PEKANBARU, RIAUPAGI.COM – Kualitas udara di Kota Pekanbaru, Riau, kembali memburuk. Konsentrasi partikulat halus PM2.5 tercatat mencapai 179,3 mikrogram per meter kubik sejak Sabtu 16 Oktober 2026 pukul 10.00 WIB.
Angka tersebut menempatkan kualitas udara di ibu kota Provinsi Riau itu dalam kategori sangat tidak sehat.
Kondisi ini menjadi perhatian di tengah potensi kekaburan udara akibat asap yang masih membayangi wilayah Riau.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai kondisi tersebut karena asap diprakirakan bertahan sepanjang hari hingga dini hari.
Ancaman asap juga terjadi di tengah tingginya jumlah titik panas atau hotspot di Pulau Sumatera. Berdasarkan pemantauan hingga Sabtu pagi, tercatat sebanyak 3.048 titik panas di berbagai wilayah Sumatera.
Sumatera Selatan menjadi provinsi dengan jumlah hotspot terbanyak, yakni 2.558 titik. Sementara itu, Provinsi Riau mencatat sembilan titik panas.
Titik panas lainnya tersebar di Jambi sebanyak 206 titik, Lampung 130 titik, Bangka Belitung 119 titik, Bengkulu 18 titik, serta Aceh dan Sumatera Barat masing-masing tiga titik.
Forecaster BMKG Pekanbaru, Elisa JS Kedang, menjelaskan bahwa sembilan titik panas yang terdeteksi di Riau tersebar di lima wilayah. Kabupaten Bengkalis mencatat tiga titik, disusul Kabupaten Siak dan Kampar masing-masing dua titik.
Sementara itu, Kabupaten Pelalawan dan Kota Dumai masing-masing mencatat satu titik panas.
Meski jumlah titik panas di Sumatera dilaporkan menurun, masyarakat Riau diminta tidak lengah.
Potensi gangguan akibat asap masih dapat terjadi, termasuk penurunan jarak pandang dan memburuknya kualitas udara.
"Meski jumlah hotspot di Sumatera menurun, potensi gangguan akibat asap di Riau belum sepenuhnya berakhir. BMKG masih memprakirakan kekaburan udara akibat asap terjadi sepanjang Sabtu, meskipun hujan berpeluang turun di sejumlah wilayah," kata Elisa.
BMKG juga mengingatkan bahwa peluang hujan di sejumlah wilayah belum serta-merta menghilangkan potensi kekaburan udara akibat asap.
Karena itu, masyarakat diimbau tetap memantau perkembangan informasi cuaca dan kualitas udara serta mengantisipasi dampak kabut asap terhadap aktivitas sehari-hari.
Kondisi kualitas udara yang masuk kategori sangat tidak sehat menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan masyarakat, terutama ketika paparan partikulat halus meningkat dan asap masih berpotensi menyelimuti sejumlah wilayah di Riau.
Sementara Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pekanbaru memastikan tidak ada penambahan titik api atau karhutla di wilayah setempat.
"Kabut asap yang menyelimuti ibu kota Provinsi Riau tersebut diduga merupakan asap kiriman dari sejumlah daerah. Kondisi ini membuat kualitas udara semakin memburuk, dengan konsentrasi partikulat halus PM2.5 mencapai 180,1 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pukul 13.00 WIB berdasarkan data dari laman resmi BMKG," kata Plt Kepala Pelaksana BPBD Kota Pekanbaru, Martin Manoluk, Sabtu (17/10).
Martin Manoluk, menegaskan bahwa hingga saat ini belum ditemukan titik api baru di wilayah Kota Pekanbaru.
"Untuk hotspot atau titik api di Kota Pekanbaru masih nihil, kami memastikan tidak ada titik api baru," tegas Martin.
Meski demikian, BPBD tetap meningkatkan kewaspadaan dengan melakukan patroli di sejumlah kawasan yang rawan terjadi kebakaran lahan.
Langkah tersebut dilakukan untuk mendeteksi potensi kebakaran sejak dini agar tidak meluas dan menimbulkan dampak yang lebih besar.
Martin mengatakan, tim di lapangan akan segera melakukan langkah antisipasi apabila ditemukan titik api baru.
"Apabila nanti ada muncul titik api baru, tentu kita bakal melakukan langkah antisipasi agar kebakaran tidak meluas," terangnya.
Berdasarkan catatan BPBD, kebakaran lahan di Kota Pekanbaru sepanjang Januari hingga September 2026 telah mencapai 196 titik yang tersebar di 14 kecamatan.
Total luas lahan yang terbakar mencapai 106,8 hektare.
Kebakaran tersebut sebelumnya sempat meluas di sejumlah wilayah. Namun, hingga pertengahan Oktober ini, BPBD memastikan belum ada penambahan luas lahan yang terbakar.
"Kebakaran lahan yang kami tangani memang sempat meluas hingga September lalu, namun untuk saat ini nihil penambahan luas lahan terbakar," jelasnya.
Di tengah kondisi kabut asap yang masih menyelimuti kota, BPBD mengimbau masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran lahan.
Warga diminta segera melaporkan kepada petugas apabila menemukan kebakaran di lingkungan sekitar.
Masyarakat juga diingatkan agar tidak membuka lahan dengan cara membakar.
Selain berpotensi memicu kebakaran yang lebih luas, praktik tersebut dapat memperburuk kondisi lingkungan dan kualitas udara, terutama ketika cuaca mendukung penyebaran asap. (rp.elf/*)
Tags : kualitas udara, pekanbaru, kualitas udara PM2.5, kualitas udara tembus 179, 3 mikrogram,