Headline Artikel   2026/06/02 10:34 WIB

Kopi Liberika dari Kepulauan Meranti Tumbuh Subur di Lahan Gambut yang Miliki Karakteristik Berbeda

Kopi Liberika dari Kepulauan Meranti Tumbuh Subur di Lahan Gambut yang Miliki Karakteristik Berbeda

KOPI LIBERIKA tumbuh subur di lahan gambut dataran rendah dengan ketinggian hanya sekitar 1 hingga 3 mdpl di Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau.

Kopi ini miliki Kkarakteristik berbeda yang biasanya selama ini identik dengan tanaman dataran tinggi yang tumbuh subur pada kawasan sejuk dengan ketinggian sekitar 600 hingga 1.500 meter di atas permukaan laut (mdpl).

Kopi Liberika justru mampu tumbuh sumbur dan memiliki keunikan yang berbeda dibandingkan jenis kopi lainnya di Indonesia.

Tidak sedikit orang yang merasa heran ketika mengetahui wilayah pesisir seperti Kepulauan Meranti ternyata memiliki perkebunan kopi yang cukup luas dan produktif.

“Banyak yang bertanya, ‘Di Meranti ada kopi?’ karena daerahnya dataran rendah. Tetapi kenyataannya memang ada, dan kopi Liberika di Meranti sudah ada sejak lama,” ujar Nyoto, seorang pelaku sekaligus perintis usaha kopi Liberika di Kepulauan Meranti.

Nyoto menceritakan, pada 2013 dirinya pernah mengikuti kegiatan Pekan Olahraga Nasional (PON) di kawasan Sudirman, Jakarta, bersama Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Riau dengan membawa kopi asal Meranti.

Pada masa itu, kopi tersebut belum dikenal luas sebagai kopi Liberika karena hasil penelitian dari Balai Penelitian Tanaman Industri dan Penyegar (Balittri) belum diterbitkan.

“Kalau orang bertanya, ‘Ini kopi apa?’ saya hanya menjawab kopi biasa yang kita minum sehari-hari,” katanya.

Dalam kesempatan itu, banyak pengunjung yang terkejut mengetahui kopi tersebut berasal dari Selatpanjang. Nyoto kemudian menjelaskan bahwa perkebunan kopi berada di Kelurahan Sanggau dan Desa Kedabu Darat, Kecamatan Rangsang Pesisir, yang kerap ditempuh sekitar 15 hingga 20 menit menggunakan pompong dari Selatpanjang.

Menurut data Dinas Perkebunan, luas lahan kopi di wilayah tersebut pada 2015 mencapai sekitar 1.170 hektare.

Pengembangan lahan terus dilakukan melalui program penanaman ulang dan pemanfaatan lahan tidur untuk budidaya kopi Liberika.

Selain mampu tumbuh di lahan gambut, kopi liberika juga dikenal memiliki daya tahan yang cukup baik dibandingkan jenis kopi lain seperti Arabika dan Robusta.

Liberika dinilai lebih tahan terhadap serangan penyakit serta mampu bertahan di kondisi lahan yang kurang ideal. Untuk masa panen, kopi liberika umumnya mengalami dua kali musim panen dalam setahun.

Namun perubahan cuaca yang sulit diprediksi membuat pola panen kini mengalami pergeseran.

“Kadang pada bulan yang biasanya tidak ada kopi matang, justru banyak buah yang masak. Musim panen bisa maju atau mundur karena perubahan cuaca,” ujarnya.

Dalam proses pemetikan, petani diimbau hanya memanen buah kopi yang benar-benar matang guna menjaga kualitas hasil produksi.

Meski demikian, sebagian petani masih memetik buah campuran dengan alasan efisiensi kerja dan keterbatasan tenaga panen.

Untuk menjaga mutu, proses penyortiran kembali dilakukan di tempat pengolahan.

Buah kopi merah dipisahkan dari buah yang belum matang agar kualitas kopi Liberika Meranti tetap terjaga hingga tahap pengolahan akhir.

Berbeda dengan jenis Arabika maupun Robusta, kopi Liberika Meranti memiliki ukuran buah dan biji yang jauh lebih besar.

Bahkan jika tumbuh liar, pohon kopi Liberika dapat mencapai tinggi hingga 17 meter.

Dari sisi produktivitas, kopi Liberika juga memiliki rendemen yang cukup menjanjikan.

Jika dipanen pada puncak musim dan dipilih dari buah yang benar-benar matang, sebanyak 1 kuintal atau 100 kilogram kopi basah mampu menghasilkan sekitar 9 hingga 10 kilogram biji kopi siap olah.

“Dulunya, sekitar tahun 2013, kopi ini dianggap aneh karena bisa tumbuh subur di dataran rendah. Bahkan ada seloroh yang menyebut tanaman ini tidak sehat,” ujar Nyoto mengenang masa lalu.

Kini kopi Liberika asal Kepulauan Meranti justru mulai diperhitungkan di tingkat nasional hingga internasional.

Dalam berbagai kesempatan, Nyoto kerap menceritakan perjalanan panjang kopi Liberika Meranti hingga mampu menembus pasar luar negeri.

Salah satu tonggak penting pengakuan internasional terjadi pada 2015. Saat itu kopi Luwak Liberika Meranti terpilih mewakili Indonesia dalam ajang China-ASEAN Exposition (CAEXPO) di Nanning dan Guangzhou, China.

Perjalanan menuju China kala itu penuh tantangan akibat bencana kabut asap hebat yang melanda Riau.

Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru lumpuh total sehingga delegasi Riau yang terdiri dari 24 pelaku usaha kecil dan menengah tidak dapat terbang langsung menuju Jakarta maupun Singapura.

“Karena mentok akibat asap, kami terpaksa menempuh jalur darat ke Padang. Dari Padang baru kami bisa terbang ke Kuala Lumpur, menginap semalam, dan subuh langsung menuju Guangzhou,” kenangnya.

Di China, kopi Luwak Liberika Meranti berhasil menarik perhatian masyarakat setempat yang mulai beralih dari budaya minum teh ke kopi seiring meningkatnya perekonomian negara tersebut.

Meski hanya membawa sekitar 70 kilogram kopi, seluruh produk habis terjual. Bahkan tiga bungkus terakhir kopi luwak menjadi rebutan pengunjung pameran karena aromanya yang khas.

“Melalui bantuan mahasiswa Indonesia di China yang menjadi penerjemah, kami katakan kopi itu tidak dijual kecuali di hari terakhir pameran. Benar saja, di hari terakhir mereka datang dan membeli sisa kopi tersebut dengan harga 250 Yuan per ons,” tuturnya.

Keberhasilan tersebut menjadi salah satu bukti bahwa kopi liberika Meranti memiliki potensi besar untuk bersaing di pasar global.

Pendiri Erber Coffee, Abdurrahman, mengatakan kopi Liberika memiliki berbagai keunggulan dibandingkan jenis kopi lain yang umum dibudidayakan di Indonesia seperti Arabika, Robusta, maupun Ekselsa.

Menurutnya, ukuran buah dan biji kopi Liberika bisa mencapai dua kali lipat dibandingkan Arabika dan Robusta.

Selain itu, Liberika memiliki kulit buah yang tebal dengan kadar air tinggi sehingga membutuhkan nutrisi besar dalam proses pembentukan buah.

“Di Riau sendiri masih banyak kopi Liberika yang tumbuh liar. Namun beberapa kebun petani sudah mulai dikelola dengan baik, seperti kebun milik Pak Nyoto yang telah dirawat sejak 2013 sehingga pohonnya lebih teratur dan produktif,” ujar Abdurrahman.

Ia menjelaskan, karakter tersebut justru membuat Liberika sangat cocok dikembangkan pada lahan dataran rendah dan tanah gambut yang selama ini dianggap kurang ideal untuk tanaman kopi.

Salah satu keunggulan utama kopi Liberika adalah kemampuannya beradaptasi pada lahan gambut dan tanah dengan tingkat keasaman tinggi.

Kondisi tersebut berbeda dengan sebagian besar spesies kopi lain yang cenderung tidak toleran terhadap tanah asam.

“Banyak lahan gambut yang sebelumnya tidak termanfaatkan kini mulai dikembangkan menjadi kebun kopi Liberika. Selain memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat, tanaman ini juga membantu menjaga lahan gambut,” katanya.

Dari sisi produksi, kopi Liberika memang memiliki rendemen yang lebih rendah dibandingkan kopi lain.

Rendemen Liberika hanya sekitar 10 hingga 12 persen, sedangkan jenis kopi lain dapat mencapai 15 hingga 18 persen. Artinya, dari 10 kilogram buah kopi Liberika hanya dihasilkan sekitar 1 kilogram green bean atau kopi mentah siap olah.

Namun kekurangan tersebut dinilai tertutupi oleh kemampuan tanaman Liberika yang dapat berbuah hampir sepanjang tahun. Kondisi itu menjadi keuntungan tersendiri bagi petani maupun industri kopi.

“Liberika diproyeksikan menjadi kopi unggulan masa depan karena mampu berproduksi sepanjang tahun,” ujar Abdurrahman.

Selain itu, Liberika juga memiliki kadar kafein yang lebih rendah dibandingkan Robusta maupun Arabika. Dari sisi rasa, kopi Liberika dikenal memiliki karakter manis, fruitiness, dan body yang tebal.

Aroma khas menyerupai nangka menjadi identitas unik yang membedakannya dari jenis kopi lain.

Abdurrahman menjelaskan, beberapa tahun lalu pengolahan kopi Liberika masih dilakukan secara sederhana. Kini metode pengolahannya semakin berkembang melalui berbagai teknik seperti natural, full washed, honey, wine, hingga anaerobic process.

Beragam metode tersebut menghasilkan karakter rasa yang semakin kompleks sehingga memperluas pasar kopi Liberika, baik di dalam maupun luar negeri.

Meski kualitas kopi terus meningkat, tantangan utama yang masih dihadapi adalah persoalan distribusi dan logistik. Rantai pasok kopi Liberika Meranti dinilai lebih panjang dibandingkan daerah penghasil kopi lain.

“Dari Kecamatan Rangsang, kopi harus transit terlebih dahulu ke Selatpanjang sebelum akhirnya dikirim ke Pekanbaru,” ujarnya.

Jalur distribusi yang berlapis membuat biaya logistik menjadi lebih tinggi dibandingkan daerah lain yang umumnya hanya membutuhkan satu kali pengiriman langsung dari kebun menuju kota tujuan utama.

Kendati demikian, perkembangan kualitas kopi Liberika Meranti dinilai sangat signifikan.

Pada masa awal pengembangan sekitar 2014, kopi Liberika sempat sulit diterima pasar domestik karena aroma hasil pascapanen yang dianggap terlalu menyengat akibat proses fermentasi berlebih.

Namun melalui proses belajar dan perbaikan pengolahan secara konsisten, cita rasa kopi Liberika berhasil disempurnakan. Kini aroma khas menyerupai nangka justru menjadi daya tarik utama yang membuat kopi Liberika Meranti mampu bersaing di pasar nasional.

Menariknya, sebelum populer di dalam negeri, kopi Liberika Meranti lebih dahulu dikenal di Malaysia dan Singapura.

Keberhasilan kopi Liberika Meranti hingga mencapai posisinya saat ini juga tidak lepas dari dukungan Bank Indonesia (BI) yang mulai melakukan pembinaan sejak 2018.

Pendampingan tersebut dinilai menjadi katalis penting dalam meningkatkan kualitas produk, pemasaran, penguatan kelembagaan petani, hingga pengembangan pasar kopi Liberika Meranti.

Dengan hadirnya kopi Liberika, Provinsi Riau kini memiliki komoditas unggulan baru di sektor perkebunan selain kelapa dan sawit.

“Riau yang tadinya tidak dikenal memiliki komoditas kopi, kini alhamdulillah sudah punya kopi unggulan sendiri. Ini adalah capaian yang patut kita syukuri bersama,” pungkasnya. 

Tags : kopi liberika, kopi asal kepulauan meranti, riau, kopi liberika tumbuh di lahan gambut, kopi liberikamiliki karakteristik berbeda,