Artikel   2026/01/17 13:32 WIB

Dua Alasan Utama Mengapa Al Azhar Kairo Jadi Magnet Utama Bagi Pelajar Indonesia

Dua Alasan Utama Mengapa Al Azhar Kairo Jadi Magnet Utama Bagi Pelajar Indonesia

UNIVERSITAS AL AZHAR di Kairo, Mesir, hingga kini tetap menjadi magnet utama bagi pelajar Indonesia yang ingin menempuh pendidikan Islam tingkat dunia.

Fenomena ini tidak lepas dari sejumlah keunggulan strategis yang belum sepenuhnya dimiliki perguruan tinggi Islam di dalam negeri.

Sekretaris Jenderal Kementerian Agama (Kemenag), Kamaruddin Amin, mengungkapkan setidaknya ada dua alasan utama mengapa ribuan mahasiswa Indonesia setiap tahun memilih kuliah di Universitas Al Azhar.

Alasan pertama, Universitas Al Azhar menyediakan pendidikan tanpa biaya kuliah bagi mahasiswa asing, disertai berbagai skema beasiswa yang menopang kebutuhan dasar mahasiswa selama studi.

Kedua, dukungan biaya hidup yang relatif rendah. Dibandingkan negara tujuan studi lainnya, Mesir menawarkan biaya hidup yang lebih murah, sehingga mahasiswa dari keluarga menengah ke bawah tetap memiliki akses menempuh pendidikan tinggi Islam berkualitas dunia.

“Kenapa banyak orang Indonesia kuliah di Universitas Al Azhar, karena di sana kuliahnya gratis dengan beasiswa dan biaya hidup murah,” ujar Kamaruddin dalam siaran pers, Sabtu (17/1). 

Hal ini disampaikan Kamaruddin saat memberikan arahan dalam Koordinasi Program Kartu Indonesia Pintar Kuliah (KIP-K) PTKN se-Indonesia, 13–15 Januari 2026 di Jakarta.

Pengalaman Al Azhar ini seharusnya menjadi pelajaran penting bagi Indonesia. Mereka mampu menyediakan pendidikan tanpa biaya kuliah bagi mahasiswa asing.

Dengan jumlah penduduk Muslim terbesar di dunia dan ratusan PTKN, Indonesia memiliki modal kuat untuk menjadi destinasi pendidikan Islam global, asalkan didukung kebijakan yang tepat.

Salah satu langkah strategis yang didorong Kemenag adalah mendorong PTKN mengalokasikan beasiswa bagi mahasiswa asing.

Skema ini dinilai mampu meningkatkan daya saing internasional kampus sekaligus memperluas pengaruh keilmuan Islam Indonesia di kancah global.

Selain internasionalisasi kampus, Kamaruddin juga menekankan peran sosial PTKN bagi masyarakat sekitar. Ia menilai perguruan tinggi keagamaan harus hadir menjawab persoalan ketimpangan sosial di lingkungannya.

“Mungkin di sekitar kampus banyak keluarga yang kurang mampu, maka PTKN harus hadir memikirkan mereka, salah satunya dengan beasiswa,” ucap Alumnus S3 Bon University Jerman ini.

Dia menambahkan, perguruan tinggi juga perlu memperluas sumber pendanaan di luar APBN dan uang kuliah tunggal (UKT), seperti kerja sama riset dengan industri, dukungan alumni, serta pengembangan dana abadi pendidikan.

Wakaf, menurutnya, merupakan potensi besar yang dapat dikembangkan oleh perguruan tinggi keagamaan Islam. 

Sementara itu, Kepala Pusat Pembiayaan Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan (Puspenma) Setjen Kemenag, Ruchman Basori, menegaskan pentingnya tata kelola beasiswa yang profesional dan akuntabel, mengingat nilai anggaran KIP Kuliah mencapai Rp1,6 triliun.

"Para Direktur Pendidikan pada Ditjen Bimas Kristen, Katolik, Hindu dan Buddha bersama Wakil Rektor/Wakil Ketua III harus berkolaborasi menangani misi mulia memberikan kesempatan studi kepada mahasiswa dari keluarga yang kurang mampu,”kata Ruchman

Pada tahun anggaran 2025, Puspenma menyalurkan KIP Kuliah sebesar Rp 39,67 miliar kepada 6.012 mahasiswa.

Selain itu, Beasiswa Indonesia Bangkit diberikan kepada 1.029 penerima, dengan dukungan anggaran riset mencapai Rp50 miliar.

Koordinasi KIP-K, menurut Ruchman, menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi lintas direktorat pendidikan lintas agama dalam misi memperluas akses pendidikan tinggi bagi mahasiswa dari keluarga kurang mampu. (rilis)

Tags : al azhar kairo, universitas al azhar kairo, alasan universitas al azhar biaya murah, universitas al azhar, biaya pendidikan universitas al azhar,