PEKANBARU - Berdasarkan data Dinas Kesehatan Provinsi Riau, tercatat sebanyak 35.910 kasus ISPA di 12 kabupaten/kota di Riau.
"Kasus ISPA terus melejit dan semakin parah."
"Ini warning. Dinas kesehatan harus aktif bergerak memperkuat perlindungan kesehatan masyarakat. Fasilitas pelayanan kesehatan juga harus diperkuat. Jangan sampai ada korban jiwa," kataAnggota Komisi III DPRD Pekanbaru, Lindawati, Jumat (23/10).
Kota Pekanbaru menjadi daerah dengan jumlah kasus tertinggi, yakni mencapai 10.020 kasus. Disusul Kabupaten Kampar dengan 4.830 kasus dan Kabupaten Bengkalis sebanyak 4.382 kasus.
Menyikapi kondisi tingginya angka ISPA tersebut, Anggota Komisi III DPRD Pekanbaru, Lindawati, meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Pekanbaru memperkuat perlindungan dan pelayanan kesehatan masyarakat menyusul tingginya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) di tengah kondisi udara buruk akibat kabut asap.
Lindawati menilai tingginya angka tersebut harus menjadi peringatan bagi Pemko Pekanbaru untuk segera mengambil langkah konkret.
Ia meminta Dinkes aktif memantau kondisi kesehatan masyarakat dan memastikan fasilitas pelayanan kesehatan (faskes) siap menangani warga yang terdampak.
Ia juga meminta Pemko Pekanbaru memastikan bantuan dan pelayanan kesehatan tetap tersedia selama masa penanganan hingga pemulihan.
Terlebih, masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan, seperti sesak napas, membutuhkan penanganan cepat di tengah kondisi udara yang buruk.
"Penguatan ini diperlukan agar masyarakat yang mengalami gangguan kesehatan, seperti sesak napas dan lainnya, tetap mendapatkan penanganan di tengah kondisi udara buruk yang masih melanda Pekanbaru," ujarnya.
Lindawati juga turut menyoroti perlindungan bagi anak-anak dan kelompok rentan.
Menurutnya, mereka harus mendapat perhatian khusus karena lebih berisiko mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap.
Ia meminta Pemko memastikan anak-anak tetap memperoleh layanan kesehatan yang memadai, termasuk bagi siswa yang masih mengikuti pembelajaran tatap muka.
"Anak-anak dan kelompok rentan harus menjadi prioritas. Apalagi, anak-anak yang masih bersekolah tatap muka harus menjadi perhatian. Pemberian vitamin dan upaya menjaga kesehatan mereka juga perlu diperhatikan," tegasnya.
Selain itu, Komisi III DPRD Pekanbaru mendorong penyediaan peralatan medis yang memadai di fasilitas kesehatan.
Dinkes juga diminta melakukan pelayanan jemput bola ke permukiman warga agar masyarakat terdampak dapat segera memperoleh pemeriksaan dan penanganan.
"Jangan sampai ada korban jiwa gara-gara ISPA. Pastikan layanan kesehatan bagi masyarakat terdampak berjalan maksimal dan tidak ada hambatan," tutup Lindawati.
Sementara Diskes Riau mencatat 27.250 kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) tersebar di 12 kabupaten/kota hingga Kamis 8 Oktober 2026.
Angka tersebut menunjukkan persoalan polusi udara tidak lagi sebatas gangguan jarak pandang atau keluhan pernapasan ringan, tetapi telah berimbas langsung terhadap beban pelayanan kesehatan masyarakat.
Kota Pekanbaru menjadi wilayah dengan jumlah kasus ISPA tertinggi, yakni 7.434 kasus. Posisi berikutnya ditempati Kampar dengan 3.629 kasus dan Bengkalis sebanyak 2.964 kasus.
Kadiskes Riau, Zulkifli mengatakan, kasus ISPA juga tercatat cukup tinggi di sejumlah daerah lainnya.
“Untuk Dumai tercatat 2.887 kasus, Siak 2.806 kasus, Pelalawan 2.555 kasus, Kuansing 1.297 kasus, Inhu 1.235 kasus dan Kepulauan Meranti 1.188 kasus,” kata Zulkifli.
Sementara itu, Rohul mencatat 908 kasus, Rohil 205 kasus dan Inhil 79 kasus.
Jika dibandingkan antarwilayah, konsentrasi kasus tertinggi berada di daerah dengan aktivitas penduduk dan paparan polusi yang relatif besar.
Kondisi ini menjadi sinyal bahwa penanganan dampak kualitas udara tidak cukup hanya dilakukan ketika kabut asap memburuk, tetapi membutuhkan pengawasan kesehatan yang konsisten.
Meski jumlah penderita telah mencapai puluhan ribu, Zulkifli menyatakan, fasilitas pelayanan kesehatan di daerah terdampak masih mampu memberikan pelayanan kepada masyarakat.
Namun, pemerintah daerah tetap menyiapkan sejumlah langkah antisipasi untuk menghadapi kemungkinan peningkatan pasien apabila kualitas udara kembali memburuk.
Diskes Riau memperluas pembagian masker dan edukasi kepada masyarakat. Pemerintah daerah juga menyiapkan dukungan makanan tambahan bagi ibu hamil dan balita yang terdampak.
Selain itu, oksigen konsentrator disiagakan di sejumlah Puskesmas. Tim Medis Darurat atau Emergency Medical Team juga telah diaktifkan untuk mengantisipasi lonjakan pasien secara tiba-tiba.
“Pemerintah daerah juga menyalurkan makanan tambahan bagi ibu hamil serta balita terdampak, sembari menyiagakan oksigen konsentrator di Puskesmas," ujarnya.
"Tim Medis Darurat di setiap Puskesmas telah diaktifkan penuh untuk mengantisipasi gejolak lonjakan pasien secara mendadak,” tambahnya.
Diskes Riau juga mendirikan posko darurat yang dilengkapi rumah oksigen dan tempat tidur medis untuk menangani pasien dalam kondisi kritis.
Pelibatan akademisi perguruan tinggi dan organisasi profesi kesehatan turut dilakukan, termasuk dalam distribusi masker kepada masyarakat, khususnya pengguna jalan yang memiliki paparan langsung terhadap udara luar.
Diskes Riau mengingatkan masyarakat agar tidak menganggap remeh gejala gangguan kesehatan yang muncul selama kualitas udara memburuk.
Masyarakat yang mengalami gejala gangguan pernapasan diminta segera melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan terdekat.
Langkah tersebut penting agar kondisi tidak berkembang menjadi gangguan kesehatan yang lebih serius.
“Kita juga mendorong peningkatan peran serta masyarakat dalam menanggulangi dampak kesehatan yang diakibatkan polusi udara melalui penerapan protokol kesehatan, khususnya terhadap populasi rentan seperti anak, ibu hamil, orang dengan komorbid atau penyakit penyerta, dan lanjut usia,” katanya.
Menurut Zulkifli, perlindungan diri juga perlu diperkuat dengan menggunakan masker yang memiliki kemampuan menyaring partikel polusi udara.
Yang tak kalah penting, tenaga kesehatan diminta memperketat pemantauan penyakit yang berpotensi berkaitan dengan paparan asap dan polusi udara.
“Tenaga kesehatan kita di faskes kita minta untuk segera melaporkan dan memantau kasus kejadian penyakit yang diakibatkan oleh asap seperti ISPA, iritasi mata, pneumonia, iritasi kulit dan asma ke Diskes Kabupaten Kota,” tukasnya. (*)
Tags : Infeksi Saluran Pernapasan Akut, ISPA, ISPA Meningkat, Pekanbaru, Kasus ISPA Melejit, Kasus ISPA Semakin Parah,