Pekanbaru   2026/10/09 10:44 WIB

BMKG Nilai Hotspot di Wilayah Sumatera ada 4.127 Titik Buat Kabut Asap Makin Tebal, 'Bisa Ganggu Pernapasan dan Kesehatan Warga'

BMKG Nilai Hotspot di Wilayah Sumatera ada 4.127 Titik Buat Kabut Asap Makin Tebal, 'Bisa Ganggu Pernapasan dan Kesehatan Warga'

PEKANBARU, RIAUPAGI.COM – Kabut asap yang masih menyelimuti wilayah Riau menjadi perhatian serius di tengah meningkatnya jumlah titik panas (hotspot) di Pulau Sumatera.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak asap, terutama bagi kesehatan sistem pernapasan.

Petugas BMKG Stasiun Pekanbaru, Indah, mengatakan pada Jumat (9/10/2026), jumlah titik panas di wilayah Sumatera tercatat mencapai 4.127 titik.

Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan jumlah titik panas tertinggi, yakni 3.328 titik. Berikutnya, Lampung mencatat 330 titik, Bangka Belitung 225 titik, dan Jambi 224 titik.

Sementara itu, Sumatera Barat dan Bengkulu masing-masing mencatat lima titik panas, sedangkan Sumatera Utara terpantau memiliki dua titik.

Di wilayah Riau, BMKG mendeteksi delapan titik panas yang tersebar di lima kabupaten. Rinciannya, Kabupaten Kampar satu titik, Kuantan Singingi dua titik, Pelalawan dua titik, Indragiri Hulu dua titik, dan Indragiri Hilir satu titik.

Meski jumlah titik panas di Riau relatif lebih sedikit dibandingkan sejumlah provinsi lain di Sumatera, kondisi asap yang masih tebal tetap perlu diwaspadai karena dapat mengganggu kesehatan masyarakat.

“Sobat cuaca, dengan kondisi asap yang masih tebal di Riau pada hari ini, kami untuk meningkatkan kewaspadaan masyarakat terhadap dampaknya pada kesehatan, terutama sistem pernapasan. Kami mengimbau untuk sobat memakai masker saat beraktivitas di luar ruangan dan membatasi aktivitas di luar rumah apabila kondisi asap semakin pekat," sebut Indah.

BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan kondisi udara yang memburuk.

Penggunaan masker saat berada di luar ruangan serta pembatasan aktivitas di luar rumah ketika asap semakin pekat menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko paparan asap.

Masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan orang dengan gangguan pernapasan, diharapkan lebih berhati-hati dalam beraktivitas selama kondisi asap masih menyelimuti wilayah Riau.

Warga juga diimbau terus memantau informasi cuaca dan kualitas udara dari sumber resmi serta segera mengurangi paparan asap apabila mengalami gangguan pernapasan.

Sementara dokter paru minta rumah oksigen disiapkan.

“Paparan asap yang terjadi dalam waktu yang lama akan mengakibatkan mudahnya terjadi serangan atau eksaserbasi pada orang-orang yang menderita asma, bronkiektasis dan PPOK," kata Sekretaris Perhimpunan Dokter Paru Indonesia (PDPI) Provinsi Riau, Dr dr Indra Yovi Sp.P (K), Kamis (8/10).

"Pada orang-orang yang sedang ataupun pernah menderita TB maupun penyakit infeksi kronis lain juga akan mengakibatkan mudah terjadinya infeksi baru dan penurunan fungsi paru. Pasien asma dan PPOK juga bisa mengalami serangan yang mengancam jiwa yang ditandai dengan gagal napas,” sebutnya.

Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda mulai menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan masyarakat.

Gangguan pernapasan diperkirakan semakin terasa seiring meningkatnya konsentrasi partikel halus PM2,5 di udara.

Kelompok rentan menjadi pihak yang paling berisiko mengalami dampak buruk paparan asap, mulai dari bayi, anak-anak, ibu hamil, lansia, hingga masyarakat yang sebelumnya telah memiliki penyakit paru dan saluran pernapasan seperti asma, tuberkulosis (TB), penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), kanker paru, sinusitis, dan rhinitis.

Indra Yovi, mengatakan dampak kesehatan akibat paparan asap akan semakin berat apabila konsentrasi PM2,5 terus meningkat.

Ia menyebut peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan bronkitis, baik pasien rawat jalan maupun rawat inap, sudah terlihat signifikan pada Agustus dan September dibandingkan periode Mei, Juni, dan Juli.

Melihat kondisi tersebut, dr Yovi meminta pemerintah daerah mulai mengambil langkah antisipasi.

Salah satunya dengan memetakan lokasi yang dapat digunakan sebagai Rumah Oksigen atau Tenda Oksigen bagi masyarakat yang membutuhkan bantuan oksigen.

“Karena itu, demikian dr Yovi, Pemprov, Pemkab dan Pemko SeRiau sebaiknya sudah mulai melakukan pemetaan untuk mempersiapkan Rumah Oksigen/Tenda Oksigen yang nantinya bisa diperuntukkan untuk masyarakat yang membutuhkan bantuan oksigen,” katanya.

Menurutnya, langkah perlindungan masyarakat juga harus diperkuat melalui distribusi masker secara masif. Edukasi mengenai pentingnya menggunakan masker selama kondisi udara buruk juga perlu ditingkatkan.

Pemerintah, lanjutnya, tidak perlu ragu mengambil kebijakan untuk membatasi aktivitas masyarakat di luar ruangan ketika kualitas udara berada pada kondisi yang membahayakan kesehatan.

“Termasuk juga selalu mengevaluasi PJJ bagi sekolah, dan jangan ragu memperpanjang PJJ seandainya kondisi udara masih pada level berbahaya untuk kesehatan,” ujarnya.

Di tengah kondisi kabut asap, masyarakat juga diminta meningkatkan perlindungan diri dengan menggunakan masker.

Masker N95 menjadi pilihan yang paling direkomendasikan karena mampu menyaring partikel polutan berukuran PM2,5 yang terdapat dalam asap karhutla.

“Masker yang paling direkomendasikan yakni masker N95. Tetapi minimal pakai masker bedah biasa untuk kondisi sekarang sudah cukup, karena masker N95 kadang susah didapat dan harganya relatif mahal,” katanya.

Selain penggunaan masker, dr Yovi juga menyarankan masyarakat menggunakan air purifier di dalam rumah.

Alat tersebut dinilai dapat membantu membersihkan udara apabila asap mulai masuk ke dalam ruangan sehingga mengurangi risiko polusi udara di dalam rumah atau indoor pollution.

Aktivitas olahraga di luar ruangan juga sebaiknya dihentikan sementara selama kualitas udara masih buruk.

“Aktifitas olahraga diluar rumah seperti bersepeda ataupun jogging dengan kondisi sekarang sebaiknya ditunda,” sebutnya.

Masyarakat juga diminta menjaga kondisi tubuh dengan memenuhi kebutuhan cairan.

Minum air putih yang cukup diperlukan untuk mencegah dehidrasi sekaligus mengurangi keluhan tenggorokan kering akibat paparan asap.

“Masyarakat kami imbau untuk dapat menjaga kesehatan, seperti minum air putih yang cukup. Serta makan makanan yang sehat dan bergizi,” imbaunya.

Khusus bagi kelompok rentan, dr Yovi mengingatkan agar lebih disiplin membatasi aktivitas di luar rumah.

Lansia serta masyarakat yang memiliki penyakit paru dan gangguan saluran pernapasan menjadi kelompok yang harus mendapat perhatian lebih selama kabut asap masih menyelimuti wilayah Riau.

“Kelompok rentan seperti lansia, mereka yang memiliki penyakit paru sebaiknya menghindari aktivitas diluar rumah,” katanya. (rp.ind/*)

Tags : kabut asap, pekanbaru, karhutla, kabut asap makin tebal, kabut asap pengaruhi kesehatan, ganggu pernapasan,