JAKARTA – Rangkaian bencana yang melanda akhir-akhir ini, mulai dari guncangan gempa bumi, erupsi gunung berapi, hingga musibah kecelakaan transportasi di lautan harus disikapi oleh umat Islam dengan kacamata keimanan yang jernih dan utuh.
Dalam pandangan Islam, musibah tidak selamanya hadir sebagai bentuk kemurkaan, melainkan bisa menjadi sarana peringatan (tazkirah), penghapus dosa, dan media (sarana) peninggi derajat bagi orang-orang yang beriman.
Sekretaris Bidang Kerukunan Umat Beragama (KUB) dan Pembinaan Mualaf Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII), Ustadz Ahmad Zuhdi, menyampaikan musibah ini menjadi cermin bagi semua untuk kembali melakukan refleksi dan kontemplasi (muḥasabah), memperbaiki hubungan kepada Sang Maha Pencipta (hablum minallah), serta membenahi interaksi terhadap sesama manusia dan alam sekitar.
Karakteristik seorang mukmin sejati dalam menghadapi segala bentuk dinamika kehidupan telah digambarkan dengan indah oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya.
عَجَبًا لأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ
"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, sungguh semua urusannya adalah baik baginya. Yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali orang mukmin. Jika ia mendapatkan kesenangan ia bersyukur, maka itu adalah kebaikan baginya, dan jika ia tertimpa kemalangan ia bersabar, maka itu pun adalah kebaikan baginya." (HR Imam Muslim).
Ustadz Zuhdi menjelaskan, sebagai bentuk peringatan dari Allah, fenomena alam ini sekaligus menghadirkan penggambaran miniatur dari kehancuran maha dahsyat yang kelak akan terjadi pada hari kiamat.
"Peristiwa ini sepantasnya menghentakkan kesadaran betapa lemahnya daya manusia di hadapan kemahakuasaan-Nya," kata Ustadz Zuhdi kepada Republika.co.id, Senin (14/9/2026).
Ustadz Zuhdi mengingatkan, jika guncangan dan musibah skala dunia saja sudah sanggup melahirkan ketakutan luar biasa serta melumpuhkan kehidupan, maka fenomena ini harus menjadi pengingat yang menyentuh hati agar umat tidak terbuai oleh kehidupan dunia yang fana (sementara).
"Momen ini adalah waktu yang paling tepat untuk memperbanyak istigfar, memperbanyak taubat, dan memperkokoh bekal ketakwaan sebelum datangnya pertanggungjawaban yang hakiki di akhirat," ujar Ustadz Zuhdi yang juga Ketua Bidang Garapan Informasi dan Komunikasi Pimpinan Wilayah Persis DKI Jakarta.
Menghadapi rentetan musibah ini, Ustadz Zuhdi menyampaikan, umat Islam diimbau untuk memadukan dua langkah utama, yaitu ikhtiar fisik dan ikhtiar metafisik secara seimbang.
Secara fisik, umat dituntut untuk meningkatkan kewaspadaan, mematuhi standar keselamatan serta sistem mitigasi bencana yang ditetapkan oleh BNPB, Basarnas, dan menjauhi segala bentuk kelalaian yang berpotensi memicu bahaya.
Sementara secara metafisik dengan memperbanyak doa, zikir, baca Alquran, memohon ampunan, serta memanjatkan perlindungan bagi keselamatan bangsa agar Allah SWT mengangkat segala bentuk kemudharatan dan kesulitan dari Tanah Air.
Di samping itu, beruntunnya musibah ini harus dijadikan momentum untuk memperkuat pilar solidaritas sosial melalui ibadah sedekah.
عبد الله بن مسعود قال: قال رسول الله – صلى الله عليه وسلم – حصنوا أموالكم بالزكاة، وداووا مرضاكم بالصدقة، وأعدوا للبلاء الدعاء
Dari Abdullah bin Mas’ud RA, dia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Jagalah harta kalian dengan zakat. Obatilah orang yang sakit di antara kalian dengan sedekah. Dan tolaklah bala’ dengan doa.” (HR Thabrani dalam kitab Al-Kabir dan Abu Naim dalam al-Hilyah)
Ustadz Zuhdi menjelaskan, sedekah berfungsi menolak bala karena tindakan memberi mampu memadamkan murka Allah, melahirkan energi kasih sayang di tengah masyarakat, serta menggerakkan pertolongan sosial bagi mereka yang lemah (mustadh'afin), ketika kita menolong hamba-Nya yang sedang mengalami kesulitan, maka Allah pun akan melimpahkan rahmat-Nya.
Ustadz Zuhdi mengatakan, maka Allah mengingatkan dalam Surah Al-Ankabut Ayat 2. Allah SWT berfirman:
اَحَسِبَ النَّاسُ اَنْ يُّتْرَكُوْٓا اَنْ يَّقُوْلُوْٓا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُوْنَ
“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (hanya dengan) berkata, “Kami telah beriman,” sedangkan mereka tidak diuji? (QS Al-Ankabut Ayat 2)
Ustaz Zuhdi menerangkan, ujian kehidupan sejatinya dapat membawa seorang hamba pada dua kemungkinan, yaitu menjadikannya mulia atau justru menghinakannya. Ujian akan menghinakan mereka yang menyalahkan takdir, kufur, dan berpaling dari petunjuk-Nya.
Sebaliknya, bagi seorang mukmin yang mampu melewati rentetan ujian ini dengan fondasi iman, ikhtiar yang sungguh-sungguh, serta ta'awun dan takaful, musibah tersebut justru akan menjadi sarana pembersihan dosa yang menaikkan kelas keimanan serta mengangkat derajatnya menjadi lebih mulia di sisi Allah SWT.
Tags : musibah, cara menghadapi musibah, bencana, cara menghadapi bencana, sabar, sedekah,