SEERTI apakah sosok ibu yang dikehendaki Alquran ? Ibu yang dikehendaki Alquran bukan sekadar orang yang memasak makanan dan merawat fisik anak-anaknya.
Lebih dari itu, ia adalah pencetak generasi tangguh dan pembangun peradaban. Sosok itu tercermin dalam keyakinan ibu Nabi Musa, niat mulia istri Imran, dan kesabaran diam-diam ibu Nabi Yusuf.
Allah SWT berfirman:
وَأَوْحَيْنَا إِلَىٰ أُمِّ مُوسَىٰ أَنْ أَرْضِعِيهِ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ وَلَا تَخَافِي وَلَا تَحْزَنِي إِنَّا رَادُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ الْمُرْسَلِينَ
Artinya, “Kami mengilhamkan kepada ibu Musa, ‘Susuilah dia (Musa). Jika engkau khawatir terhadapnya, hanyutkanlah dia ke sungai (Nil dalam sebuah peti yang mengapung). Janganlah engkau takut dan janganlah (pula) bersedih. Sesungguhnya Kami pasti mengembalikannya kepadamu dan menjadikannya sebagai salah seorang rasul.’” (QS Al-Qasas [28]: 7).
Itulah sosok ibu yang luar biasa. Ia berusaha menjaga keselamatan anaknya dan memandangnya dengan penuh kecemasan.
Namun, ia tidak membiarkan gejolak perasaannya menghalangi ketaatannya kepada perintah Allah. Dengan keyakinan dan keimanan yang kuat, ia menghanyutkan putranya ke sungai dan menyerahkan segala urusannya kepada Tuhan semesta alam.
Ayat ini, wahai saudara-saudaraku, merupakan sebuah keajaiban balaghah tersendiri. Dalam satu ayat, terkandung dua berita, dua perintah, dua larangan, dan dua kabar gembira.
Dua berita tersebut adalah firman Allah, “Kami mengilhamkan kepada ibu Musa,” dan “Jika engkau khawatir terhadapnya,” yang mengisyaratkan bahwa sang ibu memang akan diliputi rasa takut terhadap keselamatan anaknya.
//Dua perintah itu adalah “Susuilah dia” dan “Hanyutkanlah dia.”
Dua larangan itu adalah “Janganlah engkau takut” dan “Janganlah pula bersedih.”
Adapun dua kabar gembira tersebut adalah firman-Nya, “Sesungguhnya Kami pasti mengembalikannya kepadamu” dan “Menjadikannya sebagai salah seorang rasul.”
Ungkapan yang indah tersebut mempertemukan dua hal yang tampak bertentangan, yaitu rasa takut dan tindakan menghanyutkan anak ke sungai.
Logika manusia biasanya mengatakan, “Jika engkau takut terhadap keselamatannya, jagalah dia dan sembunyikanlah dia.” Namun, petunjuk Ilahi justru menyatakan:
فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِي الْيَمِّ
“Jika engkau khawatir terhadapnya, hanyutkanlah dia ke sungai.”
Sungai yang secara kasatmata menyimpan ancaman kebinasaan justru menjadi tempat yang aman bagi seorang ibu yang teguh dalam keyakinannya, karena ia percaya bahwa perlindungan Allah senantiasa menyertainya.
Ibu yang dikehendaki Alquran pada masa kini adalah ibu yang tidak membiarkan luapan kasih sayangnya menguasai seluruh pertimbangan, hingga menghalangi anaknya meraih cita-cita yang luhur.
Ia tidak melarang anaknya bepergian untuk menuntut ilmu hanya karena takut sesuatu yang buruk menimpanya. Ia juga tidak menghalangi anaknya membela kebenaran dan berjuang untuk agama Allah dengan dalih kasih sayang dan kekhawatiran.
Renungkanlah. Siapakah yang membentuk pribadi Nabi Musa? Siapakah yang menanamkan keteguhan dan ketabahan dalam hatinya hingga ia berani berdiri menghadapi salah satu musuh Allah yang paling kejam, yakni Fir‘aun, yang memenuhi bumi dengan kezaliman dan berkata:
أَنَا رَبُّكُمُ الْأَعْلَىٰ
“Akulah tuhanmu yang paling tinggi.” (QS An-Nazi‘at [79]: 24).
Dialah ibunya. Ibu yang menyusuinya dengan air susu keyakinan sebelum air susu yang menguatkan tubuhnya.
Karena itu, ibu yang dikehendaki Alquran adalah ibu yang membentuk anak-anak menjadi pribadi tangguh, yang tetap teguh ketika fitnah dan ujian melanda. Bukan sosok-sosok yang hanya tampak kuat, tetapi lari ketika menghadapi ujian pertama.
Ibu yang dikehendaki Alquran adalah ibu yang memiliki misi dan tujuan. Dialah istri Imran, ibu Maryam, yang tidak sekadar melahirkan anak untuk kehidupan dunia, tetapi juga mempersembahkannya untuk mengabdi kepada Allah.
Ia menjadikan calon anaknya sebagai bagian dari ikhtiar untuk melayani agama bahkan sebelum anak itu melihat cahaya dunia.
Istri Imran tidak menunggu sampai anaknya dewasa untuk memikirkan pendidikan dan bidang pengabdian yang akan ditempuhnya.
Sejak anak itu masih berada dalam kandungan, ia telah meneguhkan komitmen pendidikannya di hadapan Allah. Alquran mengabadikan doanya:
إِذْ قَالَتِ امْرَأَتُ عِمْرَانَ رَبِّ إِنِّي نَذَرْتُ لَكَ مَا فِي بَطْنِي
Artinya, “(Ingatlah) ketika istri Imran berkata, ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya aku menazarkan kepada-Mu apa yang ada di dalam kandunganku.’” (QS Ali ‘Imran [3]: 35).
Kata مُحَرَّرًا berarti dipersembahkan secara tulus untuk Allah, terbebas dari keterikatan pada kepentingan duniawi, pekerjaan, harta, dan popularitas. Ia menginginkan anaknya menjadi hamba Allah yang dapat membawa perbaikan bagi kehidupan.
Istri Imran tidak berhenti pada niat yang mulia. Ia juga terus mendoakan anak dan keturunannya agar mendapat perlindungan dari godaan setan, terutama di tengah berbagai ujian kehidupan. Allah mengabadikan doanya:
وَإِنِّي أُعِيذُهَا بِكَ وَذُرِّيَّتَهَا مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيمِ
Artinya, “Sesungguhnya aku memohon perlindungan-Mu untuknya dan anak cucunya dari setan yang terkutuk.” (QS Ali ‘Imran [3]: 36).
Hasilnya pun segera terlihat. Allah SWT berfirman:
فَتَقَبَّلَهَا رَبُّهَا بِقَبُولٍ حَسَنٍ وَأَنبَتَهَا نَبَاتًا حَسَنًا
Artinya, “Maka, Dia (Allah) menerimanya dengan penerimaan yang baik, membesarkannya dengan pertumbuhan yang baik.” (QS Ali ‘Imran [3]: 37).
Jadilah seperti istri Imran! Jangan biarkan perhatianmu hanya tertuju pada makanan, pakaian, dan penampilan anak. Tanamkan pula niat yang tulus agar keturunanmu tumbuh menjadi generasi yang mampu mengabdi kepada umat Islam.
Sebab, kebaikan anak-anak tidak terlepas dari ketulusan niat dan kesungguhan doa para ibu dalam mendidik mereka. //
Seperti Apa Semestinya Sosok Ayah?
Alquran memberikan petunjuk seperti apakah anggota keluarga yang diinginkan Alquran.
Mengutip Alukah, Republika.coid, membuat serial tentang anggota keluarga yang diinginkan Alquran mulai dari sosok ayah. Seperti apakah sosok yang dikehendaki Alquran?
Ayah yang dikehendaki Alquran bukanlah sekadar pencari nafkah atau penjaga ekonomi yang hanya menyediakan makanan dan pakaian.
Lebih dari itu, ayah adalah pelita kesadaran, sumber kebijaksanaan, dan tempat anak memperoleh ketenangan jiwa.
Ayah yang dikehendaki Alquran adalah seperti sosok Luqman yang duduk bersama putranya untuk mengajarkan dasar-dasar agama, akidah, syariat, dan akhlak. Allah SWT berfirman:
وَإِذْ قَالَ لُقْمَانُ لِابْنِهِ وَهُوَ يَعِظُهُ يَابُنَيَّ لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ * وَوَصَّيْنَا الْإِنْسَانَ بِوَالِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُ فِي عَامَيْنِ أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
Artinya, “(Ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, saat dia menasihatinya, ‘Wahai anakku, janganlah mempersekutukan Allah! Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar.’ Kami mewasiatkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyapihnya dalam dua tahun. (Wasiat Kami,) ‘Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu.’ Hanya kepada-Ku (kamu) kembali.” (QS Luqman [31]: 13–14).
Perhatikan frasa وَهُوَ يَعِظُهُ , yang berarti “saat dia menasihatinya”. Frasa ini merupakan kalimat yang menerangkan keadaan dan menunjukkan sesuatu yang berlangsung secara berkesinambungan.
Artinya, nasihat Luqman kepada putranya bukanlah tindakan sesaat, melainkan proses yang terus-menerus dalam membentuk kesadaran anak.
Ada pula keindahan balaghah dalam panggilan يَا بُنَيَّ , yang berarti “Wahai anakku”. Bentuk panggilan ini mengandung kelembutan dan kasih sayang, bukan untuk merendahkan anak.
Panggilan tersebut seolah mencairkan gunung pemisah akibat perbedaan usia antara ayah dan anak dengan air kasih sayang seorang ayah, sebelum menyampaikan perintah dan larangan.
Pendidikan yang bertahap dalam membangun karakter. Luqman memulai pendidikan dengan akidah, sebagaimana dalam firman Allah, لَا تُشْرِكْ بِاللَّهِ , “Janganlah mempersekutukan Allah!”
Kemudian, ia menanamkan kesadaran bahwa setiap perbuatan berada dalam pengetahuan Allah melalui firman-Nya, إِنَّهَا إِنْ تَكُ مِثْقَالَ حَبَّةٍ مِنْ خَرْدَلٍ , “Sesungguhnya jika ada (sesuatu perbuatan) seberat biji sawi…”.
Setelah itu, ia mengajarkan ibadah dan amal melalui firman-Nya, يَا بُنَيَّ أَقِمِ الصَّلَاةَ , “Wahai anakku, tegakkanlah shalat!”
Selanjutnya, ia mengajarkan perilaku dalam kehidupan bermasyarakat melalui firman-Nya, وَلَا تُصَعِّرْ خَدَّكَ لِلنَّاسِ , “Janganlah memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong).”
Mendidik dengan menjelaskan alasan. Ayah yang dicontohkan Alquran tidak sekadar memberikan perintah secara kaku, tetapi juga menjelaskan alasan di baliknya.
Mengapa anak dilarang mempersekutukan Allah? Karena إِنَّ الشِّرْكَ لَظُلْمٌ عَظِيمٌ , “Sesungguhnya mempersekutukan (Allah) itu benar-benar kezaliman yang besar."
Mengapa anak diperintahkan berjalan dengan sederhana dan merendahkan suara? Karena إِنَّ أَنْكَرَ الْأَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيرِ , “Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai.” Inilah sosok ayah yang membentuk anak menjadi pribadi yang berpikir dan memahami, bukan sekadar pengikut yang patuh tanpa mengerti.
Ayah yang dikehendaki Alquran adalah seperti sosok Nabi Ya‘qub AS, yang bersabar menghadapi anak-anaknya meskipun mereka melakukan kesalahan besar dan perbuatan yang sangat buruk.
Beliau memahami bahwa setan dapat menguasai manusia dan menjerumuskannya ke dalam kesalahan.
Renungkanlah, jika anak-anak melakukan kejahatan yang besar. Mereka bersekongkol mencelakai saudara mereka sendiri, melemparkannya ke dasar sumur, berbohong kepada ayahnya, lalu membawa baju Yusuf yang dilumuri darah palsu.
Mereka memisahkan seorang ayah yang sangat mencintai putranya dari buah hatinya sendiri, hingga kedua matanya memutih karena kesedihan, sementara ia menahan kepedihan itu di dalam hatinya.
Namun, perhatikanlah kasih sayang seorang ayah dan adab yang diajarkan Allah. Selama bertahun-tahun berpisah, Nabi Ya‘qub tidak mendoakan keburukan bagi anak-anaknya. Beliau tidak mengusir mereka dari rumah dan tidak memutus harapan agar mereka memperoleh petunjuk.
Ketika Allah menghilangkan kesedihan itu, kebenaran terungkap, dan anak-anaknya menyadari besarnya kesalahan yang telah mereka lakukan, mereka datang kepada ayahnya dengan hati yang hancur dan penuh penyesalan.
Mereka meminta ayahnya memohonkan ampunan untuk mereka, sebagaimana dikisahkan dalam Alquran:
قَالُوا يَا أَبَانَا اسْتَغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا إِنَّا كُنَّا خَاطِئِينَ
Artinya, “Mereka berkata, ‘Wahai ayah kami, mohonkanlah ampunan untuk kami atas dosa-dosa kami. Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang bersalah.’” (QS Yusuf [12]: 97).
Lalu, bagaimana jawaban sang ayah? Apakah beliau memarahi mereka? Apakah beliau mengingatkan mereka tentang tahun-tahun penuh penderitaan dan air mata? Apakah beliau berkata, “Rasakanlah sendiri apa yang dahulu kalian timpakan kepadaku”?
Tidak. Justru pada saat itu tampak kelembutan seorang ayah, kebesaran jiwa dalam memaafkan, dan kelapangan hati. Beliau segera menjawab:
قَالَ سَوْفَ أَسْتَغْفِرُ لَكُمْ رَبِّي ۖ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
Artinya, “Dia (Ya‘qub) berkata, ‘Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Tuhanku. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.’” (QS Yusuf [12]: 98).
Ayah dalam Alquran juga adalah Nabi Nuh AS, yang tidak pernah lelah mengajak putranya menuju petunjuk.
Beliau tidak melepaskan hubungan dengannya hanya karena kedurhakaannya. Sebaliknya, beliau terus mengulurkan tali keselamatan kepadanya hingga kehidupan berakhir.
Allah SWT berfirman:
وَنَادَىٰ نُوحٌ ابْنَهُ وَكَانَ فِي مَعْزِلٍ يَا بُنَيَّ ارْكَب مَّعَنَا وَلَا تَكُن مَّعَ الْكَافِرِينَ [هود: 42].
Artinya, “Nuh memanggil anaknya, ketika anak itu berada di tempat yang jauh terpencil, ‘Wahai anakku, naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah engkau bersama orang-orang kafir.’” (QS Hud [11]: 42).
Perhatikanlah keadaan saat itu. Gelombang air menjulang seperti gunung, kapal terus berlayar, dan kebinasaan tampak di depan mata. Sementara itu, sang anak durhaka dan menentang keyakinan ayahnya.
Meski demikian, Nabi Nuh tidak berkata, “Dia memang pantas menerima akibatnya.” Beliau justru memanggilnya dengan penuh kasih sayang dan kepedihan hati, “Wahai anakku!”
Beliau tetap memanggilnya dengan panggilan seorang ayah yang menyayangi anaknya, berharap hatinya menjadi lunak dan bersedia menerima petunjuk. Ketika anaknya akhirnya tenggelam, gejolak kasih sayang seorang ayah mendorongnya berkata:
رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي
Artinya, “Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku.” (QS Hud [11]: 45).
Jangan mengusir anak yang melakukan kesalahan dari rumah ataupun dari hati kalian. Ulangilah nasihat berkali-kali, bahkan seribu kali, dengan kelembutan dan kasih sayang, bukan dengan caci maki dan hardikan.
Jangan biarkan anak kalian ditelan oleh “gelombang fitnah”, sementara kalian hanya menyaksikan dari kejauhan dan berkata, “Aku sudah menasihatinya, tetapi dia tidak mau mendengarkan.”
Tags : keluarga, qurani, keluarga yang Diinginkan alquran, keluarga ideal, keluarga menurut islam, keluarga qurani, keluarga yang Diinginkan alquran, keluarga ideal, keluarga menurut islam, sosok ibu, sosok ayah, kedudukan ibu, peran ibu dan ayah ,