INDRAGIRI HULU - Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Desa Payarumbai, Kecamatan Seberida, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau, memang tidak lagi memperlihatkan kobaran api.
"Ancaman kebakaran belum sepenuhnya berakhir."
“Api sudah tidak terlihat, tetapi sampai saat ini masih banyak titik asap di lokasi. Karena itu, pendinginan terus dilakukan untuk memastikan tidak terjadi kebakaran kembali,” kata Kapendam XIX/Tuanku Tambusai, Kolonel M Faizal Rangkuti, Sabtu (12/9).
Tim gabungan termasuk personel Kodim 0302/Inhu yang berada di lokasi masih menemukan sejumlah titik asap di kawasan gambut yang terbakar.
Pendinginan terus dilakukan karena api berpotensi kembali muncul dari bagian bawah permukaan gambut yang tebal dan kering.
Dari sekitar 75 hektare lahan yang terdampak Karhutla, penanganan baru mencakup sekitar 30 hektare.
Sementara itu, sekitar 45 hektare lahan gambut lainnya masih membutuhkan pendinginan dan pengawasan intensif.
Kondisi lahan gambut menjadi salah satu kendala terbesar dalam proses pemadaman.
Meski hujan dengan intensitas sedang telah turun, titik asap masih muncul sehingga tim harus memastikan bara di dalam tanah benar-benar mati.
Penanganan melibatkan unsur TNI, Polri, BPBD, Masyarakat Peduli Api (MPA) dan pihak perusahaan.
Tim mengerahkan sejumlah mesin pompa air serta empat unit ekskavator. Peralatan tersebut digunakan untuk melakukan pendinginan, membuat sekat bakar, membuka jalur menuju lokasi dan membangun embung sebagai sumber cadangan air.
Persoalan lain adalah keterbatasan sumber air. Lokasi sumber air berjarak sekitar 100 meter hingga satu kilometer dari area terbakar. Sebagian sumber air bahkan mulai mengalami kekeringan.
Hujan yang turun juga tidak otomatis mempermudah operasi. Akses menuju lokasi menjadi berlumpur sehingga mobilisasi personel dan peralatan menghadapi hambatan.
Di sisi lain, angin kencang tetap menjadi faktor yang harus diwaspadai karena dapat mempercepat penyebaran api apabila bara kembali terbuka dan terbakar.
Untuk mengatasi kendala tersebut, tim terus membuka jalur darurat agar mobilisasi peralatan pemadaman lebih cepat.
Titik-titik yang masih mengeluarkan asap menjadi prioritas pendinginan, sedangkan sekat bakar diperkuat untuk membatasi kemungkinan perambatan api.
Kodam XIX/Tuanku Tambusai telah menyiapkan 2.460 personel untuk menghadapi potensi Karhutla di Riau dan Kepulauan Riau.
Kekuatan tersebut didukung 13 posko Karhutla dan 13 tim Quick Response Force (QRF) yang ditempatkan di sejumlah wilayah kabupaten.
Kapendam XIX/Tuanku Tambusai, Kolonel M Faizal Rangkuti mengatakan, pengerahan kekuatan tersebut ditujukan agar penanganan titik api dapat dilakukan sedini mungkin.
“Untuk menghadapi potensi Karhutla, Kodam XIX/Tuanku Tambusai telah menyiapkan kekuatan 2.460 personel. Kami juga membentuk 13 posko karhutla dan 13 tim Quick Response Force (QRF) yang tersebar di seluruh kabupaten,” ujar M Faizal Rangkuti.
Kekuatan pendukung yang disiapkan meliputi 30 truk, tujuh truk tangki, 14 ambulans dan 36 mobil pemadam kebakaran. Selain itu tersedia 50 sepeda motor untuk mendukung mobilitas personel di lapangan.
Peralatan penanganan juga diperkuat dengan empat ekskavator dan 250 alat pemadam api. Untuk kebutuhan personel, disiapkan 10 tenda dan 300 velbed serta satu unit rumah sakit.
Wilayah operasi penanganan Karhutla tersebut dibagi menjadi empat cluster. Inhu, Indragiri Hilir dan Kuantan Singingi masuk dalam Cluster III.
Faizal meminta masyarakat tidak menggunakan api untuk membersihkan atau membuka lahan. Warga juga diminta segera melaporkan apabila menemukan asap maupun titik api di wilayahnya.
“Penanganan sedini mungkin sangat penting untuk mencegah kebakaran meluas,” pungkasnya. (*)
Tags : karhutla, inhu, lahan gambut, asapnya mengepul di lahan gambut, News Daerah,