Headline Seni Budaya   2026/10/01 15:19 WIB

Buku Anak Indonesia dengan Konten Islami Diminati di Pameran Buku London

Buku Anak Indonesia dengan Konten Islami Diminati di Pameran Buku London
Stan Indonesia di ajang pameran London Book Fair 2018 dengan dominasi warna hitam 'yang terlihat menonjol' di antara stan negara-negara lain.

SENI BUDAYA - Buku anak Islam dengan konten pembentukan karakter dan nilai-nilai universal diminati sejumlah negara di ajang pameran buku London Book Fair (LBF) 2018.

Negara-negara yang membeli atau tertarik membeli hak cipta buku ini antara lain adalah Prancis, Inggris, dan Turki.

Buku anak ini merupakan yang terbanyak dari 14 judul buku Indonesia yang hak ciptanya terjual di LBF 2018, kata Laura Bangun Prinsloo, Ketua Harian Komite Pelaksana Indonesia di London Book Fair.

"Untuk buku anak dengan konten Islami, Indonesia punya daya saing yang kuat," kata Laura, Selasa (17/04). 

Kekuatan buku anak Indonesia, kata Laura, antara lain ada pada kualitas ilustrasi, penulisan cerita maupun tema yang diangkat.

"Selain buku anak Islami, yang juga diminati adalah buku-buku sastra Indonesia dan buku fiksi untuk remaja," kata Laura.

Cina tercatat sebagai negara dengan pembelian hak cipta terbanyak, yaitu 10 judul, disusul Prancis dengan dua judul dan Inggris serta Amerika Serikat yang masing-masing membeli satu judul.

Di luar hak cipta 14 judul buku yang sudah pasti terjual, tercatat ada 134 judul yang juga diminati sejumlah negara.

Peminat terbesar adalah Inggris dengan 63 judul dan satu seri.

Negara-negara lain yang juga berminat di antaranya adalah Norwegia, Italia, Korea Selatan, Pakistan, dan Turki.

Laura menjelaskan sejumlah negara ini sudah meminta file buku dalam bentuk PDF untuk dipelajari.

"Ini memang memerlukan waktu. Mereka perlu waktu untuk mempelajari konten buku dan setelah itu mereka akan membahas harga jual, berapa jumlah buku yang akan dicetak, dan juga biaya promosi," katanya.

Prosesnya memakan waktu antara tiga bulan hingga satu tahun dengan tingkat konversi sekitar 30% berdasarkan pengalaman dalam empat tahun terakhir.

Dengan tingkat seperti itu, jika misalnya ada 100 judul buku yang diminati, yang benar-benar akan dibeli hak ciptanya sekitar 30 judul buku.

Laura mengatakan penjualan hak cipta buku Indonesia di LBF tahun ini meningkat pesat jika dibandingkan tahun 2017.

"(Tahun lalu) dua judul terjual pada saat pameran, diikuti 19 judul setelah pameran, dan yang diminati pada saat pameran adalah 37 judul," kata Laura. 

"Tahun depan, kami berencana untuk membawa 30 penerbit dan agen hak cipta untuk ikut dalam pameran buku dengan target 50 judul hak cipta terjemahan terjual," ujarnya.

Di ajang Pameran Buku London 2018, Indonesia membawa 300 judul buku.

Untuk pameran tahun depan Indonesia akan menjadi market focus country. 

Dalam tataran praktis, dengan menjadi market focus country, LBF, lembaga British Council, dan asosiasi penerbit Inggris akan membantu Indonesia mencapai sasaran-sasaran yang telah ditetapkan, kata Laura.

Nantinya akan ada kegiatan-kegiatan khusus, baik yang bersifat profesional maupun kultural, untuk mempromosikan buku dan penulis Indonesia yang mendapatkan dukungan sepenuhnya dari LBF, British Council dan juga asosiasi penerbit buku di Inggris.

Bersama dengan pihak British Council, disiapkan beberapa program, di antaranya residensi penulis Indonesia ke Inggris, kunjungan para penulis dan media Inggris ke Indonesia, dan mendatangkan enam penerbit dari Inggris ke Jakarta dan Makassar pada awal Mei nanti.

Untuk pameran tahun depan, program yang sudah dipastikan di antaranya seminar di Oxford University, kerja sama kegiatan sastra dan budaya dengan komunitas Islam di Birmingham, pemutaran film-film Indonesia di London Books and Screen Week, dan kerja sama antara ilustrator Indonesia dan penulis Inggris.

Tahun 2015, Stan Indonesia juga hadir di Pameran Buku London. Stan Indonesia untuk pertama kalinya hadir di ajang Pameran Buku London 2015, yang dibuka hari Selasa (14/04) di gedung pameran Olympia.

Dengan didukung Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, lebih dari 15 penerbit Indonesia hadir dalam pameran selama tiga hari ini.

Tak kurang dari 200 judul buku dipamerkan di sana.

"Penting bagi kami untuk berpartisipasi di Pameran Buku London. Pameran ini merupakan yang terbesar kedua di dunia. Kami ingin menampilkan kekayaan literatur Indonesia," ungkap Lucya Andam Dewi, ketua Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI).

Menurut Lucya, jenis buku yang populer yang dibawa ke London adalah novel, buku anak-anak dan komik.

Selama tiga hari pameran buku ini, berbagai kegiatan akan ditampilkan, termasuk diskusi buku "Lelaki Harimau" karya Eka Kurniawan yang baru diterjemahkan dan diterbitkan dalam bahasa Inggris dengan judul "Man Tiger".

Selain itu, ada juga peluncuran buku "Sophis TEAcation - An Anthology of Porcelain Teacups Collecting", acara bincang-bincang tentang "buku digital/animasi" dan "Kisah perjalanan Indonesia - Ketika orang Indonesia melihat dunia lewat mata mereka".

Aldian Elkana, salah satu anggota delegasi Indonesia yang juga ketua Asosiasi Animasi Indonesia (AINAKI) ia mengatakan pemerintah Indonesia membantu industri buku Indonesia untuk 'bermigrasi dari kertas ke digital'. 

"Akan lebih banyak buku teks di Indonesia yang akan pindah ke tablet digital. Kini, generasi yang lebih muda tidak lagi membaca surat kabar," katanya.

Sebelum hadir di London, Indonesia juga terpilih sebagai Tamu Kehormatan pada Pameran Buku Frankfurt 2015, yang merupakan pameran buku terbesar di dunia.

Tags : buku anak indonesia, konten islami, buku anak indonesia diminati, pameran buku di london,