News   2026/08/21 10:12 WIB

Enam Helikopter Siaga untuk Dinginkan dan Tekan Karhutla

Enam Helikopter Siaga untuk Dinginkan dan Tekan Karhutla

PEKANBARU Upaya menekan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau terus dilakukan melalui rekayasa cuaca.

Memasuki hari ke-21 pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), sedikitnya 26.000 kilogram natrium klorida (NaCl) atau garam telah disemai ke atmosfer menggunakan pesawat Cessna.

Penyemaian awan tersebut ditujukan untuk memicu pertumbuhan awan hujan sekaligus meningkatkan peluang turunnya hujan di wilayah yang mengalami kekeringan.

Sejumlah daerah di Riau dilaporkan telah mendapatkan guyuran hujan setelah pelaksanaan OMC.

Kalaksa BPBD dan Damkar Riau, Edy Afrizal melalui Kabid Kedaruratan, Jim Gafur mengatakan, operasi modifikasi cuaca masih menjadi salah satu strategi untuk mengurangi risiko karhutla, terutama di wilayah yang kondisi lahannya kering.

"OMC di Riau sudah memasuki hari ke-21. Sejumlah daerah yang dilanda kekeringan sudah diguyur hujan," kata Jim, Kamis (20/8).

Berdasarkan laporan yang diterima BPBD Riau, pelaksanaan OMC pada Rabu (19/8/2026) dilakukan sebanyak 26 sorti penyemaian garam.

Upaya tersebut menghasilkan hujan di sejumlah wilayah, antara lain Pelalawan, Bengkalis, Dumai, Rokan Hilir, dan Kuantan Singingi.

Hujan yang turun di wilayah tersebut diharapkan tidak hanya membantu meredam kebakaran yang sedang berlangsung, tetapi juga meningkatkan kelembapan lahan sehingga potensi munculnya titik api baru dapat ditekan.

Kondisi ini menjadi perhatian khusus karena sebagian wilayah Riau memiliki kawasan gambut yang relatif rentan terbakar ketika mengalami kekeringan berkepanjangan.

Jim menjelaskan, pelaksanaan OMC tidak bisa dilakukan secara bebas tanpa mempertimbangkan kondisi atmosfer. Penyemaian hanya dapat dilakukan ketika terdapat awan yang memenuhi kondisi untuk dimodifikasi.

"OMC ini tidak dapat dilakukan serta merta, tergantung kondisi awannya. Tapi hujan buatan terus diupayakan tak hanya bertujuan untuk memadamkan karhutla, tapi juga membasahi lahan agar kawasan yang mudah terbakar bisa diminimalisir," ujarnya.

Selain mengandalkan rekayasa cuaca, penanganan karhutla di Riau juga diperkuat melalui operasi udara.

Sebanyak enam helikopter disiagakan untuk mendukung penanganan kebakaran. Satu unit digunakan untuk kegiatan patroli guna memantau kondisi wilayah dan mendeteksi lokasi kebakaran, sedangkan lima helikopter lainnya disiapkan untuk menjalankan misi water bombing.

Operasi pemadaman dari udara tersebut menjadi bagian dari strategi terpadu bersama personel yang bekerja di lapangan.

Dukungan udara diperlukan terutama ketika lokasi kebakaran sulit dijangkau melalui jalur darat atau api menyebar di area yang memiliki karakteristik lahan rawan terbakar.

Penanganan karhutla di Riau tidak hanya mengandalkan satu metode. Penyemaian garam melalui OMC diarahkan untuk meningkatkan curah hujan dan membasahi wilayah rawan, sementara helikopter melakukan pemadaman dari udara.

Di sisi lain, tim gabungan tetap melakukan penanganan langsung di lokasi kebakaran. Unsur yang terlibat antara lain TNI, Polri, BPBD, dan Manggala Agni.

Kombinasi strategi tersebut diharapkan mampu mengurangi luas area terdampak sekaligus mencegah api kembali meluas, khususnya di kawasan gambut yang membutuhkan penanganan lebih intensif.

Dengan OMC yang kini memasuki hari ke-21, pemerintah daerah masih terus memantau perkembangan cuaca dan kondisi titik-titik rawan karhutla.

Keberhasilan operasi modifikasi cuaca akan sangat bergantung pada ketersediaan awan yang dapat disemai serta dinamika atmosfer di masing-masing wilayah.

Pusat Pengendalian Kebakaran Hutan Manggala Agni Sumatera, Kementerian Kehutanan Republik Indonesia, terus mengintensifkan upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau.

Hingga saat ini, luas lahan yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 45 hektare. Titik kebakaran tersebar di sejumlah wilayah, terutama di Kabupaten Pelalawan dan Kabupaten Indragiri Hulu.

Tim Manggala Agni dari Distrik Operasi Rengat terus melakukan pemadaman secara intensif. Namun, upaya tersebut menghadapi berbagai tantangan di lapangan, mulai dari kondisi cuaca, medan yang sulit dijangkau, hingga vegetasi yang mudah terbakar.

Kepala Stasiun Dalkarhut Wilayah Sumatera, Ferdian Krisnanto, mengatakan terdapat beberapa lokasi kebakaran yang hingga kini masih dalam proses penanganan.

"Lokasi pertama berada di Desa Kerumutan, Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, dengan perkiraan luas sekitar 15 hektare. Penanganan telah memasuki hari keenam, api masih belum padam, dan pemadaman lanjutan terus dilakukan," ujar Ferdian dalam keterangan yang diterima di Pekanbaru, Rabu (5/8)

Selain di Desa Kerumutan, kebakaran juga terjadi di Desa Mak Teduh, Kecamatan Kerumutan, Kabupaten Pelalawan, dengan luas sekitar 10 hektare.

Sementara itu, di Kabupaten Indragiri Hulu, kebakaran melanda Desa Sungai Guntung Hilir, Kecamatan Rengat, dengan luas sekitar 20 hektare, serta Desa Paya Rumbai, Kecamatan Seberida, seluas sekitar 1,5 hektare.

Menurut Ferdian, sebagian besar titik kebakaran tersebut masih belum berhasil dipadamkan sepenuhnya sehingga proses pemadaman terus dilakukan.

Di Desa Kerumutan, tim menghadapi medan yang cukup berat. Selain bahan bakar berupa vegetasi yang padat, jarak menuju titik api juga cukup jauh.

"Dibutuhkan waktu sekitar 45 menit untuk mengangkut peralatan menggunakan kendaraan roda dua sejauh 1,5 kilometer," jelasnya.

Kondisi serupa juga terjadi di Desa Mak Teduh. Vegetasi berupa gulma kering yang mudah terbakar menghasilkan asap pekat, ditambah tiupan angin yang kencang dan berubah-ubah arah sehingga menyulitkan proses pemadaman.

Hujan ringan hingga sedang sempat mengguyur lokasi selama sekitar 30 menit. Namun, kondisi tersebut belum mampu memadamkan api secara menyeluruh.

Di Kabupaten Indragiri Hulu, tepatnya di Desa Sungai Guntung Hilir, proses pemadaman juga masih berlangsung.

Luas area yang terbakar diperkirakan mencapai sekitar 20 hektare dan hingga kini api belum sepenuhnya berhasil dipadamkan.

"Tantangan di lokasi ini adalah kondisi bahan bakar yang padat, asap tebal, serta angin kencang. Namun, bagian atas api di sisi selatan telah berhasil dikendalikan. Upaya pemadaman juga dibantu dua unit helikopter water bombing," kata Ferdian.

Penggunaan helikopter water bombing menjadi salah satu strategi untuk mempercepat pemadaman, terutama pada lokasi yang sulit dijangkau oleh personel darat.

Di tengah upaya pemadaman yang masih berlangsung di sejumlah titik, terdapat satu lokasi yang telah berhasil dipadamkan sepenuhnya, yakni di Desa Paya Rumbai, Kecamatan Seberida, Kabupaten Indragiri Hulu.

Luas lahan yang terbakar di lokasi tersebut mencapai sekitar 1,5 hektare. Proses penanganan berlangsung selama dua hari dengan kendala utama berupa keterbatasan sumber air. Meski demikian, api akhirnya berhasil dipadamkan secara total. (*)

Tags : karhutla, riau, kebakaran hutan dan lahan, helikopter siaga padamkan karhutla, News,