Internasional   2022/07/11 17:42 WIB

Boris Johnson Umumkan Pengunduran Diri Secara Gentleman, akibat 'Terlibat Skandal Pelecehan Seks'

Boris Johnson Umumkan Pengunduran Diri Secara Gentleman, akibat 'Terlibat Skandal Pelecehan Seks'
Boris Johnson menemui Ratu Elizabeth setelah menjadi perdana menteri pada 2019.

INTERNASIONAL - Perdana Menteri Inggris, Boris Johnson, mengumumkan pengunduran dirinya sebagai ketua Partai Konservatif, posisi yang menjadikannya sebagai perdana menteri setelah gelombang pengunduran diri para pejabat pemerintah.

Hal ini terjadi setelah terungkap Johnson mengetahui dugaan skandal pelecehan seksual seorang anggota parlemen yang ia tunjuk sebagai wakil ketua kaukus parlemen pada Februari lalu.

Dalam pidatonya, Johnson mengatakan, "Saya ingin Anda tahu bahwa betapa sedihnya saya mundur dari pekerjaan terbaik di dunia."

Johnson mengatakan pemilihan ketua partai dimulai sekarang dan ia akan tetap menjabat sampai ketua baru terpilih.

Ia juga mengatakan sangat bangga atas sejumlah pencapaian, termasuk menyelesaikan Brexit - keluarnya Inggris dari Uni Eropa - melewati pandemi Covid serta memimpin Barat menghadapi aksi Vladimir Putin menyerang Ukraina.

Sebelumnya Johnson berkukuh akan tetap menjabat meski banyak menteri mundur.

Ia termasuk salah satu perdana menteri Inggris dengan masa pemerintahan yang singkat.

Ketika Boris Johnson mengeluarkan pernyataan pengunduran diri, puluhan orang di luar Downing Street mendengar pengumuman bersejarah itu.
Pengunduran pejabat paling besar dalam sejarah

Keputusan Johnson untuk mundur terjadi dua hari setelah lebih dari 50 eksekutif pemerintahan mundur. Angka pengunduran diri ini adalah yang terbesar sejak 1932, dan saat itu tercatat 11 anggota pemerintahan yang mundur.

Yang pertama mundur adalah Menteri Keuangan Rishi Sunak dan Menteri Kesehatan Sajid Javid yang mengajukan pengunduran diri Selasa (05/07) karena cara PM Boris Johnson menangani tuduhan skandal pelecehan seksual seorang anggota parlemen dari partainya.

Pengunduran diri kedua menteri disusul oleh para pejabat lain.

Bahkan Menteri Keuangan Nadhim Zahawi, yang baru sehari menjabat, menulis surat desakan agar Boris lengser dari jabatannya.

Mundurnya para menteri dan para pejabat itu terjadi sebulan setelah Johnson menghadapi mosi tidak percaya di parlemen dan menang walaupun 41% anggota partainya sendiri menentang.

Upaya untuk menggesernya terjadi setelah muncul foto-foto dan bukti terjadinya pertemuan dan pesta di kantor pemerintah ketika terjadinya lockdown ketat di Inggris, yang diumumkan oleh pemerintah sendiri.

Skandal pelecehan seksual

Namun gelombang pengunduran diri secara besar pekan ini terjadi karena skandal pelecehan seksual menyangkut anggota parlemen Chris Pincher.

Pada tanggal 30 Juni lalu, surat kabar The Sun melaporkan Pincher, yang saat itu menjabat sebagai wakil ketua Kaukus Partai Konservatif di Parlemen, menggerayangi dua pria di satu klub di London.

Pincher yang ditunjuk oleh Johnson pada Februari lalu di tengah perombakan eksekutif, langsung mengundurkan diri.

Apa yang terungkap kemudian menunjukkan bahwa sebenarnya Boris Johnson mengetahui tentang latar belakang Pincher terkait tuduhan pelecehan seksual yang juga pernah terjadi sebelumnya.

Para menteri dan juru bicara Johnson sempat menekankan bahwa perdana menteri tidak mengetahui terkait tuduhan spesifik menyangkut Pincher saat ia ditunjuk sebagai wakil ketua kaukus parlemen.

Namun Senin malam (04/07), fakta yang sebenarnya mulai terungkap bahwa Johnson pernah menerima keluhan resmi terkait "kelakuan tak patut" terkait Pincher ketika dia menjabat sebagai pejabat urusan Eropa dan Amerika di Kementerian Luar Negeri pada 2019 dan 2020.

Pada Selasa 5 jULI 2022 lalu, Sir Simon McDonald, mantan pejabat tinggi di Kementerian Luar Negeri, mengatakan bahwa Johnson secara resmi mendapatkan informasi terkait pengaduan itu.

Kantor perdana menteri Downing Street kemudian mengatakan kepada wartawan bahwa Johnson mengetahui tentang pengaduan itu namun dia "lupa".

Pada Selasa itu juga, Johnson mengakui bahwa penunjukkan Pincher merupakan "kesalahan besar."

Namun, gelombang besar pengunduran diri terus bergulir sejak itu.

Perdana menteri Inggris yang menekuk semua aturan

Bagi Boris Johnson, aturan dan konvensi politik normal tak berlaku baginya. Skandal demi skandal menerpa, namun ia terus saja selamat. Karier politiknya seakan tidak ada matinya.

Ia memang bukan politisi biasa.

Rambutnya pirang dan terlihat tak pernah rapi. Acak-acakan. Gayanya khas yang membuatnya bisa masuk ke kantong-kantong pemilih yang selama ini tak bisa dimasuki politisi lain.

Johnson dua kali memenangi pemilihan wali kota London, area yang banyak didiami oleh pemilih Partai Buruh, sementara ia adalah wakil Partai Konservatif.

Pada pemilu nasional 2019, Johnson dan Partai Konservatif menang besar, yang meneguhkan Johnson sebagai politisi "dengan sentuhan emas".

Nama Johnson adalah jaminan "kemenangan politik" hingga kemudian pandemi Covid mendera. 

Bukan kebijakan pemerintah yang menjadi sorotan saat pandemi melanda, tetapi perilaku Johnson, yang pada akhirnya membuatnya harus menamatkan karier politik di posisi puncak.

Saat seluruh penjuru negeri di-lockdown, ada pesta-pesta di kediaman resminya di Downing Street, London, yang memunculkan tuduhan serius bahwa ia tak layak menjadi pemimpin negara.

Dan bukan sekali ini ia menghadapi tuduhan serius semacam ini.

'Raja dunia'

Ia terlahir dengan nama Alexander Boris de Pfeffel Johnson. Saat kecil, ia sudah menarik perhatian teman-temannya dengan sesumbar bahwa suatu saat nanti ia akan menjadi "raja dunia".

Ia lahir di New York, Amerika Serikat, dari orang tua kelas atas Inggris. Ia punya lima saudara, kandung dan tiri.

Masa kecilnya dihabiskan di kawasan Inggris barat daya, di rumah keluarga yang berada di kawasan Taman Nasional Exmoor.

Pada 1970-an ia pindah ke Brussels, Belgia, mengikuti sang ayah, Stanley Johnson, yang menjadi pejabat Komisi Eropa.

Ia sempat bersekolah di ibu kota Belgia ini.

Pada 1973, orang tuanya bercerai. Ia kembali ke Inggris dan kemudian mendapatkan bea siswa ke salah satu sekolah swasta paling prestisius di Inggris, Eton.

Karakter Johnson sebenarnya "sudah bisa dibaca" saat ia bersekolah di Eton.

Kepala sekolah dan guru-gurunya menggambarkan Johnson sebagai sosok yang "bisa membawa perubahan, jenaka, tetapi juga gila".

Ia juga "marah jika dikritik, padahal kritik itu untuk membuatnya lebih bertanggung jawab".

Juga digambarkan "sosok yang menganggap aturan umum tak berlaku baginya".

Klub minum-minum Oxford

Dari Eton, Johnson melanjutkan studi ke Universitas Oxford. Bidang yang ia tekuni adalah bahasa, kesusastraan, sejarah, arkeologi, dan filsafat Romawi dan Yunani kuno.

Di sini ia menjadi presiden organisasi kemahasiswaan kenamaan yang didirikan pada 1823. Ia juga anggota klub minum-minum Bullingdon. 

Lalu ia menikahi sesama mahasiswa Oxford, Allegra Mostyn-Owen, yang juga dikenal sebagai model.

Andrew Gimson, yang menulis biografi Johnson, mengatakan di acara pernikahan, Johnson hadir dengan pakaian yang keliru dan cincin kawinnya hilang satu jam setelah pernikahan.

Pernikahan ini hanya bertahan kurang dari tiga tahun.

Ia lulus dan menekuni karier sebagai wartawan di London dengan menjadi reporter muda di koran The Times.

Ia diberhentikan gara-gara memalsukan kutipan.

Ia tak lama menganggur. Koran The Daily Telegraph, yang ketika itu dipimpin Sir Max Hastings, merekrutnya menjadi wartawan.

Ia antara lain bertugas sebagai wartawan Telegraph di Brussels.

Dari Telegraph ia menjadi pemimpin redaksi majalah politik Spectator pada 1999, media yang berhaluan kanan.

Dua tahun kemudian ia masuk ke politik dengan memenangkan kursi parlemen untuk daerah Henley, di Oxfordshire. Ini adalah daerah pemilihan yang dikenal sebagai kantong Partai Konservatif.

Pada periode ini, ia menikahi Marina Wheeler, pengacara sukses dan kawan kecilnya saat bersekolah di Brussels.

Dari perkawinan dengan Wheeler, lahir anak-anaknya, Lara Lettice, Milo Arthur, Cassia Peaches dan Theodore Apollo.

Di bawah kepemimpinan Michael Howard, Johnson menjadi menteri bayangan di Partai Konservatif, namun dipecat setelah berbohong soal klaim perselingkuhan yang ia lakukan.

Tetapi, satu tahun kemudian ia kembali masuk ke kabinet bayangan saat Partai Konservatif dipimpin oleh nakhoda baru, David Cameron.

Keduanya sama-sama mengenyam pendidikan di Eton dan Universitas Oxford. Cameron lebih muda dan Johnson menggambarkan fakta bahwa Cameron lebih muda darinya sebagai "trauma pribadi".

Pada 2007 Johnson mencalonkan diri sebagai wali kota London dari Partai Konservatif.

Di luar dugaan, ia menang dengan meraup lebih dari satu juta suara dan terpilih kembali empat tahun kemudian.

Sebagai wali kota, ia memperkenalkan skema persewaan sepeda, skema yang sangat populer dan lebih dikenal dengan sebutan "sepeda Boris".

Ia juga sukses mengantarkan London sebagai tuan rumah Olimpiade 2012.

Dari wali kota, ia melanjutkan karier sebagai anggota parlemen dari daerah pemilihan Uxbridge dan Ruislip Selatan.

Namanya meredup, namun referendum Uni Eropa membuat namanya masuk ke halaman depan koran-koran di Inggris.

Ia memimpin kampanye agar Inggris keluar dari Uni Eropa -- Brexit -- yang ternyata menang di referendum.

Kepiawaian Johson berkampanye berperan besar memenangkan kubu Brexit, meski ia dikecam atas klaim palsu bahwa Inggris mengirim dana US$440 juta per pekan ke Uni Eropa. Klaim ini dikecam karena ada dana-dana dan tunjangan yang juga dinikmati Inggris sebagai anggota Uni Eropa.

Klaim kiriman dana ke Uni Eropa ini dinilai sangat menyesatkan.

Brexit menjadi pukulan hebat bagi Cameron yang mengkampanyekan Inggris tetap menjadi anggota Uni Eropa. Ia pun mundur dan Partai Konservatif memerlukan pemimpin baru.

Johnson berupaya menjadi pemimpin partai namun kalah. Banyak pengamat yang menilai karier politik Johnson telah tamat.

Tetapi pemimpin baru, Theresa May, ternyata mengangkatnya sebagai menteri luar negeri.

Penunjukan yang dianggap kontroversial karena di masa lalu Johnson pernah mengeluarkan pernyataan yang menghina atau merendahkan pejabat negara lain atau negara-negara anggota Persemakmuran.

Pada 2018, ia mundur sebagai menteri, namun tetap menjadi anggota parlemen, untuk memprotes kebijakan Theresa May soal kesepakatan Brexit.

Instabilitas kembali melanda Partai Konservatif yang memaksa May mundur sebagai ketua partai dan sebagai perdana menteri.

Lagi-lagi, partai membutuhkan bos baru dan kali ini Johson sukses menjadi ketua partai, posisi yang mengantarkannya sebagai perdana menteri Inggris.

Pandemi Covid-19

Seperti halnya negara-negara lain, Inggris didera pandemi Covid-19 pada awal 2020.

Pemerintah sepertinya kurang persiapan, ditandai dengan minimnya pakaian pelindung untuk para tenaga kesehatan.

Wabah serius juga terjadi di berbagai panti jompo.

Pada April 2020, Johnson terkena Covid dan dilarikan ke rumah sakit.

Dalam kehidupan pribadinya, tunangannya, Carrie Symonds melahirkan dan sang bayi diberi nama Wilfred. Keduanya menikah pada akhir Mei 2020.

Dua puluh bulan kemudian, Inggris dilanda gelombang baru Covid, lebih parah jika dibandingkan dengan negara-negara maju lain.

Namun pemerintah dipuji atas program vaksinasi, sesuatu yang sering dibanggakan oleh Johnson sendiri dan para menteri.

Namun, salah seorang mantan penasihatnya menilai kebijakan pemerintah menangani pandemi "sangat buruk" yang berujung dengan ribuan kematian yang "sebenarnya bisa dicegah" andai saja pemerintah tidak terlambat menerapkan lockdown.

Penasihat ini, Dominic Cummings, juga mengatakan Johnson "mengabaikan masukan ilmiah".

Bagi Cummings, Johnson "tak layak menjadi perdana menteri".

Pada November 2021, Johnson digoyang oleh laporan surat kabar yang mendapatkan video "orang-orang bebas berkumpul" di kantor pemerintah dan sekaligus kediaman resmi perdana menteri di Downing Street, ketika ada larangan kumpul-kumpul untuk menekan penyebaran virus corona.

Setelah itu, muncul laporan soal pesta-pesta di kantor pemerintah ketika seluruh negeri tengah di-lockdown.

Salah satunya di halaman Downing Street. Johnson beralasan ini adalah "acara kantor".

Juga ada pesta semalam menjelang pemakaman suami Ratu Elizabeth, Pangeran Philip.

Ia kemudian meminta maaf kepada ratu atas tindakan stafnya ini. 

Pejabat senior pemerintah, Sue Gray, diberi mandat untuk menginvestigasi pesta-pesta di kantor pemerintah. Ia menemukan ada kurang lebih 16 pesta di Downing Street sejak 2020.

Gray berpendapat tak semestinya pesta-pesta ini diselenggarakan.

Ia menambahkan pesta-pesta ini menandakan "kegagalan kepemimpinan di pemerintah".

Banyak konstituen, dan juga publik marah dengan adanya pesta-pesta ini ketika rakyat harus mematuhi berbagai aturan lockdown, termasuk membatasi diri tidak bertemu keluarga atau menghadiri pemakaman.

Polisi juga menyelidiki pesta-pesta ini dan mengeluarkan denda atas pelanggaran lockdown di Downing Street dan kantor pemerintah lain di Whitehall.

Secara keseluruhan ada 126 denda yang dikeluarkan polisi terhadap 83 orang atas pesta-pesta saat lockdown.

Perdana menteri Johnson dan istrinya termasuk yang harus membayar denda.

Laporan lengkap Gray bocor ke media dan menyebut Johnson minum-minum dengan para staf saat lockdown pandemi.

Kemarahan publik pun meluas yang mendorong diadakannya mosi tidak percaya. Johnson lolos tapi kemudian muncul kasus lain.

Kali ini terkait dengan anggota parlemen Chris Pincher yang diangkat menjadi pejabat di parlemen padahal ia menghadapi dugaan serangan seksual.

Pada 6 Juli, Johnson meminta maaf telah mengangkat Pincher. Ia juga mengaku mengetahui kasus yang menimpa Pincher setelah sebelumnya mengaku tidak tahu.

Skandal terbaru ini memicu gelombang pengunduran diri menteri dan pejabat pemerintah, termasuk Menteri Keuangan Rishi Sunak dan Menteri Kesehatan Sajid Javid.

Tak lama setelahnya, anggota parlemen dan pejabat pemerintah beramai-ramai mendesak Johnson meletakkan jabatan.

Dan pada Kamis (07/07), Johnson pun menyatakan mundur.

Namun, ada adagium di panggung politik: jangan pernah mengatakan tidak mungkin.

Jadi, mungkin saja Johnson suatu saat nanti akan kembali menjadi aktor utama di panggung politik Inggris. (*)

Tags : Perdana Menteri Inggris Boris Johnson, Umumkan Pengunduran Diri, Terlibat Skandal Pelecehan Seks, Politik, Inggris raya,