Riau   2026/10/07 16:23 WIB

Kabut Asap Karhutla Buat Terasa Panas dan Gerah Saat Menghirup Udara, 'Seperti Tercekik Seumur Hidup'

Kabut Asap Karhutla Buat Terasa Panas dan Gerah Saat Menghirup Udara, 'Seperti Tercekik Seumur Hidup'

PEKANBARU, RIAUPAGI.COM - Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di semua provinsi seperti di Riau mengalami lonjakan jumlah titik api yang mengakibatkan wilayah itu 'dikepung' kabut asap di beberapa wilayah.

Sementara tim pemadam di lapangan masih kesulitan memadamkan api yang kerap muncul kembali setelah dipadamkan.

Bagaimana warga Riau menghadapi kabut asap di tengah fenomena El-Nino Godzilla?

Di lapangan, petugas masih kesulitan memadamkan api terutama di atas lahan gambut, di tengah proses melelahkan bertahun-tahun itu, mereka bilang "kami tidak punya kuasa untuk mengeluh".

Ini merupakan kisah mereka.

Di ranah pendidikan, kabut asap membuat pemerintah menyesuaikan jam masuk sekolah.

Tetapi Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Pekanbaru belum membuat surat edaran atau meliburkan siswa kepada satuan pendidikan tingkat kota seperti PAUD-TK, SD, dan SMP agar waktu pembelajaran diundur.

Di lokasi lain, Kota Bengkalis juga belum meliburkan siswa, Dony Restu yang rumahnya berjarak sekitar 10 km dari titik api terdekat, sudah mencium aroma asap yang masuk ke rumahnya dalam beberapa hari terakhir.

"Aromanya seperti sampah terbakar, asapnya pekat sekali dan berasa apek banget," ujar Dony yang selama 22 tahun dalam hidupnya terpapar kabut asap setiap tahun.

Kabut asap mulai pekat malam hingga pagi, itu pula yang membuat Dony bersin lebih sering setiap pagi karena memiliki sinusitis.

Setidaknya, dirinya sudah menyadari kabut asap yang terjadi setiap tahun itu sejak usia delapan tahun.

"Itu pun dari tontonan Ipin Upin, yang bilang kalau kabut asap itu bahaya," tambah Dony.

Disadari atau tidak, dirinya seakan-akan sudah tercekik kabut asap seumur hidup.

Namun, tahun ini, ketika berkendara dengan sepeda motornya menuju pasar yang jaraknya sekitar 35km, Dony harus menghidupkan lampu kabut mobilnya agar pandangannya lebih jelas.

"Bahkan di beberapa titik, saya harus membunyikan klakson beberapa detik, karena jarak pandang benar-benar terbatas, itu juga untuk menandakan kalau ada kendaraan yang melintas," jelas Dony.

Sering kali krisis yang ia hadapi setiap tahunnya itu memantik pertanyaan, "Mengapa pemerintah tidak berpikir supaya karhutla tidak terulang lagi, kenapa tidak preventif sejak awal, kenapa harus menunggu kebakaran dahulu, baru sibuk masing-masing?"

Kualitas udara sangat tidak sehat

Kabut asap yang menyelimuti Kota Pekanbaru sejak pada Selasa 6 Oktober 2026 tidak berasal dari kebakaran lahan baru di dalam kota.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pekanbaru memastikan hingga hari ini tidak ditemukan titik panas atau hotspot baru.

Meski demikian, kondisi tersebut tidak serta-merta membuat persoalan asap di Pekanbaru berakhir.

Asap kiriman dari sejumlah daerah tetap berdampak terhadap kualitas udara di ibu kota Provinsi Riau.

Berdasarkan pemantauan laman resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), kualitas udara Pekanbaru berada pada kategori sangat tidak sehat.

Plt Kalaksa BPBD Kota Pekanbaru, Martin Manoluk menegaskan, pihaknya masih memantau potensi munculnya kebakaran baru, terutama di kawasan yang memiliki kerawanan terhadap kebakaran lahan.

"Untuk hotspot atau titik api di Kota Pekanbaru masih nihil, kami memastikan tidak ada titik api baru," tegas Martin.

Kondisi ini menunjukkan, persoalan kabut asap yang dirasakan warga Pekanbaru tidak selalu identik dengan munculnya kebakaran di dalam wilayah kota.

Pergerakan asap dari daerah lain tetap dapat memengaruhi kualitas udara, sehingga pemantauan tidak cukup hanya dilakukan terhadap wilayah administratif Pekanbaru.

BPBD pun terus mengerahkan tim untuk melakukan patroli di sejumlah kawasan rawan kebakaran.

Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mendeteksi sedini mungkin apabila muncul titik api baru.

"Apabila nanti ada muncul titik api baru, tentu kita bakal melakukan langkah antisipasi agar kebakaran tidak meluas," ujarnya.

Meski saat ini tidak ada penambahan luas lahan terbakar, catatan penanganan kebakaran lahan di Pekanbaru sepanjang Januari hingga September 2026 menunjukkan persoalan karhutla masih serius.

BPBD bersama aparat gabungan sebelumnya menangani 196 titik kebakaran lahan yang tersebar di 14 kecamatan. Total luas lahan yang terdampak mencapai 106,8 hektare.

Angka tersebut menjadi catatan penting di tengah memburuknya kualitas udara. Nihilnya hotspot baru saat ini belum berarti risiko kebakaran lahan sepenuhnya hilang.

"Kebakaran lahan yang kami tangani memang sempat meluas hingga September lalu, namun untuk saat ini nihil penambahan luas lahan terbakar," jelas Martin.

Karena itu, kewaspadaan tetap diperlukan. Kebakaran lahan yang terlambat diketahui berpotensi meluas dan kembali memperburuk persoalan asap di Pekanbaru.

BPBD meminta masyarakat segera melaporkan apabila menemukan indikasi kebakaran lahan. Respons cepat diperlukan agar api tidak berkembang menjadi kebakaran yang lebih luas.

"Kami juga mengimbau warga agar tidak membuka lahan dengan cara membakar," pungkasnya.

Riau diselimuti asap

Kabut asap kembali menjadi persoalan serius di Kota Pekanbaru.

Kualitas udara pada Kamis 17 September 2026 pagi berada dalam kategori sangat tidak sehat, dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 142,5 mikrogram per meter kubik (µg/m³).

Data pemantauan IQAir pada pagi hari menunjukkan indeks kualitas udara Pekanbaru berada pada level 214 AQI US atau kategori sangat tidak sehat.

Konsentrasi PM2.5 tercatat 142,5 µg/m³, sementara kondisi atmosfer juga ditandai udara kabur.

Situasi ini bukan sekadar persoalan jarak pandang.

Tingginya partikulat halus PM2.5 meningkatkan paparan polusi yang dapat masuk jauh ke dalam sistem pernapasan, sehingga aktivitas masyarakat di luar ruangan perlu diperhatikan secara serius.

Data pemantauan pada dini hari bahkan menunjukkan konsentrasi PM2.5 sempat berada pada kisaran 155 hingga 226 µg/m³ sebelum tercatat 142,5 µg/m³ pada pagi hari. Konsentrasi PM10 juga mencapai 211,4 µg/m³.

Kondisi udara kabur tersebut sejalan dengan prakiraan BMKG untuk wilayah Pekanbaru.

Prakiraan cuaca di kawasan Pelabuhan Pekanbaru pada Kamis mencatat kondisi udara kabur dengan suhu sekitar 26 derajat Celsius dan jarak pandang sekitar 4 kilometer.

Di tengah memburuknya kualitas udara, ancaman karhutla di Sumatera juga masih tinggi.

BMKG Pekanbaru mendeteksi 4.737 hotspot di Sumatera, dengan 225 titik berada di Riau pada Kamis pagi.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan asap di Pekanbaru tidak bisa hanya dilihat sebagai masalah cuaca.

Tingginya aktivitas titik panas di kawasan Sumatera menjadi salah satu indikator bahwa sumber emisi kebakaran masih menjadi perhatian dalam situasi kualitas udara saat ini.

Dalam kondisi udara sangat tidak sehat, masyarakat disarankan mengurangi aktivitas di luar ruangan, terutama kegiatan fisik berat dan olahraga yang meningkatkan frekuensi pernapasan.

Jika aktivitas di luar rumah tidak dapat dihindari, penggunaan masker yang sesuai perlu dilakukan untuk mengurangi paparan partikulat.

Masyarakat juga dianjurkan memperbanyak konsumsi air putih dan menjaga kondisi tubuh.

Kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta orang dengan gangguan pernapasan perlu mendapat perhatian lebih.

Aktivitas di luar ruangan sebaiknya dibatasi dan segera mencari lokasi dengan kualitas udara lebih baik apabila muncul keluhan kesehatan.

BMKG juga mengingatkan masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran sampah secara sembarangan.

Kondisi kemarau dan minimnya curah hujan dapat membuat api lebih mudah menyebar dan meningkatkan risiko kebakaran.

Dengan kualitas udara Pekanbaru yang masih berada pada kategori sangat tidak sehat, persoalan kabut asap kini bukan hanya menyangkut jarak pandang, tetapi juga menyentuh langsung aspek kesehatan masyarakat.

Pemantauan kualitas udara dan penanganan sumber kebakaran menjadi semakin penting ketika konsentrasi partikulat masih tinggi.

Sementara Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Pekanbaru memprakirakan sejumlah wilayah di Riau masih berpotensi mengalami kekaburan udara akibat asap.

Di tengah kondisi kabut asap yang masih terjadi, masyarakat juga diminta mewaspadai potensi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang di sejumlah daerah.

Petugas BMKG Stasiun Pekanbaru, Alfa Nataris, mengatakan kondisi cuaca pada pagi hari diprakirakan didominasi udara kabur dan berawan.

Hujan ringan berpotensi terjadi di sebagian wilayah Kabupaten Rokan Hilir, Bengkalis, dan Kota Dumai.

"Pagi hari, udara kabur hingga berawan. Hujan dengan intensitas ringan diprakirakan terjadi di sebagian wilayah Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Bengkalis, dan Kota Dumai," kata Alfa, Rabu (7/10).

Memasuki siang hingga sore hari, kekaburan udara akibat asap masih berpotensi terjadi. Cuaca secara umum diprakirakan cerah berawan, sementara hujan ringan hingga sedang berpeluang mengguyur sebagian wilayah Siak, Pelalawan, dan Kepulauan Meranti.

"Siang hingga sore hari berpotensi terjadi kekaburan udara akibat asap atau smoke. Cuaca cerah berawan, dengan hujan intensitas ringan hingga sedang diprakirakan terjadi di sebagian wilayah Kabupaten Siak, Kabupaten Pelalawan, dan Kabupaten Kepulauan Meranti," ujarnya.

Pada malam hari, kondisi udara kabur akibat asap masih berpotensi terjadi. Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang diprakirakan turun di sejumlah wilayah, yakni Rokan Hilir, Rokan Hulu, Kampar, Siak, Kota Dumai, dan Kota Pekanbaru.

Kondisi serupa berlanjut hingga dini hari. BMKG memperkirakan hujan ringan hingga sedang berpotensi terjadi di sebagian wilayah Bengkalis, Kampar, Siak, dan Kota Dumai.

"Pada malam hingga dini hari, berpotensi terjadi kekaburan udara akibat asap dengan kondisi berawan. Hujan dengan intensitas ringan hingga sedang juga berpotensi terjadi di sejumlah wilayah," kata Alfa.

Selain potensi hujan dan asap, BMKG mengeluarkan peringatan dini terkait potensi cuaca ekstrem di sejumlah daerah.

"Waspada hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang diprakirakan terjadi di sebagian wilayah Kabupaten Rokan Hulu, Kabupaten Rokan Hilir, Kabupaten Kampar, Kabupaten Bengkalis, dan Kabupaten Siak pada malam hingga dini hari," jelasnya.

Untuk kondisi atmosfer secara umum, suhu udara di Riau diprakirakan berada pada kisaran 23 hingga 34 derajat Celsius. Sementara kelembapan udara berkisar 45 hingga 90 persen.

Angin bertiup dari arah tenggara dengan kecepatan 10 hingga 40 kilometer per jam.

Sementara itu, kondisi perairan Riau relatif aman untuk aktivitas pelayaran.

BMKG memprakirakan tinggi gelombang laut di wilayah perairan Provinsi Riau berkisar 0,5 hingga 1,25 meter atau berada dalam kategori rendah.

Masyarakat, khususnya yang berada di wilayah yang masih terdampak asap, diimbau tetap berhati-hati saat beraktivitas di luar ruangan.

Warga juga perlu memperhatikan perkembangan informasi cuaca, terutama ketika hujan lebat, petir, dan angin kencang berpotensi terjadi. (*)

Tags : polusi udara, lingkungan, indonesia, perubahan iklim, alam, pelestarian,