AGAMA - Ramadhan jadi momentum menguatkan iman. Jutaan umat Muslim di seluruh dunia menyambut dengan penuh sukacita dan harapan kedatangan bulan Ramadan, bulan yang paling istimewa sepanjang tahun.
Bulan ini membawa aura kesucian yang mendalam, di mana setiap Muslim berpuasa dari fajar hingga matahari terbenam, menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa, sambil memenuhi hari-harinya dengan ibadah, doa, tilawah Alquran, serta kebaikan kepada sesama.
Di malam-malamnya yang penuh berkah, terdapat Laylatul Qadr, malam yang nilainya lebih baik daripada seribu bulan, di mana ampunan dan rahmat Allah SWT melimpah ruah bagi hamba-Nya yang berusaha mendekatkan diri.
Kegembiraan ini terasa begitu nyata, karena Ramadan bukan sekadar rutinitas puasa, melainkan momen transformasi spiritual yang dinanti-nantikan.
Dari berbagai penjuru dunia, umat Islam bersiap menyambut bulan penuh ampunan ini dengan hati yang lapang, saling mengingatkan untuk memperbanyak amal shaleh, dan menjaga silaturahmi dalam suasana keimanan yang hangat.
Di Mesir, warga dengan penuh antusias menanti pengumuman resmi hari pertama Ramadan yang akan dikeluarkan oleh Dar al-Ifta al-Misriyyah (Otoritas Fatwa Mesir), di bawah kepemimpinan Mufti Agung, setelah pengamatan hilal dan konfirmasinya sesuai syariat Islam.
Pengumuman ini menjadi penentu bagi jutaan Muslim di negeri itu untuk memulai ritual puasa dan ibadah dalam suasana spiritual yang khas dan penuh keimanan.
Dr. Mohamed Gharib, Profesor Riset Matahari di Institut Riset Astronomi dan Geofisika Nasional, menyatakan dalam pernyataan khusus kepada Al-Arabiya Net dan Al-Hadath Net bahwa penetapan tanggal resmi hari pertama Ramadan tetap menjadi wewenang Mufti Agung Mesir.
Keputusan ini mengikuti kaidah syariah yang telah disepakati, berdasarkan pengamatan hilal Ramadan, baik dengan mata telanjang maupun dibantu perhitungan astronomi, untuk memastikan apakah hilal terlihat atau tidak, sebagaimana diberitakan Al Arabiya.
Menurut perhitungan astronomi, bulan Sya'ban kemungkinan berlangsung selama 30 hari. Bulan Sya'ban 1447 H (tahun 2026 M) kemungkinan besar berlangsung selama 30 hari karena pada hari ke-29, yaitu Selasa, 17 Februari 2026, posisi hilal saat matahari terbenam diperkirakan belum memenuhi kriteria visibilitas MABIMS (tinggi minimal 3° dan elongasi 6,4°), sehingga secara astronomis bulan sabit sulit diamati dan bilangan bulan Sya'ban harus digenapkan (istikmal).
Durasi bulan Hijriah yang bervariasi antara 29 atau 30 hari ini disebabkan oleh periode sinodik bulan yang rata-rata memakan waktu 29,53 hari, namun karena bulan tidak bisa dimulai di tengah hari, maka penentuan awal bulan seperti Ramadan pada Kementerian Agama bergantung pada keterlihatan fisik hilal atau perhitungan hisab yang presisi.
Bulan baru Ramadan diperkirakan tiba sebelum hari pengamatan, tetapi durasi penampakan hilal setelah matahari terbenam menjadi faktor penentu visibilitasnya.
Dr Gharib menjelaskan bahwa pada 17 Februari, durasi penampakan hilal di langit Kairo hanya sekitar 3 menit, sementara di beberapa provinsi lain di Mesir mencapai sekitar 4 menit, dan di Makkah juga sekitar 3 menit.
Durasi yang relatif singkat ini justru meningkatkan peluang terlihatnya hilal, sehingga secara astronomis, bulan Sya'ban diprediksi genap 30 hari dan hari pertama Ramadan jatuh pada 19 Februari.
Pada akhir pernyataannya, Dr. Gharib menegaskan bahwa perkiraan ini murni bersifat astronomis.
Keputusan akhir dan resmi sepenuhnya bergantung pada pengumuman Dar al-Ifta al-Misriyyah setelah pengamatan hilal yang sah, sesuai metodologi penentuan awal bulan Hijriah yang berlaku.
Dar al-Ifta al-Misriyyah (Lembaga Fatwa Mesir) adalah institusi keagamaan resmi tertua di dunia Islam yang didirikan pada tahun 1895 M sebagai pusat penelitian hukum Islam yang prestisius.
Menurut Wikipedia, lembaga ini berfungsi sebagai badan penasihat dan peradilan yang memberikan bimbingan keagamaan bagi umat Islam Sunni melalui penerbitan fatwa terkait isu keseharian maupun kontemporer.
Di bawah naungan pemerintah Mesir, Dar al-Ifta menjadi salah satu pilar utama otoritas keagamaan di Mesir bersama Al-Azhar Al-Syarif, Universitas Al-Azhar, dan Kementerian Wakaf, dengan jangkauan pengaruh yang mencakup komunitas Muslim secara global.
Kewenangan utama Dar al-Ifta Mesir meliputi pemberian fatwa hukum yang didasarkan pada Al-Qur'an, Hadis, dan konsensus ulama masa lalu untuk menjaga prinsip Islam di era modern.
Berdasarkan laporan dari Dar Al-Ifta, lembaga ini memegang otoritas krusial dalam memberikan pertimbangan hukum kepada pengadilan Mesir, termasuk kewajiban memberikan tinjauan mufti terhadap vonis hukuman mati sebelum dieksekusi.
Selain tugas yudisial, Dar al-Ifta juga berperan sebagai pusat pelatihan calon mufti dan instansi yang melakukan pengamatan hilal untuk menentukan awal bulan Hijriah secara resmi di Mesir.
Perkiraan astronomis ini selaras dengan berbagai sumber internasional yang memproyeksikan awal Ramadan 1447 H sekitar 18–19 Februari 2026, tergantung konfirmasi hilal resmi di masing-masing negara.
Penerimaan umat Muslim terhadap bulan Ramadan yang penuh kegembiraan didasari oleh keyakinan mendalam bahwa bulan ini adalah waktu di mana pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan-setan dibelenggu.
Suasana spiritual yang bersih ini menciptakan perasaan tenang dan sukacita batiniah bagi setiap mukmin.
Kegembiraan ini juga bersumber dari status Ramadan sebagai "Syahrul Qur'an" atau bulan Alquran.
Umat Islam merayakan turunnya wahyu pertama kepada Nabi Muhammad SAW melalui peningkatan ibadah tadarus dan pengkajian ayat suci, yang memberikan arah dan cahaya bagi kehidupan mereka sepanjang tahun.
Dari sisi pengampunan, Ramadan dianggap sebagai kesempatan emas untuk melakukan "pembersihan total" atas dosa-dosa masa lalu.
Janji bahwa siapa pun yang berpuasa dengan iman dan mengharap pahala akan diampuni dosa-dosanya membuat kedatangan bulan ini disambut layaknya kedatangan tamu agung yang membawa hadiah kemerdekaan dari api neraka.
Salah satu puncak kebahagiaan di bulan ini adalah keberadaan Lailatul Qadar, malam yang nilainya lebih baik dari seribu bulan.
Umat Muslim di seluruh dunia berlomba-lomba mencarinya dengan antusiasme tinggi, karena satu malam tersebut setara dengan ibadah selama lebih dari 83 tahun, sebuah "bonus" umur ibadah yang sangat disyukuri.
Ramadan juga membawa transformasi sosial yang luar biasa, di mana rasa persaudaraan menguat melalui tradisi buka puasa bersama (ifthar).
Masjid-masjid menjadi pusat interaksi yang hangat, mempertemukan orang-orang dari berbagai latar belakang sosial untuk duduk bersama di satu meja tanpa perbedaan kasta.
Secara psikologis, puasa mengajarkan empati yang nyata terhadap mereka yang kurang beruntung. Dengan merasakan lapar dan haus secara sengaja, umat Muslim merasa lebih dekat dengan penderitaan kaum fakir miskin, yang kemudian mendorong semangat berbagi melalui zakat, infak, dan sedekah yang melimpah selama bulan ini.
Kehadiran Shalat Tarawih menjadi ritual unik yang hanya ada di bulan Ramadan, memberikan kegembiraan tersendiri bagi jamaah. Suasana malam yang hidup dengan lantunan ayat suci di masjid-masjid menciptakan memori kolektif yang indah dan kerinduan spiritual yang mendalam setiap kali Ramadan berakhir.
Dari perspektif kesehatan, banyak Muslim merasa bahagia karena Ramadan menjadi momentum untuk detoksifikasi tubuh dan pengaturan pola hidup yang lebih disiplin.
Keberhasilan menahan nafsu makan, minum, dan emosi selama sebulan penuh memberikan rasa pencapaian mental dan kekuatan karakter yang baru.
Kegembiraan ini juga sering kali bersifat kultural, di mana setiap negara memiliki tradisi penyambutan yang meriah, seperti lampu-lampu fanous di Mesir atau tradisi padusan di Indonesia.
Persiapan fisik seperti membersihkan rumah dan menyiapkan hidangan khas Ramadan menjadi ekspresi nyata dari sukacita keluarga Muslim.
Terakhir, kebahagiaan menyambut Ramadan adalah bentuk ketaatan atas perintah Allah SWT. Sebagaimana dijelaskan dalam Alqur'an Surah Yunus ayat 58, umat Islam diperintahkan untuk bergembira atas karunia dan rahmat Allah, dan Ramadan adalah manifestasi terbesar dari rahmat tersebut bagi umat manusia. (*)
Tags : ramadhan, awal ramadhan, menurut ilmuwan mesir, darul ifta, mesir, ramadhan 2026,