Agama   2026/11/05 10:32 WIB

Jutaan Jiwa Saban Tahunnya Jemaah ke Tanah Suci, Tapi Mengapa Sampai Habiskan Waktu 40 Hari?

Jutaan Jiwa Saban Tahunnya Jemaah ke Tanah Suci, Tapi Mengapa Sampai Habiskan Waktu 40 Hari?

AGAMA - Ratusan ribu jemaah asal Indonesia saban tahunnya terbang ke Tanah Suci untuk menunaikan rukun Islam kelima.

Namun, kerap muncul tanda tanya di tengah masyarakat mengenai alasan rombongan jemaah harus berada di Arab Saudi hingga durasi 40 hari, padahal prosesi puncak ibadah haji pada dasarnya hanya memerlukan waktu lima hingga enam hari.

Jika dihitung secara keseluruhan beserta tahapan perjalanan dan persiapan awal, rangkaian ritual wajib serta rukun haji sebetulnya hanya menghabiskan waktu sekitar 12 hari.

Panjangnya durasi keberadaan jemaah Indonesia hingga lebih dari satu bulan tersebut dilatarbelakangi oleh berbagai kombinasi faktor logistik, manajemen penerbangan, hingga regulasi mengikat dari Pemerintah Kerajaan Arab Saudi.

Faktor utama yang paling memengaruhi durasi ini adalah besarnya kuota haji Indonesia yang mencapai lebih dari 200 ribu jemaah per tahun.

Mobilisasi massa dalam jumlah masif ini mengharuskan pemerintah membagi rombongan ke dalam ratusan kelompok terbang (kloter).

Skema keberangkatan dan kepulangan kloter yang dilakukan secara bertahap tersebut membuat sebagian rombongan tiba jauh lebih awal dan pulang lebih akhir dibanding kloter lainnya.

Kondisi tersebut berkelindan dengan ketatnya alokasi slot penerbangan dari The General Authority of Civil Aviation (GACA) Arab Saudi.

Otoritas penerbangan Saudi membatasi kuota lalu lintas udara di bandara kedatangan demi menjaga kelancaran operasional selama musim haji.

Ketentuan ini sejalan dengan regulasi resmi Ta'limatul Hajj, yang mewajibkan negara pengirim jemaah di atas 30.000 orang untuk menjalankan masa operasional penerbangan paling sedikit selama 30 hari.

Dari sudut pandang logistik dan anggaran, durasi 40 hari juga berkaitan erat dengan strategi efisiensi biaya akomodasi.

Pemerintah Indonesia mengamankan penyewaan pemondokan hotel di Makkah dan Madinah sejak jauh hari guna menekan lonjakan harga sewa serta memastikan kepastian kamar bagi seluruh jemaah.

Strategi pemesanan jangka panjang ini secara alami menyesuaikan dengan pola penempatan dan durasi keberadaan jemaah di dua kota suci tersebut.

Di samping pemenuhan regulasi dan efisiensi biaya, durasi tinggal yang cukup panjang ini memberikan kesempatan bagi jemaah untuk melakukan proses adaptasi cuaca dan fisik di Arab Saudi.

Selain itu, jemaah dapat memanfaatkan waktu luang untuk memperbanyak ibadah sunnah, melaksanakan ibadah umrah, serta berziarah.

Bagi jemaah yang menginginkan durasi tinggal yang jauh lebih singkat, opsi tersebut sebenarnya tersedia melalui program haji khusus, meskipun dengan konsekuensi biaya yang jauh lebih tinggi. (*)

Tags : haji, jemaah haji, makkah, arab saudi, rukun kelima, tanah suci,