BAGI warga yang tinggal di pinggiran Sungai Siak sudah bersahabat dengan banjir sejak 'zaman nenek moyang'.
"Nek, lihat itu punya aku," tunjuk Laila, bocah perempuan berusia 10 tahun ke neneknya yang ada di sampingnya. Yang ditunjuk adalah sebuah mainan plastik yang hanyut di bawah mereka.
Laila bersama neneknya Muneh (63 tahun) sedang menghabiskan waktu bercengkerama di balkon sempit lantai rumahnya di Gang Kampung Melayu, Tanjung Rhu, Pekanbaru.
Lantai satu rumah mereka selalu terendam air setinggi satu meter.
Bertiga bersama adiknya, Adnan (5), mereka hanya bisa memandangi cokelatnya air banjir yang membawa sejumlah sampah terapung di bawah mereka. Tak ada yang bisa mereka lakukan ketika rumahnya dikepung banjir.
Rumah mereka yang berada di Kampung Tanjung Rhu, selalu terendam banjir saban tahun.
Muneh memutuskan tidak mengungsi dan tinggal di rumahnya karena "masih bisa ditempati."
Di rumah kayu berukuran 4 X 12 itu, Muneh tinggal bersama suaminya dan dua anak, dua menantu, dan empat orang cucu.
Mereka memilih bertahan dan tetap tinggal di rumah karena sudah terbiasa dengan banjir.
Muneh sepanjang umurnya yang lebih dari enam dekade 'menikmati' banjir sebagai rutinitas tahunan. Bahkan ia tak ingin pindah dari rumahnya yang ada persis di lingkungan sungai Siak itu.
"Kami sudah betah tinggal di sini," kata Muneh, yang diamini juga oleh suaminya Abbin (67 tahun). Kedekatan dengan tetangga dan jalinan kekerabatan menjadi alasan mereka tidak mau pindah.
Menurut dia, banyak warga Kampung itu yang saling menikah sehingga hampir semua punya kedekatan kekeluargaan.
Muneh dan Abbin adalah contohnya. Mereka adalah tetangga yang kemudian menikah.
Mereka lahir dan besar di Kampung itu dan sudah terbiasa dengan banjir tahunan sejak kecil. Karena sudah terbiasa itu, mereka sudah siap ketika banjir menerjang.
Menurut Abbin, mereka mendapatkan info bakal banjir dari berita televisi. Selain itu, RS yang ada di dekat rumahnya juga memberikan peringatan lewat pengeras suara bahwa pintu air sudah berada di titik Siaga I.
"Ada pengumuman seperti itu, kami langsung siap-siap," kata dia.
Mereka lantas mengepak semua barang yang ada. Ketika air tiba biasanya, mereka sudah selesai mengungsikan semua barang mereka ketempat lebih aman, termasuk kompor dan persediaan makanan dan minuman.
Bagaimana dengan kebutuhan buang air kecil dan buang air besar? "Kami harus ke toilet umum yang ada di ujung sana. Di situ tidak kena banjir," kata Abbin menunjuk arah yang dimaksud.
Kebiasaan menerima banjir itu kini ditularkan ke cucunya.
"Mereka juga menikmati. Mau bagaimana lagi," kata Abbin.
Di genangan air yang bercampur dengan sampah di area banjir Kampung Tanjung Rhu, gampang ditemui anak-anak yang sedang bermain.
Mereka bermain air dengan sesama temannya, berenang, dan bercanda layaknya sedang berada di kolam renang buat sarana hiburan.
Bedanya, anak-anak tepi sungai Siak ini bertemankan sampah yang terapung dan air yang cokelat dan keruh.
Selain Abbin dan Muneh, warga Kampung Pulo lainnya juga mengakui hal yang sama; bahwa banjir adalah rutinitas yang selalu mereka hadapi. Mereka tetap tinggal di kampung karena sudah terbiasa dengan banjir.
Andrean, warga lainnya bahkan mengatakan, banjir juga membawa 'berkah' bagi mereka.
"Kami jadi kompak dan ada rasa kekeluargaan," kata pria 45 tahun itu.
Sama seperti Muneh, Andrean juga menularkan kebiasaan menghadapi dan bersahabat dengan banjir ke dua anaknya.
"Itu anak saya sedang main air," ia menunjuk ke putranya yang berumur tujuh tahun.
Berkah lain dari banjir, kata Andrean, "Anak umur lima tahun di kampung sini sudah bisa berenang."
Selain karena kekerabatan dan kekeluargaan yang tercipta di kampung mereka, para korban banjir ini sejatinya tidak punya pilihan lain. Mereka kebanyakan adalah dari keluarga tidak mampu.
Seperti yang diutarakan Rusmiyati, ia sebenarnya ingin pindah, tapi tidak punya pilihan lain.
Menjual rumahnya di Kampung Tanjung Rhu itu nyaris tidak ada nilai dan harganya.
"Butuh menjual sepuluh rumah di kampung ini untuk bisa membeli satu rumah di pinggiran kota Pekanbaru," kata Rusmiyati.
Perempuan 48 tahun itu tinggal serumah dengan suami, anak, menantu, dan dua orang cucunya.
Di Kota Pekanbaru, ada beberapa wilayah yang memang selalu langganan banjir ketika hujan deras melanda area puncak sehingga membuat debit air Sungai Siak meningkat drastis.
Tags : sungai siak, pekanbaru, warga tepian sungai siak, warga bersahabat dengan banjir,