan panas yang belum pernah terjadi sebelumnya dan bahaya yang dapat ditimbulkannya."

"Ini menyelamatkan ratusan juta orang dari bahaya dan itu harus menjadi insentif besar untuk bekerja lebih keras untuk mencapai nol emisi". (*)

Tags : Bencana alam, Perubahan iklim, Alam, Lingkungan, Indonesia,