SYEKH IBNU ATHAILLAH menjelaskan tentang hikmah adanya kebutuhan manusia. Manusia dalam hidup pasti memiliki kebutuhan. Syekh Ibnu Athaillah As Sakandari dalam kitab At Tanwir menjelaskan tentang hikmah adanya kebutuhan manusia tersebut.
Pertama, tujuan Allah untuk menjadikan manusia memiliki rasa butuh pada makanan, minuman, pakaian, dan lainnya adalah agar manusia merasa terus menerus dalam kondisi membutuhkan. Dengan begitu alasan untuk menganggap diri sebagai tempat bersandar dan tidak butuh pada yang lain akan lenyap. Selain itu, agar manusia dan makhluk bernyawa lainnya mengenal Allah melalui rasa butuh itu. Bukankah Allah berfirman dalam surat Al Fathir ayat 15:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اَنْتُمُ الْفُقَرَاۤءُ اِلَى اللّٰهِۚ وَاللّٰهُ هُوَ الْغَنِيُّ الْحَمِيْدُ
yâ ayyuhan-nâsu antumul-fuqarâ'u ilallâh, wallâhu huwal-ghaniyyul-ḫamîd
Wahai manusia, kamulah yang memerlukan Allah. Hanya Allah Yang Mahakaya lagi Maha Terpuji.
Rasa butuh (fakir) pada-Nya sebagai jalan yang bisa mengantarkan hamba kepada-Nya dan ada dalam naungan-Nya. Barangkali dari ini umat memahami ungkapan berikut:
ُمَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّه
man arafa nafsahu arafa rabbahu.
“Barang siapa yang mengenal dirinya, sungguh ia telah mengenal Tuhannya.”
Syekh Ibnu Athaillah menjelaskan, siapa mengetahui keadaan dirinya, menyadari rasa butuh kepada Allah, mengakui kelemahannya, niscaya dia akan mengenali Allah SWT melalui keperkasaan, kekuasaan, kedermawanan, kebaikan-Nya, dan sifat-sifat lain yang sempurna. Allah mengulang-ulang faktor yang menyebabkan manusia memiliki rasa butuh dan Allah senantiasa mengingatkan kelemahan manusia dalam mencukupi kebutuhannya.
Oleh karena itu, manusia perlu memperbaiki kehidupan duniawinya dan mempersiapkan kebutuhan akhiratnya.
Firman Allah dalam surat Al Balad ayat 4:
لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِنْسَانَ فِيْ كَبَدٍۗ
laqad khalaqnal-insâna fî kabad
sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dalam keadaan susah payah.
Maksudnya, manusia sudah ditakdirkan kesulitan dalam urusan dunia dan akhiratnya. Dengan kedudukan manusia yang mulia, Allah berulang kali menyebutkan alasan manusia butuh pangan, sandang, dan papan. Berbeda dengan beberapa jenis hewan lain.
Kedua, Allah ingin menguji manusia dengan cara membuat mereka butuh pada beragam hal. ALlah hendak melihat apakah mereka akan mencari penyelesaiannya dengan menggunakan akal dan aturannya sendiri ataukah mengembalikan urusan pada takdir-Nya.
Ketiga, ALlah ingin dicintai oleh hamba-Nya. Ketika hamba-Nya dilanda kefakiran dan kekurangan, kemudian Allah mengangkat keadaannya yang terdesak, maka hamba itu akan merasa bahagia dan hatinya pun tenang. Dengan begitu, rasa cinta kepada Allah semakin meningkat.
Rasulullah SAW bersabda:
أَحِبُّوا اللَّهَ لِمَا يَغْذُوكُمْ مِنْ نِعَمِهِ
“Cintailah Allah karena nikmat-nikmat yang Allah berikan kepada kalian” (HR Tirmidzi).
Saat nikmat yang diberikan oleh Allah bertambah, maka semakin bertambah pula cinta kepadaNya.
Keempat, Allah ingin hamba-Nya bersyukur. Oleh karena itu Allah mendatangkan kefakiran pada hamba-hambaNya. Kemudian berkuasa menghilangkannya agar mereka bersyukur kepadaNya dan mengetahui kebaikanNya.
Allah berfirman dalam surat Saba ayat 15:
كُلُوْا مِنْ رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَاشْكُرُوْا لَهٗۗ
kulû mir rizqi rabbikum wasykurû lah
Makanlah rezeki (yang dianugerahkan) Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya
Kelima
Allah ingin membuka pintu munajat bagi para hambaNya. Apabila mereka dihimpit kebutuhan pangan dan kebutuhan lainnya, mereka akan menghadapkan diri kepada Allah agar kegelisahan mereka hilang. Dengan begitu, mereka mendapatkan kemuliaan dengan bermunajat kepadaNya dan mendapatkan karuniaNya (berupa dipenuhinya keperluan mereka).
Tags : ramadhan, ramadhan 2026, islam, puasa ramadhan, hikmah, al hikam, ibnu athaillah,