JAKARTA— Persahabatan dengan orang-orang saleh bukan hanya mendatangkan keberkahan, tetapi juga menjadi benteng yang menjaga seseorang dari kesalahan dan penyimpangan.
Allah Ta'ala berfirman:
رَبَّنَآ ءَامَنَّا بِمَآ أَنزَلْتَ وَٱتَّبَعْنَا ٱلرَّسُولَ فَٱكْتُبْنَا مَعَ ٱلشَّـٰهِدِينَ ٥٣
“Ya Tuhan kami, kami telah beriman kepada apa yang Engkau turunkan dan kami telah mengikuti Rasul, karena itu tetapkanlah kami bersama golongan orang yang memberikan kesaksian." (QS Ali Imran: 53)
Perhatikanlah doa yang diucapkan oleh para hawariyyun (pengikut setia Nabi Isa AS): “Maka catatlah kami bersama orang-orang yang menjadi saksi.”
Ungkapan ini mengajarkan kepada kita betapa agungnya nilai kebersamaan dengan orang-orang saleh, serta besarnya pengaruh ketika seseorang tergabung dalam barisan orang-orang beriman.
Mereka memohon agar Allah mencatat mereka bersama orang-orang yang telah bersaksi atas kebenaran, mengakui keesaan Allah, membenarkan para rasul-Nya, serta mengikuti segala perintah dan larangan-Nya.
Mereka berharap dapat dihimpunkan bersama golongan itu dalam kemuliaan yang Allah karuniakan kepada mereka, memperoleh kedudukan yang sama, dan dimasukkan ke tempat yang sama penuh kemuliaan.
Sebab, orang yang bersama mereka tidak akan merugi dan tidak akan celaka. Siapa yang berada dalam lingkungan mereka akan mendapatkan bagian dari kemuliaan yang mereka peroleh, merasakan kehormatan yang mereka rasakan, serta memperoleh keberkahan yang Allah limpahkan kepada mereka.
Inilah makna yang ditegaskan oleh Rasulullah SAW dalam sebuah hadis yang sangat agung.
Dari Abu Hurairah RA, Nabi SAW bersabda:
إِنَّ لِلَّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى مَلَائِكَةً سَيَّارَةً، فُضُلًا يَتَتَبَّعُونَ مَجَالِسَ الذِّكْرِ، فَإِذَا وَجَدُوا مَجْلِسًا فِيهِ ذِكْرٌ قَعَدُوا مَعَهُمْ، وَحَفَّ بَعْضُهُمْ بَعْضًا بِأَجْنِحَتِهِمْ، حَتَّى يَمْلَئُوا مَا بَيْنَهُمْ وَبَيْنَ السَّمَاءِ الدُّنْيَا، فَإِذَا تَفَرَّقُوا عَرَجُوا وَصَعِدُوا إِلَى السَّمَاءِ،
قَالَ: فَيَسْأَلُهُمُ اللهُ عَزَّ وَجَلَّ، وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ: مِنْ أَيْنَ جِئْتُمْ؟ فَيَقُولُونَ: جِئْنَا مِنْ عِنْدِ عِبَادٍ لَكَ فِي الْأَرْضِ، يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيُهَلِّلُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ وَيَسْأَلُونَكَ، قَالَ: وَمَاذَا يَسْأَلُونِي؟
قَالُوا: يَسْأَلُونَكَ جَنَّتَكَ، قَالَ: وَهَلْ رَأَوْا جَنَّتِي؟ قَالُوا: لَا، أَيْ رَبِّ قَالَ: فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا جَنَّتِي؟ قَالُوا: وَيَسْتَجِيرُونَكَ، قَالَ: وَمِمَّ يَسْتَجِيرُونَنِي؟ قَالُوا: مِنْ نَارِكَ يَا رَبِّ، قَالَ: وَهَلْ رَأَوْا نَارِي؟
قَالُوا: لَا، قَالَ: فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْا نَارِي؟ قَالُوا: وَيَسْتَغْفِرُونَكَ، قَالَ: فَيَقُولُ: قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ فَأَعْطَيْتُهُمْ مَا سَأَلُوا، وَأَجَرْتُهُمْ مِمَّا اسْتَجَارُوا، قَالَ: فَيَقُولُونَ: رَبِّ فِيهِمْ فُلَانٌ عَبْدٌ خَطَّاءٌ، إِنَّمَا مَرَّ فَجَلَسَ مَعَهُمْ، قَالَ: فَيَقُولُ: وَلَهُ غَفَرْتُ هُمُ الْقَوْمُ لَا يَشْقَى بِهِمْ جَلِيسُهُمْ
“Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta'ala memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling di jalan-jalan untuk mencari majelis-majelis zikir. Apabila mereka menemukan suatu majelis yang di dalamnya terdapat zikir kepada Allah, mereka duduk bersama orang-orang itu. Sebagian malaikat menaungi sebagian yang lain dengan sayap-sayap mereka hingga memenuhi ruang antara mereka dan langit dunia.
Ketika majelis itu selesai, para malaikat naik ke langit. Lalu Allah bertanya kepada mereka, padahal Dia lebih mengetahui keadaan mereka, 'Dari mana kalian datang?'
Mereka menjawab, 'Kami datang dari hamba-hamba-Mu di bumi. Mereka bertasbih, bertakbir, bertahlil, memuji-Mu dan berdoa kepada-Mu.'
Allah berfirman, 'Apa yang mereka minta kepada-Ku?' Mereka menjawab, 'Mereka meminta surga-Mu.'
Allah berfirman, 'Apakah mereka telah melihat surga-Ku?' Mereka menjawab, 'Belum, wahai Tuhan kami.'
Allah berfirman, 'Bagaimana jika mereka telah melihat surga-Ku?' Para malaikat berkata, 'Mereka juga memohon perlindungan kepada-Mu.' Allah berfirman, 'Dari apa mereka meminta perlindungan?'
Mereka menjawab, 'Dari neraka-Mu, wahai Tuhan kami.' Allah berfirman, 'Apakah mereka telah melihat neraka-Ku?' Mereka menjawab, 'Belum.'
Allah berfirman, 'Bagaimana jika mereka telah melihat neraka-Ku?' Para malaikat berkata, 'Mereka juga memohon ampunan kepada-Mu.'
Maka Allah berfirman, 'Aku telah mengampuni mereka, Aku telah memberikan apa yang mereka minta, dan Aku telah melindungi mereka dari apa yang mereka takutkan.
Para malaikat berkata, 'Wahai Tuhan, di antara mereka ada seorang hamba yang banyak berbuat dosa. Ia hanya lewat lalu ikut duduk bersama mereka.'
Allah berfirman, 'Aku pun telah mengampuninya. Mereka adalah suatu kaum yang tidak akan celaka orang yang duduk bersama mereka.'” (HR Al-Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan betapa besar keberkahan bergaul dengan orang-orang saleh. Bahkan seseorang yang datang bukan karena niat menghadiri majelis zikir, melainkan hanya singgah dan duduk bersama mereka, tetap mendapatkan limpahan rahmat dan ampunan Allah karena keberkahan kebersamaan tersebut.
Seorang ulama tabiin terkemuka, Mujahid sebagaimana dikutip Abu Naim dalam Hilyat al-Awliya’, berkata:
إِنَّ الْمُسْلِمَ لَوْ لَمْ يُصِبْ مِنْ أَخِيهِ إِلَّا أَنَّ حَيَاءَهُ مِنْهُ يَمْنَعُهُ مِنَ الْمَعَاصِي لَكَفَاهُ
“Seandainya seorang Muslim tidak mendapatkan manfaat apa pun dari saudaranya selain rasa malu kepadanya yang membuatnya menjauhi maksiat, maka itu sudah cukup baginya.”
Perkataan ini mengandung hikmah yang mendalam. Kehadiran teman yang baik sering kali menjadi pengingat yang hidup.
Seseorang mungkin mampu mengalahkan berbagai nasihat yang ia dengar, tetapi ia akan merasa malu melakukan maksiat di hadapan sahabat salehnya. Rasa malu itu menjadi penjaga yang menghalanginya dari dosa.
Karena itulah para ulama selalu menekankan pentingnya memilih lingkungan yang baik. Sebab tabiat manusia mudah dipengaruhi oleh orang-orang yang berada di sekitarnya.
Dalam sebuah hadis, Sa'id bin Yazid Al-Azdi berkata bahwa ia pernah meminta nasihat kepada Rasulullah SAW. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, berilah aku wasiat.”
Beliau bersabda:
أُوصِيكَ أَنْ تَسْتَحِيَ مِنَ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ، كَمَا تَسْتَحِي مِنَ الرَّجُلِ الصَّالِحِ
“Aku berwasiat kepadamu agar engkau malu kepada Allah Azza wa Jalla sebagaimana engkau malu kepada seorang lelaki saleh.” (HR Ahmad)
Betapa banyak orang yang menahan diri dari perbuatan buruk karena khawatir dilihat atau diketahui oleh orang saleh yang dihormatinya. Rasulullah SAW mengarahkan agar rasa malu yang sama, bahkan lebih besar lagi, ditujukan kepada Allah Yang Maha Melihat dan Maha Mengetahui segala sesuatu.
Jika keberadaan seorang manusia saleh saja mampu membuat kita menjaga sikap dan ucapan, maka seharusnya kesadaran bahwa Allah selalu melihat kita menjadi dorongan yang lebih kuat untuk menjauhi dosa dan memperbanyak ketaatan.
Tags : teman, pertemanan sejati, persahabatan sejati, berkumpul orang saleh, bersahabat dengan orang saleh,