JAKARTA -- Inflasi tahunan Indonesia pada Januari 2026 tercatat menembus 3,55 persen (yoy), melewati target di kisaran 2,5 persen plus minus 1 persen. Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, inflasi diperkirakan akan segera mereda dalam dua bulan ke depan.
“Tekanan yang ada diperkirakan bersifat sementara dan diproyeksikan mereda memasuki bulan Maret 2026,” kata Purbaya kepada wartawan di Kompleks DPR RI, Jakarta, Rabu (4/2/2026).
Ia menuturkan, dibandingkan dengan berbagai negara lain, inflasi Indonesia masih tergolong rendah dan terkendali. Inflasi yang stabil memberi ruang bagi aktivitas ekonomi untuk terus bergerak. Terutama inflasi inti yang rendah, kata Purbaya, memberikan ruang bagi pertumbuhan ekonomi yang lebih ekspansif tanpa menimbulkan tekanan di sisi harga.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan Indonesia pada Januari 2026 mencapai 3,55 persen (yoy), lebih tinggi dibandingkan inflasi pada bulan sebelumnya yang berada di angka 2,92 persen. Meski melebihi target pemerintah, Purbaya menyebut inflasi tetap terjaga dan daya beli masyarakat masih terpelihara.
“Peningkatan inflasi pada Januari 2026 terutama akibat aspek teknis base effect indeks harga pada Januari 2025 yang sangat rendah karena adanya diskon tarif listrik pemerintah,” ujarnya.
Adapun inflasi volatile food berada pada level rendah setelah periode Natal dan Tahun Baru 2025/2026. Purbaya menyebut suplai yang membaik berkontribusi menjaga inflasi volatile food. Koordinasi Tim Pengendali Inflasi Pusat (TPIP) dan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) juga semakin kuat dan telah menghasilkan 145 regulasi distribusi pangan.
“Inflasi inti di level 2,45 persen stabil dan berada dalam kisaran sasaran. Konsumsi masyarakat tetap kuat sehingga menjaga stabilitas inflasi inti,” tuturnya.
Sementara itu, inflasi administered price berada di level 9,71 persen pada Januari 2026, yang lebih dipengaruhi oleh efek teknis diskon tarif listrik pada awal 2025. “Secara keseluruhan, inflasi IHK berada pada 3,55 persen, sedikit di atas sasaran tetapi masih dalam rentang yang dapat dikendalikan,” tegasnya.
BI Juga Yakin Inflasi akan Turun
BI meyakini pergerakan inflasi ke depan akan lebih rendah dari capaian di awal 2026 tersebut.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, secara bulanan/month to month (mtm) IHK Januari 2026 tercatat deflasi sebesar 0,15 persen. Dipengaruhi oleh inflasi inti yang secara umum terkendali serta deflasi pada kelompok volatile food dan administered prices.
“Dengan perkembangan tersebut, inflasi IHK secara tahunan tercatat sebesar 3,55 persen (yoy), sedikit meningkat dibandingkan dengan realisasi pada bulan sebelumnya sebesar 2,92 persen (yoy). Ke depan, Bank Indonesia meyakini inflasi 2026 dan 2027 secara tahunan akan menurun sehingga tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1 persen,” kata Kepala Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso dalam keterangannya, Selasa (3/2/2026) lalu.
Denny menuturkan, perkiraan tersebut didukung oleh konsistensi kebijakan moneter dan eratnya sinergi pengendalian inflasi antara BI dan Pemerintah (Pusat dan Daerah) dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah (TPIP dan TPID), dan penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional.
“Serta berakhirnya pengaruh base effect akibat rendahnya inflasi Januari 2025 karena implementasi kebijakan diskon tarif listrik,” terangnya.
BI menilai inflasi inti tetap terkendali. Tercatat, inflasi inti pada Januari 2026 mencapai sebesar 0,37 persen (mtm), sedikit lebih tinggi dari realisasi pada bulan sebelumnya sebesar 0,20 persen (mtm). Perkembangan inflasi inti tersebut dipengaruhi oleh kenaikan harga komoditas emas global, di tengah ekspektasi inflasi yang tetap terjaga.
Realisasi inflasi inti pada Januari 2026 disumbang terutama oleh inflasi komoditas emas perhiasan, sewa rumah, dan sepeda motor. Secara tahunan, inflasi inti Januari 2026 tercatat sebesar 2,45 persen (yoy), meningkat dari bulan sebelumnya yang sebesar 2,38 persen (yoy).
Sementara itu, kelompok volatile food mengalami deflasi. Kelompok volatile food pada Januari 2026 mengalami deflasi sebesar 1,96 persen (mtm), lebih rendah dari realisasi bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 2,74 persen (mtm). Deflasi kelompok volatile food disumbang terutama oleh komoditas cabai merah, cabai rawit, dan bawang merah, seiring dengan peningkatan pasokan pada masa panen.
Secara tahunan, kelompok volatile food mengalami inflasi sebesar 1,14 persen (yoy), lebih rendah dari bulan sebelumnya sebesar 6,21 persen (yoy). Ke depan, BI memperkirakan inflasi volatile food terkendali, didukung oleh eratnya sinergi antara Bank Indonesia bersama TPIP dan TPID dan penguatan implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional.
Adapun, kelompok administered prices tercatat deflasi juga. Kelompok administered prices pada Januari 2026 mengalami deflasi sebesar 0,32 persen (mtm), lebih rendah dibandingkan dengan realisasi bulan sebelumnya yang mengalami inflasi sebesar 0,37 persen (mtm). Komoditas penyumbang deflasi bulanan administered prices terutama bensin, tarif angkutan udara, dan tarif angkutan antarkota akibat penurunan harga BBM nonsubsidi dan normalisasi mobilitas pasca Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN) Natal dan Tahun Baru.
Secara tahunan, kelompok administered prices tercatat inflasi sebesar 9,71 persen (yoy), lebih tinggi dari inflasi bulan sebelumnya sebesar 1,93 persen (yoy). Terutama diakibatkan oleh faktor base effect seiring implementasi kebijakan diskon tarif listrik rumah tangga sebesar 50 persen pada Januari—Februari 2025.
Tags : inflasi, bank indonesia, bi, badan pusat statistik, bps, deflasi inflasi, inti volatile food administered prices, kebijakan moneter, program ketahanan pangan nasional, sinergi pengendalian inflasi,