LINGKUNGAN - Mikroplastik bukan lagi sekadar ancaman di daratan atau permukaan laut.
"Bahaya mikroplastik sudah mengancam b iota di dalam laut."
“Saat itu, dengan alat bantu terbatas, kami menemukan ada mikroplastik di kedalaman lautnya,” kata Muhammad Reza Cordova, ahli pencemaran laut Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Saat ini, partikel plastik berukuran kurang dari lima milimeter (mm) itu sudah mengancam laut dalam dengan kedalaman 200-2.000 meter dan mengancam biota.
Muhammad Reza Cordova, menyatakan, temuan mikroplastik di laut dalam Indonesia pertama kali terungkap dalam penelitian 2015 di pesisir barat Sumatera.
Menurut dia, masuknya mikroplastik ke lapisan terdalam lautan adalah karena partikel itu bersifat nonpolar yang terlihat menyerupai material organik, hingga memungkinkan partikel menempel pada marine snow.
Marine snow atau salju laut adalah hujan detritus organik yang terus-menerus jatuh dari lapisan permukaan laut yang kaya cahaya ke dasar laut yang gelap.
Marine snow terdiri dari sisa-sisa tanaman/hewan mati, kotoran (feses), dan material anorganik lainnya.
Ketika mikroplastik menempel pada salju laut, maka massa gabungan akan semakin berat, karena ada material organik hingga mikroorganisme.
“Akumulasi mikroplastik mengganggu siklus karbon, merusak agregat alami, menghambat proses remineralisasi, dan efisiensi penyimpanan karbon secara jangka panjang,” katanya.
Dia bilang, apa yang terjadi saat ini, menggambarkan bahwa ancaman sedang mengintai bumi dan berdampak pada penurunan ekologis, misalnya gangguan pada biota laut.
Hasil pengujian temukan mikroplastik di hampir seluruh spesimen.
Ancaman yang mengintai laut dalam, terutama kehidupan mikrofauna seperti foraminifera, kopepoda, dan nematoda yang kesulitan membedakan mikroplastik dengan makanan. Hal itu berisiko mengganggu pencernaan dan menyebabkan stres fisiologis.
Dalam jangka panjang, gangguan pada mikrofauna akan menyebar luas ke fauna lain di dalam laut.
Pada akhirnya, itu akan mempengaruhi dasar rantai makanan, termasuk ikan, paus, dan organisme lainnya di laut dalam.
Reza katakan, mikroplastik jauh lebih bahaya dari yang dibayangkan banyak orang. Pasalnya, mikroplastik bisa menjadi media efektif untuk menyebarkan bahan polutan tambahan.
“Mikroplastik dapat membawa bahan berbahaya seperti logam berat dan endocrine disruptors yang berakumulasi di dasar laut.”
Sayangnya, meski bisa turun dengan cepat ke dasar laut, materi berbahaya itu bisa kembali naik ke permukaan laut melalui proses upwelling, yakni, ketika suhu dingin laut dalam naik ke permukaan.
“Ketika itu terjadi, maka upwelling akan bisa membawa polutan ke permukaan, memperluas distribusi mikroplastik dan partikel beracun,” katanya.
Saat laut sudah ada di bawah pengaruh mikroplastik, ancaman akan bergerak ke manusia yang menjadi puncak predator di bumi namun dampak pada manusia akan terasa dalam jangka panjang.
Reza menyebut, buruknya pengelolaan sampah plastik berkontribusi terhadap kandungan mikroplastik di laut dalam.
Juga produk tekstil seperti dari produk pakaian bekas berbahan sintetis dan limbah masker.
Saksi bisu akan masuknya mikroplastik ke laut dalam, ditemukan pada bernakel, hewan kecil berkulit keras yang menempel di permukaan pelampung tambat (mooring buoy).
Bernakel hidup tanpa pernah berpindah tempat dan menjadi bagian dari ekosistem laut yang tak terlihat.
Sebagai hewan invertebrata dengan sifat menempel seumur hidup pada satu tempat, bernakel tidak memiliki kemampuan untuk menghindari ancaman lingkungan yang datang padanya.
Sifat itu membuat spesies pemakan plankton ini menerima semua partikel negatif.
Bernakel memakan plankton dan , maka dia akan menyaring air laut dengan baik. Namun, jika air laut yang sedang mereka saring itu ternyata sudah mengandung mikroplastik, maka partikelnya akan masuk ke tubuh mereka.
Berdasarkan analisis laboratorium, sepertiga bernakel diketahui mengandung partikel dan serat mikroplastik. “Mikroplastik yang kami temukan pada barnakel menunjukkan betapa luas dan kompleksnya masalah ini.”
Temuan mikroplastik di laut menjadi peringatan perairan internasional.
Mengingat, Indonesia memiliki Arus Lintas Indonesia (Arlindo), yang menjadi salah satu jalur laut terpenting di dunia.
Jalur yang mempertemukan Samudera Pasifik dengan Samudera Hindia itu bisa menjadi pembawa mikroplastik yang akan memengaruhi ekosistem di banyak negara.
Riset oleh Corry Yanti Manullang, peneliti Pusat Riset Laut Dalam yang juga Ketua Kelompok Riset Dinamika Lingkungan Laut Dalam BRIN mengonfirmasi kemungkinan itu.
Bersama tim kolaborasi dari Malaysia, Amerika Serikat, dan China, Corry temukan mikroplastik di kedalaman 2.450 meter di jalur utama Arlindo.
Arus ini mengalir lewat selat penting seperti Selat Makassar, Selat Alas, dan Selat Lombok.
Berdasarkan hasil analisis, lebih dari 90 persen mikroplastik yang dia temukan berbentuk serat (fiber), yaitu jenis partikel yang umum berasal dari bahan tekstil sintetis.
Partikel ini biasanya berasal dari baju yang terlepas saat dicuci.
Selain bentuk serat, penelitian juga mengonfirmasi mikroplastik berasal polyester, polypropylene, dan polyurethane yang banyak digunakan dalam produk tekstil, kemasan, maupun bahan industri.
Bagi Corry, temuan tersebut menjelaskan kalau laut dalam bisa menjadi lokasi akumulasi mikroplastik. Pasalnya, Arlindo bisa menjadi media cukup kuat bagi partikel plastik untuk bergerak ke berbagai lapisan air.
“Temuan bahwa mikroplastik sudah mencapai kedalaman lebih dari dua kilometer menunjukkan bahwa persoalan sampah plastik tidak hanya terjadi di pesisir. Ini sudah menjadi masalah bagi ekosistem laut secara keseluruhan.”
Etty Riani, Guru Besar bidang Ekotoksikologi IPB University menyampaikan, keberadaan mikroplastik telah menurunkan kemampuan laut untuk menyerap karbon.
Hal itu akan mengganggu biolog laut karena mikroplastik yang menempel pada fitoplankton akan mengurangi penetrasi cahaya untuk proses fotosintesis.
“Akibatnya, kemampuan fitoplankton untuk menyerap karbon menjadi berkurang,” katanya.
Selain mengganggu fotosintesis, fakta lain adalah mikroplastik tidak bisa terurai. Dengan begitu, ia akan tetap dalam tubuh organisme laut.
Kondisi itu membuat rantai makanan sangat terancam, karena mikroplastik akan terus bertahan ke tubuh yang baru.
“Mikroplastik tidak dapat dicerna, menyebabkan energi dan nutrisi pada rantai makanan terganggu.”
Bahaya mikroplastik akan mengganggu proses biological carbon pump, dimana kotoran organisme laut yang seharusnya memiliki massa berat dan mudah tenggelam ke dasar laut untuk menyimpan karbon menjadi lebih ringan.
Kondisi itu membuat proses dekomposisi terjadi lebih cepat di perairan permukaan. Jika itu terjadi, karbon akan terlepas ke atmosfer.
“Marine snow yang mengandung organik tercampur mikroplastik menjadi lebih ringan dan sulit tenggelam, sehingga karbon dilepaskan sebelum mencapai dasar laut.”
Selain itu, mikroplastik juga sebabkan polusi kimia dan ancaman kesehatan.
Salah satunya, karena mikroplastik menjadi inang antara dengan membawa bahan berbahaya beracun (B3) seperti logam berat dan bahan kimia yang lain.
Hal itu terjadi karena plastik sifatnya membawa zat aditif seperti logam berat atau B3.
Saat bahan aditif lepas dari mikroplastik, maka akan ada kekosongan yang diisi oleh B3 sebagai inang antara.
Jika sudah seperti itu, maka semua organisme laut yang memakannya akan terpapar racun berbahaya.
“Zat-zat tersebut dapat mengganggu proses fisiologis organisme laut, termasuk reproduksi, merusak organ tubuh, dan menurunkan populasi biota laut dan berbagai masalah lainnya,” katanya.
Melihat begitu bahayanya mikroplastik, Etty mengimbau terus mengurangi penggunaan plastik sekali pakai da mikroplastik primer seperti microbeads pada produk perawatan dan kosmetik. Selain itu, melakukan edukasi secara terus menerus. (*)
Tags : mikroplastik, bahaya mikroplastik, biota laut terancam, mikroplastik ancam biota laut, bencana di laut, kelautan perikanan, pencemaran, produk kelautan, satwa, lingkungan, alam,