Linkungan   2026/10/18 18:17 WIB

Hujan Tak Jamin Udara Bersih, Warga Diminta Tetap Waspada dan Kurangi Aktivitas di Luar Rumah

Hujan Tak Jamin Udara Bersih, Warga Diminta Tetap Waspada dan Kurangi Aktivitas di Luar Rumah

PEKANBARU – Kabut asap yang menyelimuti Kota Pekanbaru, Riau, kian mengkhawatirkan. Konsentrasi partikulat halus PM2.5 tercatat mencapai 180,1 mikrogram per meter kubik (µg/m³) sejak Sabtu 17 Oktober 2026 pukul 13.00 WIB, sementara pemantauan kualitas udara menunjukkan kondisi memburuk hingga sore hari.

Berdasarkan pemantauan pada laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kualitas udara Pekanbaru dilaporkan memburuk sejak siang dan menyentuh kategori berbahaya mulai pukul 15.00 WIB.

Kondisi ini meningkatkan kekhawatiran terhadap risiko gangguan kesehatan akibat paparan polusi udara.

Kabut asap terlihat menyelimuti sejumlah ruas jalan utama, di antaranya Jalan Arifin Ahmad, Jalan Soekarno Hatta, Jalan HR Soebrantas dan Jalan Tuanku Tambusai.

Selain itu, kabut asap pekat juga menyelimuti komplek perkantoran Pemko Pekanbaru di Jalan 70, Kecamatan Tenayan Raya.

Jarak pandang serta kenyamanan warga dalam beraktivitas pun berpotensi terganggu.

Anggota Komisi III DPRD Pekanbaru, M Sabarudi ST, meminta masyarakat tidak menganggap remeh kondisi tersebut.

Ia menyarankan warga mengurangi aktivitas di luar rumah selama kualitas udara masih memburuk.

“Melihat kualitas udara hari ini di Pekanbaru, diharapkan masyarakat tidak keluar rumah. Karena sangat pekat dan dipastikan berbahaya bagi kesehatan,” kata Sabarudi.

Politisi Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu menekankan pentingnya langkah pencegahan untuk menekan risiko gangguan kesehatan.

Warga diminta membatasi kegiatan di luar ruangan jika tidak mendesak dan terus memantau perkembangan kualitas udara.

“Masyarakat diminta tetap waspada dan hati-hati,” tegasnya.

Di tengah memburuknya kondisi udara, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Pekanbaru memastikan belum ada penambahan titik api maupun kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah kota tersebut hingga Sabtu siang.

Kabut asap yang menyelimuti ibu kota Provinsi Riau itu diduga merupakan kiriman dari sejumlah daerah lain.

Namun, sumber asap secara spesifik belum dipastikan dalam informasi yang tersedia.

Kondisi ini menunjukkan bahwa kualitas udara di Pekanbaru dapat memburuk meskipun tidak ditemukan penambahan titik api di dalam wilayah kota.

Karena itu, pemantauan polusi udara dan koordinasi penanganan lintas daerah menjadi penting untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas.

Anak-anak, lanjut usia, serta warga dengan gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian khusus karena berisiko lebih tinggi mengalami dampak paparan polusi. Masyarakat juga perlu membatasi paparan udara luar ketika kondisi memburuk.

Perkembangan kualitas udara Pekanbaru selanjutnya menjadi perhatian penting, terutama terkait durasi kabut asap, perubahan konsentrasi PM2.5, serta langkah penanganan untuk melindungi kesehatan masyarakat.

Memburuknya kualitas udara di Pekanbaru, memicu kekhawatiran warga terhadap dampak kabut asap bagi kesehatan.

Meski hujan turun, kualitas udara sempat mencapai kategori berbahaya pada pukul 15.00 WIB sebelum kembali tercatat pada kategori sangat tidak sehat berdasarkan pemantauan yang dirujuk dari BMKG.

Situasi ini mendorong warga mendesak pemerintah memperkuat penanganan kabut asap, terutama menyediakan perlindungan kesehatan bagi masyarakat yang masih harus beraktivitas di luar rumah.

Dahrul Rangkuti, warga Pekanbaru, menilai respons pemerintah belum terlihat sebanding dengan kekhawatiran masyarakat terhadap dampak asap.

Ia mengaku mengetahui sejumlah warga di sekitar Jalan Cipta Karya yang membutuhkan perawatan medis akibat gangguan kesehatan di tengah kondisi kabut asap.

"Tetangga saya di Jalan Cipta Karya ini, tidak sedikit yang harus diberikan perawatan dalam beberapa hari sekaligus diberikan oksigen di rumah sakit," ujar Dahrul Rangkuti, Minggu (18/10).

"Ada juga yang sekeluarga tumbang bolak-balik rumah sakit karena kabut asap ini, tapi kalau kita lihat dari pemerintah kok belum ada sikap yang lebih nyata ya," sambungnya.

Menurut Dahrul Rangkuti, pemerintah perlu mengambil langkah yang lebih konkret daripada hanya membatasi aktivitas pendidikan melalui Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).

Ia membandingkan kondisi saat ini dengan penanganan kabut asap pada 2019, ketika posko bantuan didirikan di sejumlah lokasi untuk menyediakan masker dan oksigen bagi warga yang membutuhkan.

"Bahkan di berbagai posko saat itu juga menyediakan oksigen untuk membantu masyarakat yang membutuhkan," sebutnya.

"Pengalaman tersebut membuat kita bertanya langkah penanganan yang dilakukan pemerintah ketika kabut asap kembali memburuk saat ini. Kalau saya pribadi baru melihat pemerintah mengambil kebijakan sekedar Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ)," jelasnya.

Kekhawatiran serupa disampaikan Linda. Ia meminta pemerintah tidak menunggu kondisi semakin parah untuk memperluas langkah perlindungan masyarakat.

“Sekarang saja penderita ISPA di Provinsi Riau sudah banyak. Kalau dampak kabut asap semakin buruk, tentu akan semakin sulit ditanggulangi,” ujarnya.

Linda menekankan pentingnya perlindungan bagi anak-anak, lansia, serta warga yang memiliki gangguan pernapasan.

Menurutnya, langkah antisipasi harus dilakukan sejak dini agar paparan asap tidak memperburuk kondisi kesehatan masyarakat.

Desakan warga tersebut menyoroti kebutuhan penanganan yang lebih terukur, mulai dari akses masker, layanan kesehatan, hingga informasi kualitas udara yang mudah dijangkau masyarakat.

Berdasarkan informasi yang disampaikan dalam laporan ini, kualitas udara Pekanbaru sempat berada pada kategori berbahaya pukul 15.00 WIB, kemudian tercatat pada kategori sangat tidak sehat dalam pemantauan berikutnya.

Kepala BMKG Sultan Syarif Kasim (SSK) II Pekanbaru, Warjono menjelaskan, kabut yang muncul pada pagi hari dapat berupa kabut basah akibat kelembapan udara yang tinggi.

Kondisi itu juga dapat bercampur dengan asap kiriman dari sejumlah wilayah, termasuk Sumsel, Jambi, dan Kalimantan.

Dengan demikian, turunnya hujan tidak serta-merta menjadi jaminan bahwa kualitas udara telah pulih.

Kondisi atmosfer dan keberadaan partikel asap tetap perlu dipantau berdasarkan data pengukuran.

BMKG mengimbau masyarakat mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.

Warga yang terpaksa beraktivitas di luar disarankan menggunakan masker yang sesuai, sedangkan kelompok rentan perlu mendapat perhatian lebih. (*)

Tags : kabut asap, udara tak sehat, karhutla, udara tak bersih, warga diminta kurangi aktivitas, lingkungan, alam ,