Kolom Opini   2026/09/19 20:40 WIB

Menyentuh Sisi Kultural

Menyentuh Sisi Kultural

SSEBAGAI seseorang yang pernah diberikan amanah untuk menjaga kedaulatan teritorial Riau selaku Mantan Danrem 031/Wirabima, serta kemudian dipercaya oleh masyarakat untuk ikut menakhodai perahu pemerintahan sebagai Wakil Gubernur dan Gubernur Riau, hari-hari ini hati saya dirundung rasa pilu dan keprihatinan yang mendalam.

Pilu ini bukan karena dendam politik atau keinginan untuk menunjuk hidung siapa yang bersalah.

Hati saya teriris melihat apa yang sedang terjadi di puncak-puncak menara kekuasaan negeri kita.

Rentetan peristiwa hukum yang menimpa para pemimpin di Bumi Lancang Kuning laksana cermin retak yang memantulkan satu kenyataan pahit: telah mulai memudarnya rasa malu, dan semakin jauhnya kita dari kompas moral adat kita sendiri.

Kita semua merindukan Riau yang bermarwah. Namun, marwah tidak jatuh dari langit.

Marwah adalah bangunan yang didirikan di atas fondasi integritas, kejujuran, dan ketakwaan.

Dahulu, almarhum budayawan besar kita, Dr. (HC). H. Tenas Effendy, merajut fondasi itu dengan keringat, air mata, dan ketulusan batin yang luar biasa.

Beliau mewariskan karya monumental berupa Tunjuk Ajar Melayu.

Karya itu adalah mutiara peradaban yang begitu agung, sebuah warisan luhur yang pada tahun 2017 telah resmi disahkan secara nasional sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTB) Indonesia, dan digadang-gadang ke tingkat dunia bersama organisasi internasional seperti UNESCO.

Buku tersebut bukan sekadar susunan bait kata-kata indah. Di dalamnya mengalir darah moralitas Melayu: tentang bagaimana menjadi pemimpin yang amanah, tentang batasan harga diri, dan tentang tebalnya rasa malu jika mengkhianati kepercayaan rakyat.

Tenas Effendy pernah mengingatkan kita dalam petuahnya:

“Apa tanda Melayu jati,

Tahu menjaga marwah dan harga diri.

Apa tanda Melayu berbangsa,

Tahu membedakan hak dan harta”

Namun, di tengah keprihatinan ini, ada satu realitas yang membuat dada saya terasa kian sesak.

Saya benar-benar tidak habis pikir, mengapa hari ini masih ada sebagian oknum di tengah masyarakat kita yang justru mengelu-elukan, membela, bahkan memuja tokoh-tokoh yang rekam jejak masa lalunya jelas-jelas telah sangat melukai hati masyarakat Melayu melalui tindakan korupsi.

Bagi kita orang Melayu yang bersandikan syarak, kita harus jujur pada nurani kita sendiri: korupsi itu sejatinya tidak berbeda dengan mencuri hak rakyat.

Ada ironi mendalam yang sedang terjadi di tanah kita.

Di satu sisi, kita bersuara lantang ingin menegakkan marwah Melayu setinggi-tingginya.

Namun di sisi lain, akibat rasa cinta yang buta dan kefanatikan pada figur-figur tertentu, kita seolah menutup mata dan mentolerir perbuatan mencuri yang mereka lakukan.

Cinta kita pada sosok manusia telah mengalahkan cinta kita pada kebenaran dan nilai-nilai adat.

Sadarlah, wahai saudaraku, masyarakat Melayu yang saya cintai... Mari kita sudahi kepura-puraan ini.

Jangan biarkan air mata almarhum Tenas Effendy tumpah di alam sana melihat warisan luhur yang ia rintis dengan susah payah justru kita khianati sendiri demi pembelaan yang semu.

Menegakkan marwah tidak bisa dilakukan dengan standar ganda. Jika salah, katakan salah. Jika merusak negeri, jangan lagi dipuji.

Melalui pandangan ini, saya tidak ingin menghakimi siapapun. Namun, sebagai orang tua dan mantan pelayan di negeri ini, saya ingin mengetuk pintu hati kita semua—para pejabat, pemangku adat, tokoh masyarakat, hingga generasi muda.

Mari kita jadikan rangkaian ujian ini sebagai momentum muhasabah (evaluasi diri) massal. Mari kita bawa kembali buku Tunjuk Ajar Melayu dari sekadar pajangan di rak-rak perpustakaan atau simbol seremonial, menjadi napas dan kompas dalam setiap kebijakan pemerintahan.

Jangan biarkan warisan takbenda yang diakui dunia ini menjadi asing di tanah kelahirannya sendiri.

Kepada seluruh masyarakat Riau, mari kita rapatkan barisan.

Kita tidak boleh kehilangan harapan. Negeri ini didirikan di atas doa para ulama dan tetesan keringat para pejuang. Mari bersama-sama, mulai saat ini, kita tegakkan kembali marwah masyarakat Melayu yang sesungguhnya. 

Kita kembalikan tuah Bumi Lancang Kuning dengan melahirkan pemimpin-pemimpin masa depan yang hanya takut kepada Tuhan, yang meletakkan hukum di atas segalanya, dan yang memiliki rasa malu yang tebal untuk berbuat nista.

Semoga Allah SWT senantiasa mengampuni kekhilafan kita, menjaga Bumi Lancang Kuning, dan mengembalikan kejayaan nilai-nilai Melayu dalam kehidupan kita.

Membeli Keripik di Pasar Bawah,

Naik sepeda lalu terjatuh,

Wabillahi taufiq wal hidayah,

Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Tags : Menyentuh Sisi Kultural, Edy Natar Nasution, Koordnator GMKR di Riau,