Nusantara   2026/07/29 10:11 WIB

BPJN Ubah Desain Jalan Nasional Lembah Anai Jalurnya Jadi Dua Arah yang Tahan Bencana

BPJN Ubah Desain Jalan Nasional Lembah Anai Jalurnya Jadi Dua Arah yang Tahan Bencana

PADANG PANJANG – Jalan Nasional Lembah Anai di Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat, kembali dibuka untuk seluruh jenis kendaraan setelah proses rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana galodo rampung 100 persen.

Pembukaan kembali jalur strategis yang menghubungkan Padang dan Bukittinggi tersebut menandai berakhirnya proses pemulihan infrastruktur.

Namun, pemerintah juga menaruh perhatian besar pada upaya meningkatkan ketahanan jalan terhadap potensi bencana di masa mendatang.

Langkah tersebut dilakukan setelah kawasan Lembah Anai dua kali mengalami kerusakan akibat bencana dalam kurun tiga tahun terakhir.

Pada 2024, jalur ini terdampak bencana yang berkaitan dengan erupsi Gunung Marapi.

Setelah diperbaiki dan kembali difungsikan, kawasan yang sama kembali diterjang banjir bandang (galodo) akibat curah hujan ekstrem pada akhir 2025.

Pengalaman tersebut menjadi dasar evaluasi pemerintah dalam menyusun konsep rehabilitasi terbaru.

Selain memperbaiki badan jalan yang rusak, Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat juga melakukan sejumlah perubahan desain teknis, termasuk mendorong kajian pengendalian aliran material dari kawasan hulu.

Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (PJN) Wilayah I BPJN Sumbar, Andi Rusli, mengatakan karakter bencana yang terjadi pada 2024 dan 2025 berbeda sehingga membutuhkan pendekatan penanganan yang lebih komprehensif.

"Akibat bencana alam 2024 dan 2025, kita belajar. Kejadiannya bukan dari satu sumber," kata Andi, Selasa (28/7).

Salah satu perubahan utama dalam proyek rekonstruksi ialah peningkatan spesifikasi fondasi melalui pembesaran diameter bore pile di sejumlah titik rawan.

Bore pile digunakan sebagai fondasi penyangga struktur jalan, terutama pada kawasan yang berpotensi mengalami gerusan akibat aliran sungai.

Menurut Andi, perubahan desain dilakukan setelah pemerintah mengevaluasi dampak bencana sebelumnya serta mempertimbangkan masukan dari para ahli.

Di kawasan Kilometer 65, dekat pendakian Silaing, diameter bore pile diperbesar dari 80 sentimeter menjadi 1,2 meter.

"Diameter bore pile kita perbesar menjadi 1,2 meter, sebelumnya 80 sentimeter," ujarnya.

Penyesuaian tersebut dilakukan karena terdapat perbedaan elevasi yang cukup signifikan antara dasar Sungai Batang Anai dan badan jalan, sehingga diperlukan fondasi yang lebih kuat.

Meski demikian, pembesaran diameter bore pile tidak diterapkan di seluruh lokasi. Spesifikasi fondasi disesuaikan dengan kondisi geologi dan kebutuhan teknis di masing-masing titik.

Secara keseluruhan, proyek rehabilitasi mencakup pemasangan sekitar 900 bore pile, penanganan 20 titik kerusakan, serta pekerjaan sepanjang kurang lebih 6 kilometer.

Andi optimistis struktur yang telah dibangun mampu menghadapi tekanan aliran Sungai Batang Anai berdasarkan hasil perhitungan teknis.

"Secara hitungan teknis, tahan. Kita berharap mudah-mudahan bencananya tidak terulang," katanya.

BPJN Sumbar menegaskan bahwa rekonstruksi kali ini tidak hanya berorientasi pada pemulihan akses transportasi, tetapi juga memperkuat aspek mitigasi bencana.

Dengan karakter geografis Lembah Anai yang berada di sepanjang aliran Sungai Batang Anai dan kawasan perbukitan, pemerintah berupaya menghadirkan infrastruktur yang lebih adaptif terhadap ancaman hidrometeorologi maupun bencana alam lainnya.

Sebelumnya, lokasi jalan ini sempat lumpuh total akibat longsor yang terjadi pada Rabu 24 Juni 2026 siang, jalur utama Padang-Bukittinggi di kawasan Lembah Anai akhirnya kembali dibuka normal pada Kamis 25 Juni 2026 pagi.

Arus lalu lintas kini telah dapat dilalui dari kedua arah setelah proses pembersihan material longsor selesai dilakukan.

Longsor yang terjadi di sekitar kilometer 66, dekat lokasi pengerjaan jalan di wilayah tersebut, sempat memutus akses transportasi dan mengakibatkan antrean kendaraan dari kedua arah.

Petugas gabungan bekerja sepanjang malam untuk menyingkirkan material longsor yang menutupi badan jalan.

Kasat Lantas Polres Padang Panjang, AKP Pifzen Finot mengatakan, pembersihan jalan berhasil diselesaikan pada Kamis dini hari. Setelah itu, arus lalu lintas sempat diberlakukan sistem buka tutup sebelum akhirnya dibuka sepenuhnya.

"Kami laporkan, tepatnya di kilometer 66, dekat lokasi pengerjaan di wilayah terjadi longsor kemarin, arus lalu lintas sudah dibuka kembali dari kedua arah," jelas Finot kepada wartawan.

Pembukaan jalur tersebut disambut lega oleh para pengguna jalan yang sebelumnya harus menunggu atau mencari jalur alternatif.

Meski demikian, pihak kepolisian mengingatkan bahwa kawasan Lembah Anai masih memiliki potensi bencana, terutama saat kondisi cuaca kurang bersahabat.

"Kami berharap, pengendara tetap berhati-hati dan mengutamakan keselamatan," katanya.

Sebelumnya, jalur Padang-Bukittinggi putus total setelah longsor terjadi di dekat kawasan jembatan kembar Kabupaten Tanah Datar pada Rabu 24 Juni 2026 siang.

Pengguna jalan saat itu diminta mencari tempat yang aman dan menghindari melintasi jalur tersebut hingga proses evakuasi dan pembersihan selesai.

Kasat Lantas Polres Padang Panjang, AKP Pifzen Finot menyebutkan, longsor terjadi sekitar pukul 13.38 WIB. Peristiwa tersebut sempat menghambat mobilitas masyarakat dan kendaraan logistik yang melintasi jalur utama penghubung Kota Padang dan Bukittinggi.

Kini, dengan dibukanya kembali jalur Lembah Anai, aktivitas transportasi di jalur vital Sumatera Barat tersebut berangsur normal. Namun, pengguna jalan tetap diminta meningkatkan kewaspadaan mengingat kawasan tersebut masih rawan longsor, terutama saat hujan dengan intensitas tinggi. (*)

Tags : Balai Pelaksanaan Jalan Nasional, BPJN, Desain Jalan Nasional, Lembah Anai, Jalur Lembah Anai Jadi Dua Arah, Jalan Lembah Anai Tahan Bencana,