Linkungan   2026/07/29 11:35 WIB

Aktivis Tommy Simanungkalit Beri Solusi Bagi PT Musim Mas Perbaiki Kerusakan Lingkungan Tepi Sungai Air Hitam

Aktivis Tommy Simanungkalit Beri Solusi Bagi PT Musim Mas Perbaiki Kerusakan Lingkungan Tepi Sungai Air Hitam
Ir Tommy Simanungkalit SH MH, Aktivis Lingkungan

PEKANBARU - Aktivis lingkungan sekaligus sebagai Praktisi Hukum, Ir Tommy Simanungkalit SH MH beri masukan bagi perusahaan perkebunan PT Musim Mas (MM) yang sebelumnya telah ditetapkan Polda Riau sebagai tersangka korporasi atas dugaan perusakan lingkungan hidup di Kabupaten Pelalawan, Riau, dengan taksiran kerugian ekologis mencapai Rp187,8 miliar.

"Perusahan MM itu dituduhkan telah lama melakukan pencemaran di Sempadan Sungai Air Hitam, anak Sungai Nilo, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan."

Bentuk pelanggaran dilakukan perusahaan berupa pembukaan lahan dan penanaman sawit di kawasan sempadan sungai tanpa izin pemanfaatan dari Balai Wilayah Sungai Sumatera III.

Aktivitas ilegal itu diduga berlangsung sejak 1997–1998 dan terus berproduksi melenceng dari dokumen AMDAL

"Media lingkungan yang menjadi tercemar sekitar lokasi anak Sungai Nilo, Kecamatan Ukui, Kabupaten Pelalawan."

"Solusi bagi perusahaan untuk memperbaiki kerusakan di tepi sungai melalui tiga langkah utama bisa dilakukan pengelolaan limbah yang ketat, penghijauan bantaran sungai dan pemulihan ekosistem," kata Tommy Simanungkalit, Selasa (29/7).

Ia mengaku sudah menyampaikan hal itu pada Humas Manager PT MM, Malinton Purba. 

Ia juga menyinggung soal perbaikan yang bisa dilakukan terutama dalam pengelolaan limbah dan pembersihan.

"Perusahaan harus bisa memastikan buangan pabrik memenuhi baku mutu sebelum dialirkan ke badan air, memasang trash boom atau konveyor apung untuk menyaring sampah di area pabrik dan memanfaatkan cairan fermentasi organik untuk menekan bakteri patogen dan menjernihkan air secara biologis," kata dia.

Sementara untuk konservasi dan restorasi, perusahaan bisa melakukan reboisasi di sempadan sungai untuk mengikat tanah dan mencegah abrasi yang melibatkan masyarakat lokal dalam program pengawasan dan pembersihan rutin di sekitar kawasan operasional.

Meski dirinya sedang sibuk menangani berbagai perkara kasus lingkungan di sekitar perusahaan perkebunan sawit, Tommy Simanungkalit masih menyempatkan diri untuk berbagi pengalaman dan pandangannya tentang bagaimana kebersihan sungai seharusnya dijaga.

"Saya melihat banyak kerusakan lingkungan, banyak kerusakan sungai. Media lingkungan menjadi tercemar. Dan saya punya pengetahuan tentang bagaimana dampak pencemaran itu bisa merubah ekosistem."

"Kemudian ya dengan pengetahuan yang saya miliki dan problem lingkungan di Indonesia waktu itu kan orang-orang tidak peduli, ya. Dari situ saya ingin berbuat sesuatu. Yang penting saya ingin menjadi bermanfaat untuk lingkungan kita," katanya. 

Ia mengakui memahami kalau Indonesia, katanya, hampir 85% dari air permukaan.

"Bisa dibayangkan, air minum kita itu dari permukaan air sungai. Kemudian, penduduk Indonesia setiap tahun menghasilkan 8 juta ton sampah plastik. Tapi pemerintah tidak mampu mengelola semuanya, hanya mampu 3 juta ton."

"Jadi ada 5 juta ton sampah plastik yang tidak terkelola itu lari ke sungai, dibakar. Sekitar 2,6 juta ton itu lari ke sungai. Baik langsung maupun tidak langsung. Sehingga kemudian kita menjadi negara penyumbang terbesar ke-2 setelah China di dunia yang menyumbangkan sampah plastik ke laut."

"Kita ini negara tropis di mana paparan matahari sangat kuat, sehingga kita melihat 2 musim, ya. Musim panas 6 bulan, musim hujan 6 bulan. 2 musim ini membuat partikel plastik mudah pecah menjadi serpihan2 kecil yang disebut mikroplastik. Jadi sebenarnya di negara 4 musim itu plastik butuh waktu lama untuk pecah dari makro menjadi mikro tapi di Indonesia bisa lebih cepat," ungkap Pemimpin Redaksi Cybber88.com ini.

"Temuan kami sudah ada sekitar 38 sungai di Indonesia yang terkontaminasi mikroplastik."

Menurutnya, dampak mikroplastik bentuknya menyerupai plankton, jadi bisa termakan oleh ikan. Ini sangat berbahaya, karena mikroplastik terbuat dari bahan berbaya dan ada tambahan bahan-bahan adiktif sekitar 10.000 ya, ada phthalat, pigmen warna, ini senyawa yang bisa mengganggu sistem hormon manusia. Maka ada obesitas, kemudian kekurangan insulin, juga mempengaruhi reproduksi.

Jadi ini bisa mempengaruhi kesehatan manusia, Tommy menyebutkan, apalagi 22 Maret 2026 kemarin, kita ada informasi terbaru bahwa mikroplastik sudah ada di darah manusia. Itu artinya sampah plastik sudah berpindah, bertransformasi, tidak hanya dalam feses tapi juga dalam darah sekarang. (*)

Tags : perusahaan perkebunan, pt musim mas, kerusakan lingkungan, solusi perbaiki kerusakan lingkungan, kerusakan lingkungan tepi sungai air hitam, pelalawan, riau, lingkungan, alam,