Sosial   2026/10/07 15:16 WIB

Cara Perhimpunan Kedokteran Haji Indonesia Melindungi Kesehatan Jamaah Haji

Cara Perhimpunan Kedokteran Haji Indonesia Melindungi Kesehatan Jamaah Haji

JAKARTA — Perhimpunan Kedokteran Haji Indonesia (Perdokhi) akan membahas sejumlah persoalan kesehatan jamaah haji dalam Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) Perdokhi 2026.

Materi yang diangkat mencakup penguatan istithaah kesehatan, pengelolaan penyakit kronis, kesehatan jiwa lansia, hingga penilaian kelaikan terbang.

Ketua Umum Perdokhi, dr. Syarief Hasan Lutfie mengatakan, berbagai materi tersebut disiapkan untuk memperkuat pelayanan kesehatan jamaah haji secara menyeluruh.

Pembahasan tidak hanya berfokus pada kondisi jamaah sebelum keberangkatan, tetapi juga selama menjalankan ibadah hingga setelah kembali ke Tanah Air.

"Pembahasannya mencakup arah kebijakan kesehatan haji tahun 2027 serta dua kelompok materi utama," ujar Syarief, Selasa (6/10).

Kelompok materi pertama berkaitan dengan penguatan istithaah kesehatan jamaah.

Dalam sesi ini, Perdokhi akan membahas penilaian kemampuan fungsional dan disabilitas menggunakan pendekatan International Classification of Functioning, Disability and Health (ICF-WHO).

Selain itu, materi yang dibahas mencakup kesiapan fisik jamaah dalam menjalankan ibadah haji serta penanganan kegawatdaruratan medis selama pelaksanaan ibadah.

Pendekatan tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran lebih komprehensif mengenai kemampuan jamaah dalam menjalani rangkaian ibadah haji.

Kelompok materi kedua membahas pengelolaan penyakit kronis pada jamaah haji.

Sejumlah penyakit menjadi perhatian, antara lain penyakit jantung, paru, dan diabetes.

Perdokhi juga memberikan perhatian khusus terhadap kesehatan jiwa jamaah haji lanjut usia, termasuk upaya deteksi dini dan pencegahan disorientasi.

Dalam agenda PIT 2026, materi pengelolaan penyakit kronis akan mencakup strategi terpadu sejak pencegahan hingga penatalaksanaan penyakit.

Materi tersebut antara lain cardiovascular care for Hajj pilgrims, pengelolaan penyakit paru, diabetes, serta gangguan psikiatri pada jamaah haji lansia.

Syarief mengatakan, pembahasan dalam pertemuan ilmiah tersebut juga diperluas pada aspek kelaikan terbang jamaah.

Perdokhi akan membahas pengembangan model penilaian laik terbang jamaah haji dengan skema tanazul bagi tenaga medis haji Indonesia di Arab Saudi. 

"Di dalam pertemuan ini juga membahas penilaian kelaikan terbang, peningkatan manajemen layanan kesehatan umrah dan pengembangan Kampung Haji Indonesia yang sehat melalui kerja sama lintas sektor," kata dia. 

Menurut Syarief, pengembangan Kampung Haji Indonesia menjadi salah satu upaya membangun ekosistem kesehatan yang melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

Konsep tersebut mencakup pemetaan sistem partisipatif, peningkatan kapasitas, serta aksi konkret lintas sektor.  

Ia menjelaskan, berbagai materi dalam PIT Perdokhi 2026 juga akan dikaitkan dengan pengembangan penelitian.

Hasil penelitian maupun usulan penelitian yang digalakkan Perdokhi nantinya diharapkan dapat menjadi rekomendasi bagi para pemangku kepentingan dalam meningkatkan pelayanan kesehatan haji. 

"Ini dituangkan dalam laporan usulan penelitian maupun hasil penelitian yang Perdokhi sedang galakkan yang nanti akan dijadikan rekomendasi kepada stakeholder," jelas Syarief. 

PIT Perdokhi 2026 mengusung tema "Transformasi Kedokteran Haji: Transformasi Pelayanan Kesehatan Haji Indonesia Menuju Haji yang Aman, Sehat dan Berkelanjutan Pasca Musim Haji 2026."

Kegiatan tersebut dijadwalkan berlangsung secara hybrid pada Sabtu, 10 Oktober 2026, di Gedung Serba Guna 3 Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur.  

Syarief berharap pembahasan tersebut dapat mendorong pelayanan kesehatan haji yang terintegrasi sejak masa persiapan, sebelum keberangkatan, selama pelaksanaan ibadah, hingga setelah jamaah kembali ke Indonesia.

"Kami harapkan pada tahun 2027 ini istilah haji betul-betul dilakukan secara profesional dan kompeten oleh dokter-dokter yang bertanggung jawab untuk bisa memberikan hasil yang maksimal,” kata dia. 

Ia menegaskan, sasaran akhirnya bukan hanya memastikan jamaah memenuhi kriteria fit to hajj dan fit to fly.

Jamaah diharapkan dapat berangkat dalam kondisi sehat, terlindungi selama menjalankan ibadah, dan kembali ke Tanah Air dalam kondisi sehat.

"Jadi mereka bukan hanya fit to hajj, fit to fly, tapi juga menjadi jamaah yang sehat, berkualitas berangkat dan pulang dalam kondisi sehat," ujar Syarief. (*)

Tags : perdokhi, jamaah haji, kesehatan jamaah haji, haji dan jamaah, dokter haji ,