JAKARTA -- Generasi Z tercatat sebagai kelompok Muslim Indonesia dengan tingkat partisipasi terendah dalam sejumlah ibadah sosial-ekonomi Islam, mulai dari qurban, wakaf, hingga zakat maal.
Temuan ini terungkap dalam Survei Nasional ZISWAF 2026 yang dilakukan Indikator Politik Indonesia.
"Generasi X dan Generasi Milenial itu lebih tinggi. Gen-Z nya belum cukup. Mungkin karena belum banyak juga yang bekerja. Tapi yang paling rendah memang Gen-Z," ujar Direktur Eksekutif Indikator Politik Indonesia, Prof Burhanuddin Muhtadi saat memaparkan hasil survei di Kantor Dompet Dhuafa, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Jumat (5/6).
Survei menunjukkan hanya 5,2 persen Gen Z yang berkurban dalam setahun terakhir.
Angka ini jauh di bawah kelompok Baby Boomers yang mencapai 15,3 persen dan Generasi X sebesar 14,3 persen.
Sementara kalangan milenial berada di angka 8,6 persen.
Kondisi serupa terlihat pada praktik wakaf. Hanya 4,7 persen Gen Z yang tercatat berwakaf dalam 12 bulan terakhir.
Sebagai perbandingan, tingkat wakaf pada Generasi X mencapai 6,9 persen dan Baby Boomers sebesar 7,1 persen.
Dalam pembayaran zakat maal, partisipasi Gen Z juga menjadi yang paling rendah. Survei mencatat hanya 6,4 persen responden Gen Z yang membayar zakat maal dalam setahun terakhir.
Angka tersebut terpaut cukup jauh dibanding Generasi X dan kelompok usia 30-39 tahun yang masing-masing mencapai 10,6 persen.
Meski demikian, dalam aktivitas infak dan sedekah, partisipasi Gen Z relatif tidak jauh berbeda dengan kelompok usia lainnya.
Sebanyak 74,9 persen Gen Z mengaku memberikan infak atau sedekah dalam satu bulan terakhir. Angka ini hampir setara dengan rata-rata nasional yang mencapai 74,8 persen.
Hasil survei ini mengindikasikan bahwa budaya berbagi melalui infak dan sedekah telah cukup mengakar di kalangan anak muda.
Namun, partisipasi mereka dalam instrumen filantropi Islam yang membutuhkan perencanaan keuangan lebih matang, seperti wakaf, qurban, dan zakat maal, masih relatif rendah.
Survei juga menunjukkan bahwa tingkat partisipasi Ziswaf cenderung meningkat seiring bertambahnya usia.
Kelompok Baby Boomers dan Generasi X secara konsisten mencatat angka lebih tinggi dalam praktik qurban, wakaf, maupun zakat maal dibandingkan generasi yang lebih muda.
Temuan tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang bagi lembaga pengelola zakat dan wakaf untuk memperluas edukasi kepada generasi muda.
Terlebih, survei yang sama menemukan bahwa minat masyarakat terhadap wakaf uang sebenarnya cukup tinggi, mencapai 72,3 persen, meski realisasi wakaf masih tergolong rendah.
"Jadi saya melihat ada faktor selain literasi keagamaan tapi saat yang bersamaan mungkin kegairahan beragama di kalangan Gen Z secara keseluruhan harus lebih ditingkatkan," ucap Burhanuddin.
Dengan jumlah Gen Z yang terus bertambah dan mulai memasuki usia produktif, peningkatan literasi keagamaan dan filantropi Islam dinilai menjadi faktor penting untuk mendorong partisipasi mereka dalam berbagai instrumen ZISWAF di masa mendatang.
"Jadi ini perlu jadi masukan khusus terutama di segmen pemilih muda supaya literasi keagamaan berkaitan dengan Ziswaf, kegairahan mereka untuk ber-ziswaf itu perlu dinaikkan," katanya.
Ditemui di acara yang sama, Deputi I Baznas RI, Arifin Purwakananta menjelaskan, rendahnya angka ber-Ziswaf kalangan Gen-Z disebabkan oleh perilaku Gen-Z di era belakangan ini. Apalagi, sekarang ini Gen-Z lebih banyak bermain gadget daripada menghadiri kajian keagamaan.
"Juga, saya kira ini karena adanya penurunan di kelas menengah yang nyata dari survei-survei ekonomi itu juga mungkin akan menekan kelompok tertentu termasuk Gen-Z sehingga mereka turun perilaku berdonasinya," jelas Arifin. (*)
Tags : zakat, gen z, milenial, ziswaf, sedekah, baznas,