Pekanbaru   2026/08/25 15:33 WIB

Pertempuran Melawan Asap Karhutla, 'Sepertinya Sudah tak Terkendali dan Hak Hidup Terancam'

Pertempuran Melawan Asap Karhutla, 'Sepertinya Sudah tak Terkendali dan Hak Hidup Terancam'

PEKANBARU, RIAUPAGI.COM - Kabut asap yang diduga berasal dari hasil kebakaran hutan dan lahan (Karhutla), hingga Selasa 25 Agustus 2026 pagi ini terpantau menyelimuti Kota Pekanbaru.

Tak hanya itu, bau asap juga mulai menyengat yang disesalkan warga.

Kabut asap sangat terlihat di sekitar Panam, Jalan Arifin Achmad dan di jalan HR Soebrantas.

Meski jarak pandang masih aman namun kondisi ini dikeluhkan banyak warga.

"Kabut asap mulai menyengat dan membuat mata perih," kata salah seorang warga dalam pesan singkatnya.

Ia berharap pemerintah segera mengatasi kebakaran hutan dan lahan agar tidak meluas.

Untuk diketahui berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pekanbaru, konsentrasi partikulat PM2.5 terpantau masuk kategori tidak sehat.

Sementara itu, luas lahan yang terbakar di Kota Pekanbaru sepanjang Januari hingga 9 Agustus 2026 mencapai 42,14 hektare.

"Kondisi ini membuat kita harus melakukan persiapan untuk antisipasi bencana kebakaran lahan," kata Walikota Pekanbaru Agung Nugroho, Selasa (11/8).

Walikota Pekanbaru, Agung Nugroho, meminta kesiapsiagaan menghadapi potensi kebakaran lahan ditingkatkan menyusul kondisi kemarau dan fenomena El Nino.

Agung mengatakan, kondisi cuaca kering meningkatkan risiko kebakaran di sejumlah wilayah rawan.

Pemko Pekanbaru pun memperkuat langkah antisipasi, terlebih kualitas udara di Kota Pekanbaru sempat berada dalam kategori tidak sehat.

Sementara Dinas Kesehatan (Diskes) Kota Pekanbaru mengimbau masyarakat untuk mengurangi aktivitas di luar rumah selama kondisi udara memburuk.

Seperti diketahui, kualitas udara di Kota Pekanbaru pada Selasa (25/8/2026) pagi berada pada kategori berbahaya.

Berdasarkan data situs resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), konsentrasi partikulat halus atau PM2.5 mencapai 339,9 mikrogram per meter kubik (µg/m³) pada pukul 05.00 WIB.

Angka tersebut menunjukkan tingginya konsentrasi partikel halus di udara yang berpotensi berdampak terhadap kesehatan masyarakat, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan warga dengan gangguan pernapasan.

"Pertama, kami mengimbau warga agar mengurangi aktivitas di luar rumah," kata Sekretaris Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru, Deddy Sambudi.

Deddy mengatakan, apabila aktivitas di luar rumah tidak dapat dihindari, masyarakat diminta menggunakan masker sebagai upaya mengurangi paparan udara yang tercemar.

Selain itu, warga juga diimbau memperbanyak konsumsi air putih untuk menjaga kondisi tubuh serta segera mendatangi fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan akibat kabut asap.

"Segera mencari pelayanan kesehatan Puskesmas jika ada keluhan kesehatan," ujarnya.

Diskes Pekanbaru menyebutkan terdapat 21 Puskesmas yang siap melayani masyarakat dan tersebar di 15 kecamatan.

Sementara itu, dampak kualitas udara buruk mulai terlihat dari meningkatnya kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).

Hingga saat ini, tercatat 376 kasus ISPA ditangani sejumlah layanan kesehatan di Pekanbaru sejak awal Agustus 2026. (*)

Tags : asap karhutla, kebakaran hutan dan lahan, bencana, deforestasi, emisi karbon, hutan, kebakaran hutan, kerusakan lingkungan, lahan gambut, pencemaran,