"Libur Panjang ancaman dan turut memberikan andil pada kenaikan kasus Covid-19, libur panjang dapat diperkirakan menaikkan penularan virus corona hingga di atas 100%"
emasuki Tahun Baru 2021 dan libur panjang Tahun Baru 2021 akan menjadi ancaman bagi penyebaran Covid-19 di Riau. "Kita bisa melihat dampak dari libur panjang sendiri, bahkan tiap kali usai libur panjang, jumlah kasus terkonfirmasi Covid-19 di Riau mengalami peningkatan," kata Ketua Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia (PAEI) Riau, dr Wildan Asfan Hasibuan pada media, Rabu (9/12/2020).
Dia berpendapat libur panjang Tahun Baru 2021 bisa menjadi ancaman bagi Riau dalam penyebaran wabah corona (Covid-19. Pendapat dr Wildan cukup beralasan, terbukti dari beberapa kali momen libur panjang usai, jumlah kasus terkonfirmasi Covid-19 di Riau mengalami lonjakan yang cukup signifikan. Guna mengantisipasi terjadinya lonjakan dan penyebaran Covid-19 lebih banyak saat libur panjang, dr Wildan mengingatkan pemerintah dan tim Satgas, agar melakukan pengawasan ketat terhadap beberapa tempat. "Kalau tidak ingin kasus melonjak, pengawasan yang ketat sangat diperlukan, seperti tempat wisata, restoran, pusat perbelanjaan dan cafe-cafe. Karena lokasi-lokasi ini biasanya akan menjadi tempat kerumunan dan berkumpulnya orang banyak," ujarnya.
"Terlebih tempat wisata, biasanya momen libur panjang banyak masyarakat yang mengisi waktu liburnya untuk mengunjungi tempat-tempat wisata. Dan itu yang paling rawan, termasuk restoran atau rumah makan, biasa yang paling banyak dikunjungi saat libur panjang," sebutnya.
"Kita harus bisa memastikan tempat-tempat tersebut menerapkan 3M dengan baik. Terlebih pastikan semua pengunjung menggunakan masker, kemudian jaraknya dibuat sedemikian rupa supaya tidak ada terjadinya kerumunan, serta juga harus disiapkan tempat cuci tangannya," ungkapnya.
Satgas covid-19 mencatat ada kenaikan
Sementara Juru Bicara Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mencatat, libur panjang dapat menaikkan penularan virus corona hingga di atas 100%. Hal ini tercermin dari libur Lebaran, akhir pekan panjang pada Agustus lalu serta libur pada 28 Oktober hingga 1 November. "Naiknya 50% sampai dengan lebih dari 100%. Dan makin ke sini naiknya semakin menggila," kata Wiku dalam sebuah acara di Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jumat (4/12) kemarin.
Menurutnya, kenaikan kasus Covid-19 biasanya terdeteksi pada 10-14 hari setelah libur panjang sesuai masa inkubasi virus. Penyebabnya, masyarakat cenderung beraktivitas di luar rumah dan mendatangi tempat-tempat yang ramai saat liburan. Protokol Kesehatan melalui Gerakan 3M, yakni menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan dengan sabun pun sering terlewat.
Wiku pun mengingatkan agar masyarakat lebih disiplin menjalankan protokol Kesehatan, termasuk saat masa liburan akhir tahun mendatang. Sebab, meski cuti Bersama dipotong tiga hari, masih ada dua akhir pekan panjang atau long weekend pada peringatan Natal dan Tahun Baru. Ia pun mengajak Indonesia agar bercermin dari keberhasilan pengendalian kasus Covid-19 di Thailand. Negeri Gajah Putih itu merupakan negara pertama yang terkena kasus Covid-19 di Asia Tenggara. Namun, kasus Covid-19 di wilayah tersebut terbilang kecil, sebab Thailand memiliki sistem kesehatan yang baik. "Bahkan, nama kementerian di sana ialah Kementerian Kesehatan Masyarakat, jadi mengakar sampai masyarakat," ujar dia.
Selain itu, pimpinan negara Thailand juga memiliki kepedulian yang tinggi terhadap kesehatan sejak sebelum pandemi. Oleh karena itu, negara tersebut memiliki investasi sistem kesehatan serta pelacakan atau surveilans yang berfungsi dengan baik. Sedangkan, Wiku menilai sistem dan surveilans kesehatan di Indonesia sudah terlambat dibandingkan Thailand. "Namun bukan berarti kita tidak bisa mengejar," katanya.
Ia pun mengajak seluruh pihak untuk memperbaiki sistem kesehatan di Indonesia. Masyarakat juga diharapkan menjadi garda terdepan dalam memutus rantai penularan Covid-19. Peningkatan kasus juga terjadi karena kedisiplinan dalam menjalankan protokol kesehatan menurun, terutama sejak libur panjang akhir Oktober 2020. Berdasarkan website resmi bersatudalamcovid.id, persentase kepatuhan memakai masker hanya mencapai 59,2% dan jaga jarak 43,36%.
Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dr. Daeng M. Faqih juga mengatakan, beban rumah sakit dan tenaga kesehatan akan semakin berat jika terjadi lonjakan kasus virus corona. Terlebih lagi, sudah lebih dari 180 dokter dan 114 perawat yang gugur karena tertular Covid-18. Dia pun meminta pemerintah menjaga tenaga kesehatan dengan menekan penularan virus corona. Jika semakin banyak tenaga kesahatan yang gugur, semakin sedikit pasien yang dapat ditangani oleh dokter dan perawat. Itu lantaran satu orang dokter di Indonesia dibutuhkan oleh 5.000 hingga 100.000 penduduk.
Di sisi lain, untuk menghasilkan satu dokter spesialis dibutuhkan waktu 10-15 tahun dengan biaya yang tidak murah. "Jika satu orang dokter meninggal, ada 5.000-100.000 orang yang tidak dilayani dokter. Sayang sekali jika petugas kesehatan sampai meninggal," ujarnya. Selain itu, dia meminta semua pihak menekan penularan virus corona. Sehingga tidak semakin banyak pasien yang dirawat di rumah sakit. Jika semakin banyak pasien Covid-19, risiko tenaga kesehatan tertular virus corona pun semakin tinggi. "Supaya tidak tertular Covid-19, terapkan 3M, harus komitmen dan disiplin," katanya.
Riau kembali naik kasus baru covid-19
Kasus Covid-19 di Provinsi Riau kembali naik hingga Rabu 9 Desember 2020 dan terdapat tambahan 235 kasus, sehingga menempatkan Riau berada di posisi keenam kasus harian tertinggi di Indonesia. Sementara Pemerintah melaporkan penambahan kasus baru Covid-19 yang terkonfirmasi pada hari Rabu (9/12/2020). Ada penambahan 6.058 kasus, sehingga total pasien terkonfirmasi saat ini sudah mencapai 592.900 kasus semenjak virus Corona mewabah di Indonesia.
DKI Jakarta menjadi provinsi dengan penambahan kasus paling tinggi sebanyak 1.217 kasus, disusul Jawa Barat sebanyak 908 kasus dan Jawa Tengah sebanyak 735 kasus baru per 9 Desember. Dikutip dari laman covid19.go.id, hari ini ada sebanyak 3.948 kasus sembuh, sementara kasus kematian Corona tercatat 171 orang. Detail perkembangan virus Corona di Indonesia pada Rabu (9/12/2020), adalah sebagai berikut dikutip dari detik:
Kasus positif bertambah 6.058 menjadi 592.900
Pasien sembuh bertambah 3.948 menjadi 487.445
Pasien meninggal bertambah 171 menjadi 18.171
Sedangkan sebaran 6.058 kasus baru Corona di Indonesia pada Rabu (9/12/2020) adalah sebagai berikut:
DKI Jakarta: 1.217 kasus
Jawa Barat: 908 kasus
Jawa Tengah: 735 kasus
Jawa Timur: 718 kasus
Kalimantan Timur: 279 kasus
Riau: 235 kasus
Kalimantan Tengah: 229 kasus
DI Yogyakarta: 198 kasus
Banten: 166 kasus
Sulawesi Selatan: 157 kasus
Bali: 139 kasus
Sumatera Barat: 125 kasus
Kalimantan Selatan: 83 kasus
Sumatera Utara: 80 kasus
Lampung: 80 kasus
Sulawesi Tenggara: 75 kasus
Jambi: 70 kasus
Sulawesi Tengah: 61 kasus
Papua: 59 kasus
NTB: 57 kasus
Kalimantan Barat: 57 kasus
Sulaweisi Utara: 57 kasus
Papua Barat: 56 kasus
Sumatera Selatan: 40 kasus
Maluku: 39 kasus
Kalimantan Utara: 31 kasus
NTT: 27 kasus
Gorontalo: 24 kasus
Bangka Belitung: 22 kasus
Kepulauan Riau: 12 kasus
Bengkulu: 8 kasus
Sulawesi Barat: 8 kasus
Aceh: 6 kasus (*)
Tags : Cuti Bersama, Libur Panjang di Riau, Satgas Covid-19, Covid-19, Gerakan 3M, Virus Corona,